Di sebelah barat Pasar Hewan Pragola Margorejo terdapat jalan atau gang menuju eks lokalisasi itu. Biasanya ada penjaga di sana. Tarifnya Rp 5 ribuan. Tapi ini tidak ada. Mungkin karena sudah ditutup lokalisasinya.
Tim memasuki gang itu ke arah selatan (menuju LI). Jalannya tidak beraspal. Hanya batu dan tanah. Kondisinya gelap. Tidak ada penerangan jalan. Hanya mengandalkan cahaya bulan dan lampu mobil.
Sudah 2 kilometer (km) tim menempuh perjalanan. Tim berpapasan dengan mobil polisi yang berpatroli. ”Duh. Nanti kalau dicegat bagaimana. Bisa-bisa disuruh puter balik. Gagal memantau LI,” celoteh salah satu tim Jawa Pos Radar Kudus. Tapi ternyata tidak dicegat. Diabaikan.
Setelah 3 km perjalanan ditempuh, dijumpai pertigaan jalan di tengah sawah. Di pertigaan itu, ada bangunan semacam pabrik. Besarnya kisaran 10x30 meter persegi. Tapi tidak ada papan namanya seperti pabrik lain.
Kemudian tim lurus (ke selatan) menuju lokalisasi yang telah ditutup itu. Sekitar 500 meter jalannya menikung ke timur. Terlihat cahaya lampu di ujung jalan itu. Total sekitar 5 km untuk sampai di kompleks LI.
Tampak ada pos jaga petugas gabungan berdiri di pintu masuk. Kisaran enam orang berjaga di sana. Tim turun dari mobil dan menemui petugas itu.
”Mau ngapain, Mas. Malam-malam datang ke sini. LI sudah tutup ini. Tidak baca berita?” tanya petugas itu. ”Saya tidak tahu, Pak. Saya kira ya masih buka. Ternyata sudah tutup dan dijaga petugas,” jawab salah satu tim.
”Kurang lebih dua bulan sudah tutup, Mas. Dalam rangka pemberlakuan PPKM (pembatasan kegiatan masyarakat). Kalau mencari hiburan di rumah saja, Mas,” kata petugas itu.
Tak berhenti di situ, tim mencoba mencari tempat lain yang diduga ada sebaran eks LI. Tim menuju ke warung remang-remang di sekitar SPBU Margerjo. Lokasinya tak jauh dari gang masuk LI. Kisaran 500 meteran menuju ke barat.
Ada lima warung di sana. Satu warung tepat di sebelah timur SPBU itu. Sisanya berjejer di seberang jalan atau selatan SPBU. Adapula pos jaga polisi sekitar 100 meter di arah baratnya.
Tim mencoba mencari informasi di warung kopi sebelah timur SPBU itu. Terlihat empat perempuan dan tiga laki-laki di warung itu. Dua orang dari tim membeli kopi untuk berbaur dengan mereka.
Terlihat pria usia 40 tahunan keluar dari kamar bersama perempuan sebaya pria itu. ”Susuk Rp 15 ribu, lho,” celoteh si pria. ”Iya bentar. Ini lho saya ambilkan,” jawab si perempuan.
Kemudian seseorang yang diduga mami menghampiri tim yang hendak memesan kopi. ”Saake mbak-mbake, Mas. Belum dapat pelanggan ini. Wes nggak apa-apa coba didekati mbaknya. Rp 200-an. Bisa dinego,” kata salah satu perempuan itu. ”Takut, Mi. Nanti digrebek bagaimana? Sebelah ada pos jaga petugas lho?” pancing wartawan ini. ”Ndak apa-apa, Mas. Aman. Ini ada Mas Budi (nama samaran) yang mengondisikan,” jawab mami itu.
Kemudian wartawan ini mendekati salah satu perempuan yang disarankan mami itu. Untuk menggali lebih dalam informasi. Sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya), salah satu tunasusila itu.
”Berapa jadinya, Mbak? Kalau iya main di mana?” tanya wartawan ini kepada Melati.
”Di belakang warung ada kamar itu. Nanti di sana saja. Udah, nggak apa-apa. Aman kok. Ayok tah,” ajaknya.
Wartawan ini deal harga Rp 200 ribu. Kata Melati, yang Rp 35 ribu untuk sewa kamar. Selanjutnya wartawan ini diajak menuju kamar itu. Ukurannya kisaran 2x4 meter persegi. Di depan pintunya ada ember, gayung, dan kran air. Terdapat tempat tidur di sebelah barat. Mepet dengan bangunan warung itu. Lampunya 5 watt. Remang-remang. Suasananya cocok untuk ”mantab-mantab”.
