PATI - KH. Abdul Ghoffar Rozin atau Gus Rozin memiliki gagasan besar memajukan Nahdlatul Ulama (NU). Putra mantan Rais Am PBNU KH. MA. Sahal Mahfudh itu ingin kehadiran NU dapat dirasakan masyarakat.
Di komplek Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen, Margoyoso, Pati itu Gus Rozin duduk. Di sanalah putra dari alm K.H. Mohammad Achmad Sahal Mahfudh itu tinggal. Rumah sederhana tidak terlalu besar. Ruang tamunya terbagi dua. Di sisi barat ada sofa dan meja. Sedangkan di sisi timur pintu masuk tergelar karpet untuk ngobrol lesehan. Juga menjadi tempat salat bagi tamu yang sowan.
Gus Rozin memang banyak beraktivitas di Jakarta. Dia saat ini mengemban tugas sebagai Katib Syuriah PB NU.
Juga Ketua Majelis Masyayikh Pesantren Indonesia. Sebuah lembaga baru turunan dari UU Pesantren.
“Baru pulang dari Jakarta, dikejar waktu ini persiapan untuk Munas Alim Ulama dan Konbes NU,” ujarnya kepada wartawan Radar Kudus.
Aktivitasnya banyak di Jakarta. ”Dulu waktu masih di RMI dan juga staf khusus presiden hingga kini di PBNU dan majelis masyayikh,” kata Gus Rozin membuka obrolan saat Jawa Pos Radar Kudus berkunjung di kediamannya akhir pekan kemarin.
Karena kesibukannya yang banyak di Jakarta itu, ada salah satu pegawai Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) tak mengenalnya. Sehingga pengalaman itu jadi cerita lucu.
Cerita itu terkait Gus Rozin yang menjabat sebagai rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA), namun jarang ke kampus. Karena kesibukannya yang lain.“Waktu itu saya datang ke kampus. Mungkin itu security baru ya. Saya ditanya mau ketemu siapa ya. Mungkin dikira saya itu tamu di kampus tersebut,” kata Gus Rozin sambil tertawa mengingat cerita itu.
Selain kesibukan di majelis masyayih dan PB NU, saat ini Gus Rozin juga sedang giat keliling bersilaturahmi ke Majelis Wakil Cabang (MWC) NU di seluruh kabupaten /kota di Jawa Tengah.
Lulusan S-2 Monash University Australia itu bakal maju sebagai kandidat ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Tengah.
“Ya keliling silaturahmi ke MWC-MWC yang ada di kecamatan, untuk berkenalan. Saat ini saya sudah berkeliling sekitar 400-an MWC. Hitungan kami nanti ada sekitar 500-an lebih MWC yang akan memilih. Jawa Tengah memang memiliki basis besar kedua setelah Jawa Timur,” kata Gus Rozin.
Untuk diketahui para pengurus MWC ini nantinya memberikan suara pada pemilihan ketua PW NU. Pada tahun-tahun sebelumnya pemilihan hanya diikuti oleh pengurus cabang di kabupaten/ kota.
Dalam silaturahminya ke pengurus-pengurus MWC itu, Gus Rozin menawarkan gagasan besar yang bisa dilakukan oleh NU Jawa Tengah. Yang menjadi semangat Gus Rozin adalah untuk membuat NU benar-benar kehadirannya dirasakan betul oleh masyarakat. ”NU di Jawa Tengah ini besar, karena itu kiprahnya harus lebih terasa di tengah masyarakat. Tidak hanya tahlilan saja,” kata Gus Rozin.
Gagasan besar yang ditawarkan misalnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat. Gagasan itu sangat perlu dan sangat mungkin diwujudkan.
“Di bidang pendidikan, sekolah-sekolah di bawah LP Maarif ini harus menjadi baik. Yang kurang baik nanti dicarikan sister school atau semacam binaan dengan sekolah Maarif yang sudah baik,” ujarnya.
Dia mencontohkan ada program pertukaran guru. Ada transfer knowledge dan lainnya. Termasuk dicarikan pembanding dengan sekolah non-Maarif yang lebih baik. Nantinya dijalankan secara tersistem. Termasuk di dunia kesehatan. NU bisa berperan dengan membuat klinik-klinik kesehatan di tiap MWC.
”Kami sedang membuka mindset tentang manajemen dan juga rekayasa finansial. Selama ini para pengurus NU di bawah ketika membuat klinik atau rumah sakit misalnya, berfikirnya yang pertama langsung bangunannya dulu,” paparnya.
Selain itu yang menjadi perhatian lain adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat, Gus Rozin melihat warga NU berada di tiga kelompok besar sektor perekonomian yaitu nelayan, petani dan UMKM. “Tiga sektor itu bermasalah dan negara tidak mampu menciptakan ekosistem yang kondusif di tiga sektor itu. Karena itu NU harus hadir di sini,” ungkapnya. (*/zen)
Editor : Dzikrina Abdillah