Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sosok Retna Dyah Radityawati, Arkeolog yang Konsen di Rembang Pecahkan Permasalahan Berkat Gabung di Komunitas

Wisnu Aji • Jumat, 29 September 2023 | 16:54 WIB

 

PROFESI LANGKA: Retna Dyah Radityawati berada di Museum RA Kartini Rembang.
PROFESI LANGKA: Retna Dyah Radityawati berada di Museum RA Kartini Rembang.

Retna Dyah Radityawati menjadi satu-satunya arkeolog di Rembang.

Namun, dia tak merasa sendiri. Sebab, gabung di komunitas para arkeolog dan ahli sejarah.

Para rekannya itu, juga sering membantu memecahkan masalah jika ada problem yang dia alami.

WISNU AJI, Radar Kudus, Rembang

MENGENAKAN baju blus warna krem dipadukan dengan rok batik, Retna Dyah Radityawati duduk di kursi ruang Musuem RA Kartini.

Dia dibuk menata buku yang berisi penjelasan-penjelasan koleksi museum. Termasuk perjuangan RA Kartini.

Baca Juga: Catat! Tak Lagi Gratis, Segini Biaya Sewa Penggunaan Lapangan Sepakbola di Stadion Krida Rembang

Sembari memilah-milah buku sesuai judul, ibu muda ini mengawasi pekerjaan penambahan lighting, melengkapi caption koleksi, pengecatan, serta memantau koleksi museum baru berupa baju, bintang penghargaan, hingga foto keluarga Soesalit Djojoadhiningrat -anak tunggal RA Kartini.

Nana -sapaan akrabnya, memang aktif menjadi tim ahli cagar budaya, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, anggota arkeolog Indonesia, dam Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Dengan begitu, dia punya berbagai pengalaman kecagarbudayaan dan sejarah.

Baca Juga: Tok! Pemkab Bakal Pasang Tarif Penggunaan Fasilitas Olahraga di Stadion Krida Rembang, Ini Nominalnya

Dia juga sering menjadi pemateri bimbingan Teknik (bimtek) cagar budaya, bimtek penelusuran sejarah, workshop bangunan gedung cagar budaya, workshop konservasi arsip, sertifikasi TACB, penguji kompetensi pamong budaya bidang kesejarahan, pelatihan adaptive re use bangunan cagar budaya, pelatihan fotografi cagar budaya, serta pelatihan mengintegrasikan data sejarah dalam perencanaan kota.

Baca Juga: Mesin Boiler Pabrik di Rembang Meledak, Lima Pekerja Terkena Semburan Uap Air Panas, Begini Kejadiannya

Karyanya juga banyak. Di antaranya, buku Tata Letak Kompleks Makam Sunan Kudus, Refleksi Stratifikasi Sosial Masyarakat Kudus Abad XIV-XV (Kajian Arkeologi Gender); Perubahan Tata Ruang Kota dan Kehancuran Identitas Kota (kasus di Lasem 1970-1991), buku hasil penelitian DAS Bengawan Solo Kaitannya dengan Komoditas Perdagangan Masa Klasik, Situs Plawangan Jejak Budaya Maritim, Silisilah RA. Kartini dan R.M.A.A. Djojoadiningrat, serta Mengenal Situs Perahu Kuno Punjulharjo.

”Saya di arkeologi lebih ke penelitian. Kami di dunia arkeologi mengangkat sebuah sejarah peradaban kehidupan manusia,” kata perempuan asal Kecamatan Batangan, Pati, ini, kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Baca Juga: Selamat! Istri Bupati Rembang Hasiroh Hafidz Dikukuhkan sebagai Bunda LiterasiDia menjelaskan, di Ikatan Arekolog Indonesia (IAI) sering sharing dengan para anggota.

Misalnya, ada permasalahan temuan arkeologi di suatu daerah, seperti di Kecamatan Lasem, Rembang, bisa dikaji bersama.

Nana menjadi satu-satunya arkeolog di Kabupayen Rembang.

Tak punya teman satu profesi.

Baca Juga: Warga Mondoteko Tewas usai Ditabrak Bus Widji Lestari di Pantura Rembang : Sang Sopir Kini Jadi Tersangka

Dengan gabung di IAI itu, dia pun merasa tak sendirian.

Begitu pun peran aktifnya di TACB. Banyak capaiannya.

Jika ada permasalahan di lapangan atau temuan, seperti saat ada proyek revitalisasi berkaitan cagar budaya juga selalu sharing dengan para anggota.

”Contoh saat kasus penataan wilayah di Lasem. Dulu sempat ramai. Sejumlah orang ada yang menghujat," katanya.

Baca Juga: Pemkab Rembang bakal Hapus Retribusi KIR, Jasa Tera hingga Layanan Terminal, Ini Alasannya

"Alhamduliah melalui rekomendasi dari ahli cagar budaya yang juga anggota TACB, masalahnya terpecahkan,” ungkapnya.

Kiprahnya patut diacungi jempol.

Total sudah ada 54 kajian rekomendasi cagar budaya.

Meliputi bangunan, struktur kawasan, dan situs benda. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
#rembang #ra kartini #ahli sejarah #cagar budaya #arkeolog