VACHRI RINALDY L, Blora, Radar Kudus
PLANGTON Negro Firdaus harus menari berkeliling desa. Sembari menggendong kostum carnival. Dengam pernak-pernik seperti sayap yang berbentuk melingkar. Tingginya sekitar 1,5 meter. Sampai melebihi kepalanya saat ia berdiri.
Tak hanya berjalan. Ia juga harus tampil menari di sepanjang desa yang ada di Nusa Tenggara Timur itu. Kesenian barongan asal Blora tersebut, harus ditampilkan. Plangton pun menunjukkan gerak energiknya. Melentangkan tangan dengan gerak jemari yang tegas. Sesekali ia mengangkat kaki berjoget berjinjit-jinjit.
Ia memang mengajukan tema kostum carnival barongan Blora untuk event yang diadakan Putra-Putri Tari Indonesia itu. Plangton memilih kesenian tari karena memang ia merasa membidangi itu. Sejak kecil ia sudah terjun di dunia seni itu. Maklum, dia dari keluarga seniman. Orang tuanya berlatar belakang penari juga.
Tari barongan merupakan jenis tarian yang kali pertama ia pelajari. Dan, memang sepertinya ia memiliki kecerdasan di bidang gerak tubuh itu. Plangton mengawali debutnya sejak SD. Saat SMP, ia mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Kecintaannya terhadap dunia tari itu pula, membawanya menjadi juara Putera-Puteri Tari Indonesia 2021 tingkat Jawa Tengah.
Selain itu, ia juga sempat dinobatkan sebagai Putra Intelegensia. Sebuah prestasi yang ia raih dalam malam Penganugerahan Pemilihan Putera-Puteri Tari Indonesia di Gedung Sikka Convention Center (SCC) Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, tahun lalu.
Tampil di traditional costume itu, merupakan pengalaman bagi dia. Sejumlah persiapan ia lakukan sebelum mengikuti event sekelas nasional ini. Kostum beserta pernak-perniknya didukung perajin dari Blora. ”Namanya Mas David (pengrajin kostum, Red), dia yang mensponsori kostum itu," kata pria kelahiran 2001 itu.
Ya, kostum itu memang besar. Saking besarnya sampai-sampai menjadi pusat perhatian saat di Bandara Surabaya. Karena ukurannya yang melebihi kapasitas. ”Ya setelah itu dicek terus diperkecil lagi. Dan ada beberapa barang yang tidak saya bawa, karena banyak banget dan besar," kenangnya.
Dari pentas tersebut, ia harus menggendong kostum seberat enam kilogram itu, untuk diarak berjalan sambil menari lebih dari sekitar satu kilometer. Bagi dia, kesenian tari barongan membawakan gerakan yang tegas, berkarakter kesederhanaan, berani, dan kompak. ”Saya menyampaikan kesenian barongan Blora ini, memiliki sifat kekeluargaan dan kesederhanaan," jelasnya.
Semenjak tampil di tradisional costume tersebut, Plangton merasakan berkah. Karena sering mendapat job model ataupun costum carnival.
Setelah pulang dari NTT, dalam sepekan ia bisa mendapat job sampai lima kali. Setiap tampil durasinya sekitar satu jam. ”Setiap hari doping dikerokin. Hahaha…," katanya.
Meski demikian, tidak menyurutkan semangat untuk tetap melestarikan kesenian. Karna seni bagi dia adalah nyawa. ”Sampai sekarang benar-benar harus belajar mengatur waktu saja," jelasnya.
Plangton juga mempelajari genre tarian lain. Mulai tradisional hingga tari kreasi. ”Yang sering aku bawakan tari kreasi baru dan tradisional," imbuhnya. (*/lin) Editor : Ali Mustofa