Melati ini menggunakan busana biasa. Hanya kaus merah dan celana jins. Tak seperti tunasusila lain, yang menggunakan serba minim. Saat memasuki kamar, Melati langsung duduk dan membuka baju merahnya itu.
Terlihat tiga tahi lalat pada dua ”gunungnya”. Satu di kiri dan dua di kanan. Juga, ada plester luka di leher sebelah kiri.
Wartawan koran ini mencoba mengorek informasi tentang menutupan LI. Wanita tunasusila (WTS) itu mengaku tidak tahu alasannya. Dia hanya menjawab kemungkinan efek PPKM. ”Wes ayo ndang. Kamarnya ditunggu yang lain ini,” ucapnya.
Wartawan ini masih mengelak dan terus menggali informasi. Menurutnya, belum banyak info yang bisa diambil. ”Saya baru 1,5 tahun (menjadi WTS), Mas. Ini aja di warung mami baru tadi sore. Selama penutupan LI ya begini kerjanya. Cari warung, kos-kosan, dan tempat lain yang menyediakan kamar. Dapat pelanggan ya dari mami di warung dan pelanggan lama. Dipesan lewat WA (Whatsapp). Mami yang di LI sudah tidak ada,” jelasnya.
Dia melanjutkan, teman-temannya yang sebelumnya kerja di LI pindah satu kos-kosan. Letaknya masih di Kecamatan Margorejo. Tak jauh dari Taman Kota Pati. ”Saya sekosan di sana. Kurang lebih 10 orang. Kalau teman-teman yang lain menyebar. Ada yang di Rembang, Jepara, juga Purwodadi. Sistemnya (pesan untuk ”mantab-mantab”) juga sama. Via WA nanti pesan kamar di warung remang-remang atau kos-kosan,” ujarnya.
Melati mengaku tidak bisa pulang ke rumahnya di Jepara. Lebih memilih di Pati. Sudah ada pekerjaan. Soalnya di era pandemi seperti ini, mencari kerja sulit. Selain itu, tidak punya pengalaman kerja.
”Mau ikut pelatihan juga gimana? Nanti ujung-ujungnya nyari kerja lagi. Butuh modal. Ayo, Mas, ndang main. Udah ditelepon maminya,” imbuhnya.
Tak cukup dengan itu, tim kembali melakukan peninjauan di LI keesokan harinya. Sekitar pukul 11.00. Untuk melihat warga lokalisasi lain yang ada di sana. Apakah berdampak atau tidak.
Berbeda dengan malam. Saat siang hari, di kompleks LI ada berbagai aktivitas warga. Terlihat beberapa warga mondar-mandir di lokasi. Adapula bengkel yang mengerjakan perbaikan mobil. Ada juga tukang yang memperbaiki bangunan.
”Kok masih ada aktivitas, Pak? Katanya ditutup?” tanya wartawan ini kepada salah satu penjaga. ”Memang ditutup, Mas. Tapi kan hanya kegiatan prostitusinya. Istilahnya PPKM kan tidak boleh ada karaoke buka. Kalau warga mereka mengemasi barangnya. Ada yang mbengkel. Masak saya larang, Mas. Wong mereka tidak melakukan kegiatan yang melanggar PPKM. Beda cerita kalau mereka masih membuka prostitusi,” jawabnya.
Kemudian wartawan ini mengelilingi kompleks LI. Setidaknya ada 50-an bangunan di sana. Tidak hanya ”mantab-mantab” yang ditawarkan di sana. Ada rumah dijadikan warung makan. Salah satunya Putra Nanda.
Saat ditemui di sana, dia bersama teman perempuannya mengemasi barang-barang di warung itu. Laki-laki usia 24 tahun itu mengangkat satu galon untuk dibawa keluar LI. Dia mengaku mau pindah di sebelah utara Polsek Margorejo.
Dia mengaku tidak bisa pulang ke rumahnya di Surabaya. Sebab, takut disuruh putar balik saat tiba di stasiun atau terminal.
”Takutnya diminta surat vaksin. Malah bolak-balik menghabiskan biaya. Saya belum vaksin,” katanya.
Sebelum tutup, penghasilan warung makannya itu tiap hari memperoleh Rp 200 hingga Rp 500-an. Namun, sejak LI tutup, dia tidak punya penghasilan. Rencananya dia buka warung yang sudah ada sertifikat hak miliknya itu selama 10 tahun. Saat ini baru tiga tahunan.
Sementara itu, Ali, pemilik bengkel yang berada di LI mengatakan, dia sejak 1999 membuka usaha itu. Dia tak mau dipindah. Karena tanah untuk usahanya itu, hak milik.
”Kalau pindah harus ada kompensasinya. Lah ini apa? Tidak ada kejelasan kan. Saya kan tidak buka tempat prostitusi. Tapi bengkel,” imbuhnya. Editor : Ali Mustofa