GOOOL. Suara itu memecah keheningan malam di Rumah Tahanan Kelas IIB Kudus. Beberapa tahanan yang saat itu tidur terbangun. Mereka menggeliat, namun tidur lagi. Sementara itu, narapidana yang menonton televisi semakin menikmati hiburannya.
Suara itu tidak terlalu keras. Tetapi cukup terdengar nyaring oleh dua wartawan koran ini yang malam itu ikut merasakan kehidupan di balik jeruji besi. Noor Syafaatul Udhma alias Mala dan Arina Faila Saufa yang biasa dipanggil Arin, menyaksikan kehebohan di depan televisi tersebut. Ada 12 orang yang menonton tayangan Piala Eropa.
Pihak penjara memasang tujuh televisi di luar sel untuk memberi hiburan dan informasi kepada warga binaannya. Itulah hiburan yang paling populer dan paling bisa dinikmati. Meski demikian tidak semuanya menonton bola. Sebagian menikmati tidur. Sebagian kecil mencari kenikmatan dengan menghadap Tuhan.
JS termasuk orang yang tidak tergoda dengan tayangan bola dan nikmatnya tidur nyenyak. Sekitar pukul 02.00 dini hari itu, dia justru beranjak ke kamar mandi. Dia berwudu dan mengganti kausnya dengan baju koko yang dia gantung di jeruji besi. Sarungnya dirapikan dan kepalanya ditutup kopiyah.
Kelihatannya dia khusyuk sekali. Katanya, dalam kesempatan menjelang Subuh, saat itu dia sedang menjalankan salat tahajud dilanjutkan salat hajat. Sujudnya begitu lama. Usai salat tangannya menengadah, berdoa memohon diampuni segala dosa. Matanya memerah. Wartawan koran ini menyaksikan, air matanya menetes.
Pukul 03.00 makanan sahur diantar ke sel. Namun dia tidak lantas memakannya seperti kebanyakan narapidana. Dia sahur mendekati imsak. ”Agar mendapatkan kesunahan,’’ ujarnya kepada koran ini setelah makan sahur.
Di saat rekan-rekannya sudah sahur, dia melanjutkan doa sambil berzikir. Sayup-sayup dia mengucap Lailahaillah berulang kali. Sesekali terdengar sesenggukan. Setelah itu berganti Allahu akbar. Wartawati Jawa Pos Radar Kudus mendengar dan melihat langsung apa yang dia lakukan. Bulu kuduk terasa berdiri. Doa dibalik jeruji besi begitu menyayat hati.
JS adalah seorang polisi di Jepara. Dia memiliki relasi yang banyak. Meski begitu, dia tidak mendapatkan keistimewaan di dalam rutan. Dia ditempatkan di sel pengasingan yang sempit. Namanya sel Masa Pengenalan Lingkungan Baru (Mapenaling) berisi 11 orang.
Sel ini diperuntukkan bagi tahanan yang baru saja ditetapkan sebagai napi. Sama seperti sel perempuan. Sel ini juga memiliki tempat tidur, almari, dan kamar mandi kecil. Bedanya, sel perempuan lebih rapi dan bersih.
Meski berada dalam satu sel, 11 napi tidur di tempat yang berbeda. Sembilan tidur di atas balai beralaskan kasur tipis, sedangkan dua lainnya meringkuk di lantai. Tidak ada yang istimewa, karena hampir seluruh sel menerapkan hal yang sama.
Salah satu napi mengucurkan keringat. Dia terlihat kurang nyaman dengan tidur di atas lantai. Sesekali berpindah posisi tidur. Terkadang miring ke kanan atau ke kiri. Dia terlihat kepanasan.
Napi itu memiliki tato di kedua lengannya. Tubuhnya gempal dan besar. Dia memiliki postur tubuh yang garang dengan rahang yang besar. Dengkurannya keras. Beberapa kali membangunkan teman sesama napi di selnya.
Di sel yang lain terdengar suara seorang laki-laki membaca Alquran. Bacaannya fasih dan lancar. Dinding penjara memantulkan suaranya. Kesunyian malam itu berubah menjadi dramatis. Ternyata sudah sejam lebih dia membaca ayat suci itu. Ini diketahui wartawan Jawa Pos setelah berhasil menemuinya.
Dia melakukannya secara rutin. Bahkan, saking rajinnya, dia mampu khatam sebanyak lima kali dalam waktu tiga bulan. Tidak banyak orang di luar penjara yang melakukan ibadah seperti ini. Mengejutkan. Penjara membuatnya semakin mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa. ”Saya ingin berbuat amal sholeh di bulan puasa,” kata St, lelaki tersebut.
Lelaki dari Langgardalem, Kecamatan Kota Kudus, ini telah menjalani masa tahanan selama empat bulan. Dengan rincian satu di bulan di polres dan tiga bulan di rutan. Dia terjerat pasal 303 tentang perjudian.
Sebelum di penjara, dia memiliki sebuah pekerjaan. Tukang parkir. Pekerjaan itu, dilakoni bertahun-tahun. Dia tetap menjalani pekerjaan itu meski hidup serba kekurangan. ”Daripada mengemis,” katanya.
Kekurangan itu terus terjadi hingga keluarganya tidak bisa makan dan harus berutang. Tak dapat mencukupi kebutuhan dengan layak, rumah tangganya berakhir di pengadilan. Istrinya menggugat cerai.
Perceraian itu membuatnya frustasi dan mencoba berjudi lewat SMS. Beberapa kali menang membuat dia terus menjalankan aksinya. Namun, polisi mencium keberadaannya. Dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Dia divonis satu tahun penjara.
Dia mengungkapkan penyesalannya dengan memperbanyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Baginya, ketika membaca Alquran terasa lebih damai dan tentram. Itu bisa menghapus kebosanan di dalam sel narapidana yang berisi 7-11 orang. Malah kalau di sel tahanan bisa mencapai 30 orang.
Memang ada juga sel pengasingan yang hanya berisi satu hingga dua orang. Sel ini untuk penghuni yang melakukan pelanggaran. Ukurannya 3x3 meter. Terdapat tempat tidur setinggi paha orang dewasa. Tempat itu yang digunakan napi untuk tidur beralaskan kasur lantai. Tempat tidur itu berhadapan dengan WC dan tempat salat. Lebih sempit dari pada blok wanita dan sel tahanan.
Sel pengasingan, blok wanita, dan blok lelaki terawat dengan baik. Hal itu terjadi karena mereka secara rutin melakukan kebersihan. Setiap pukul 06.30-09.00, kemudian dilanjut pukul 12.00-13.00 dan pukul 16.00-17.00. Sehingga sekeliling rutan bersih dan rapi. Tak ada satu sampah pun yang berkeliaran di teras penjara. Bahkan, taman di sekitar aula pun terawat dan indah.
Selain taman, terdapat pula kamar mandi besar. Tepatnya di belakang aula dan di depan musala. Kamar mandi itu tidak memiliki pintu. Hanya ada tembok pembatas yang berada di sisi kanan dan kiri. Saking besarnya, kira-kira 25 orang dapat mandi secara bersamaan.
Kamar mandi itu biasanya digunakan saat blok lelaki dibuka. Mereka bisa mandi dengan bebas di sana. Sebagian napi merasa nyaman mandi di sana daripada di sel mereka yang sempit.
Pada saat malam, petugas memperketat penjagaan. Petugas setiap satu jam sekali melakukan patroli keliling. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergiliran untuk memastikan keadaan narapidana. Di blok lelaki ada tiga penjaga. Mereka tidak tidur semalam. Mereka bertugas menjaga dan memastikan penjara dalam keadaan aman. Mereka memastikan napi tidak mencoba kabur atau justru bunuh diri.
Sepanjang malam pintu sel tidak dibuka. Namun berbeda Jumat malam lalu. Pukul 22.00, suara derit sel itu melengking membangunkan napi di bilik yang lain. Rupanya petugas sedang membuka satu sel. Para napi mengintip dari balik jeruji besi. Mereka berdesakan ingin segera tahu keadaan yang terjadi. “Ada tes urine,” kata salah satu napi.
Sebanyak 143 napi disuruh keluar dari sel, kecuali blok perempuan. Tiga napi perempuan itu tetap berada di sel. Hanya para lelaki yang melakukan tes urin. Mereka bergantian memasukkan air seni ke dalam wadah berukuran kecil. Lalu mereka berikan kepada petugas secara bergiliran. Salah satu napi mengaku tidak bisa buang air. Petugas pun menunggu hingga napi siap melakukan tes urine. Tepat pukul 00.00 akhirnya berhasil mengeluarkan air seni. Dia terlihat pucat dan takut.
Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jateng, Bambang Sumardiono datang ke rutan. Dia datang mendadak untuk melakukan tes urine. Dia datang sendiri dengan mengendarai mobil berwarna hitam.
Dalam upaya memberantas handphone (HP), pungli dan narkoba atau Halinar, dia melakukan pemeriksaan dadakan. ”Kegiatan itu adalah salah satu bentuk konmitmen rutan Kudus sebagai salah satu dari tujuh rutan yang siap maju ke tingkat nasional. Bebas dan bersih dari narkoba,” kata Kepala Rutan Kelas IIB Kudus Masjuno.
Tes tersebut belangsung hingga pukul 01.00. Setelah itu, petugas rutan pun melakukan tes urine. Hasilnya nihil. Rumah tahanan dinyatakan bersih dari narkoba. Pantas rumah tahanan ini menjadi percontohan di Jateng. (*/bersambung) Editor : Ali Mustofa