Inisiatif dari Salma Aulia Ramadhani, pelajar asli Jepara untuk memanfaatkan limbah mengantarkannya jadi pemenang medali emas dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Salma membuat dakon portabel, dakon tekuk yang lebih praktis dan bisa di bawa kemana-mana dalam bentuk tas. Dakon itu ia buat dari limbah mebel yang ada di sekitarnya.
NIBROS HASSANI, Jepara, Radar Kudus
PERMAINAN tradisional itu tampak lebih mirip tas ketimbang dakon. Berbentuk kotak dari kayu jati. Tas itu juga telah dilengkapi pouch kecil dan sling bag dari limbah kulit.
Tak banyak yang tahu, dakon itu terbuat dari limbah kayu jati. Ketika dibuka, ada biji kopi yang dapat digunakan sebagai kecik atau kuwuk.
Inovasi itu hasil kerja keras dan dedikasi seni dari pelajar asal Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Jepara, Salma Aulia Ramadhani. Salma—panggilan akrabnya, mengaku terinspirasi dari limbah mebel sekitarnya. Kebetulan orang tuanya pengusaha mebel.
Pelajar asal SMAN 1 Tahunan itu melihat limbah kayu sangat banyak. Bisa dimanfaatkan. Lalu ia terinsipirasi untuk mengolah limbah kayu tersebut menjadi permainan tradisional dakon Apalagi kota kelahirannya terkenal oleh dunia dengan mebel jati.
Disisi lain, pemanfaatan limbah mebel bisa berdampak pada lingkungan di sekitarnya. Sehingga, produk buatan Salma tak hanya membawa nilai hiburan, namun ramah lingkungan dan sustainable.
Dari segi market, Salma melihat kebanyakan dakon di pasaran kurang portable dan tidak praktis. Sehingga permainan itu hanya bisa dilakukan di tempat terbatas.
Namun dakon yang dibuat Salma bukan dakon biasa. Dakon yang dibuat Salma dapat dilipat dan praktis. Bisa dibawa kemana-mana. Sehingga bermain dakon tidak hanya di dalam rumah namun juga di luar rumah.
Dakon itu juga bisa jadi tas selempang atau lepas pasang. Selain dakon dari limbah dan kulit kayu, ia menggunakan kuwuk dari biji kopi tempur.
“Kalau biasanya kuwuk kan diambil dari kerang di pantai, kalau saya pilih biji kopi tempur. Kopi tempur juga khasnya Jepara,” jelasnya.
“Saat itu kan tema lombanya permainan tradisional yang masih ikonik di Indonesia. Melihat potensi limbah kayu banyak sekali di rumah. Kebetulan orang tua juga pengusaha mebel, jadi akhirnya coba bikin itu,” kata Salma mengenang awal-awal produksi dakon kreasinya.
Ia merasa bangga dan senang bisa berprestasi untuk daerahnya.
“Saat presentasi Alhamdulillah lancar. Saya mempresentasikan produk saya dengan jelas dan juri suka. Para juri juga tertarik dengan produk saya dan suka dengan cara saya presentasi produk,” jelas Salma.
Ia mengaku, tidak mudah melalui lomba hingga meraih medali emas nasional. Ide juga tidak muncul begitu saja. Meski begitu, ia bersyukur mendapat dukungan dari orang tua dan sekolahnya.
Tak hanya itu, Ia mengajak teman-teman lain agar terlibat aktif dalam pengelolaan limbah di lingkungan sekitar.
Ia juga mendorong teman-teman lain sepantarannya untuk berprestasi di bidang masing-masing. Rencananya, ia ingin memasarkan produk itu lebih lanjut. Bahkan dikembangkan di pasar internasional kalau perlu.
Artikel ini disertakan untuk lomba Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) demi Pelestarian Lingkungan.
(*/zen)
Editor : Ali Mustofa