Tak semua pelaku usaha tekstil lokal bisa bertahan di tengah gencarnya industri modern. Tapi Aris Subagio membuktikan. Selama 13 tahun dia tetap menggeluti usaha tenun Troso. Bahkan, penjualannya masih stabil hingga bisa ekspor.
NIBROS HASSANI, Jepara, Radar Kudus
TUMPUKAN kain berderet di ruang tamu milik Aris Subagio, pemuda asli Pecangaan, Kabupaten Jepara. Tak banyak yang tahu, setiap kain yang berbaris itu, dihargai sekitar Rp 1 juta untuk yang sutra. Dan sekitar Rp 120 ribu untuk yang kain biasa.
Kain itu tenun Troso. Tenun khas Jepara. Bahan kain sutra yang lembut itu, kerap dipilih pebisnis dan pejabat untuk tampil dalam acara penting.
Tak hanya lokal, kain itu juga sempat berlalu lalang di pasar tekstil Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Bali.
Aris Subagio, salah satu pemuda asli Jepara yang masih memertahankan usaha kain tenun itu. Dibanding pengusaha tenun lain yang kukut, usaha tenun Bagio (panggilan akrab Aris Subagio) ini masih berjalan.
Pemuda yang sudah berkeluarga ini, omzetnya bisa mencapai ratusan juta jika pesanan sedang ramai. Usaha itu, juga sudah dijalankan sejak 13 tahun lalu. Maklum, keluarganya juga ada yang berlatar pengusaha.
Ingin berbeda dengan sebelumnya, Bagio pernah memasarkan produknya itu secara online.
”Pasa sekitar 2013 lalu, saat itu internet belum terlalu ramai seperti sekarang. Tapi saat itu order dari luar sudah banyak. Saat ini saya malah kewalahan. Akhirnya ya saya tinggalkan sementara ini," jelas pria dengan anak satu tersebut.
Ia mengaku, tenun Troso termasuk yang terdampak inflasi global dan perang Rusia-Ukraina. Untuk itu, orderan ekspornya melambat. Ia juga pikir-pikir bila ada pesanan, tapi terlalu banyak cost-nya.
Melihat celah, ia kini mengembangkan pasar lokal dalam negeri. Seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Bali.
Ia mengaku, tenunnya banyak digunakan oleh orang Bali juga. Ia mempekerjakan belasan orang yang menenun.
Ia juga menerima tenun dari buatan warga sekitar bila ada pesanan yang banyak.
Bagio beruntung bisa bertahan di usaha tekstil ini. Kata Bagio, resep untuk bertahan di usaha ini, menjaga amanah dan kestabilan harga.
Selain itu, dia tidak lupa berinovasi seperti mengikuti perkembangan teknologi.
”Selain itu, harus berani mengembangkan pasar, meski harus babat alas. Saya tak meremehkan pasar lokal,” imbuhnya.
Bagio merasa bangga menjadi salah satu pengusaha tenun yang bertahan. Ia berharap tenun Jepara terus bisa lestari.
Sebagai pengusaha, ia juga melihat tenun Troso akan selalu laku di pasaran, baik nasional maupun global. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa