ACHMAD ULIL ALBAB, Radar Kudus, Pati
NAMA lengkapnya Bukhori Wiryo Satmoko. Biasa dipanggil Mbah Bukhari. Dia sesepuh batik tulis Bakaran yang merupakan batik asli Kabupaten Pati. Nama Bukhori tidak bisa lepas dari batik tulis Bakaran hingga bisa seterkenal hari ini.
Batik ini, memiliki kekhasan dengan ciri khas warna yang gelap dan adanya remekan. Dengan motif-motif yang khas seperti gandrung, bergat ireng, kedelai kecer, gringsing, blebak urang, dan lainnya.
Bukhori merupakan sosok yang cukup berjasa terhadap eksistensi batik tulis Bakaran. Konon pada 1975, batik yang disebut sebagai warisan budaya kerajaan Majapahit ini, nyaris punah dari peredaran pasar. Lantaran minimnya penerus. Karena itu, Bukhori yang mewarisi kemampuan membatik dari leluhurnya, berusaha keras menjadikan batik tulis Bakaran kembali hidup.
Bukhori sendiri, generasi kelima pembatik Bakaran. Baginya, melestarikan batik tulis Bakaran menjadi hal yang wajib. ”Ini merupakan warisan budaya leluhur. Harus dilestarikan sampai anak cucu. Batik tulis Bakaran memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kami bersyukur hari ini banyak yang telah mengenal dan menyukai batik ini (barik Bakaran, Red). Selain menjaga warisan budaya, melalui batik ini, juga bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar," kata Bukhori.
Kiprah Bukhori dalam melestarikan batik bakaran telah banyak diakui perajin batik lain. Pria yang memiliki usaha batik dengan merek Tojkro ini, tidak pelit membagi ilmu tentang membatik. Bahkan, motif ciptaannya seperti Mina Tani juga diwakafkan kepada seluruh perajin batik tulis bakaran untuk diproduksi.
Hal itu diakui salah seorang pengrajin batik tulis Bakaran Andreas Agus Wibawa. Dirinya mengaku sangat mengenal dan dekat dengan sosok yang pernah meraih penghargaan Upakarti dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006 tersebut.
”Saya belajar (membatik) dari beliau (Bukhori). Para perajin batik Bakaran saya rasa banyak belajar dari beliau. Yang saya tahu, beliau tidak pelit berbagi ilmu membatik yang baik dan benar. Misalnya soal pewarnaan dan teknik-teknik lain," jelas pria yang mengelola usaha Batik tulis Bakaran Bu Sri P.Sarni ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Pengakuan tentang ketokohan Bukhori sebagai sesepuh dan pelestari batik tulis Bakaran juga diungkapkan Kepala Desa Bakaran Wetan, Juwana, Wahyu Supriyo. Desa ini merupakan pusatnya perajin batik tulis Bakaran.
”Menurut saya, garda terdepan pelestari batik tulis Bakaran ya Pak Bukhari itu. Karena beliaulah yang selalu mengader dan mengajarkan membatik kepada generasi muda dan siapa pun yang minat belajar batik. Hampir bisa dikatakan batik tulis yang ada di Pati semua sumbernya dari beliau," paparnya.
Di Desa Bakaran Wetan saja, ada lebih dari 100 perajin batik tulis Bakaran skala rumahan. Sedangkan perajin besar, ada tujuh orang.
Kini, batik tulis Bakaran telah banyak dikenal. Tidak hanya di Pati, tetapi hingga ke tingkat nasional dan internasional. Batik tulis bakaran juga telah resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2021 lalu. (*/lin) Editor : Kholid Hazmi