KUDUS – Berawal dari rasa penasaran saat pandemi Covid-19 pada 2020, Helma Susanti berhasil mengembangkan usaha kreatif berbasis ramah lingkungan bernama Godong Salam Ecoprint.
Melalui seni ecoprint, ia mengolah daun dan pewarna alami menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tanpa menghasilkan limbah kimia yang berbahaya bagi lingkungan.
Helma mengaku pertama kali mengenal ecoprint melalui media sosial. Saat itu ia melihat sebuah karya yang sekilas menyerupai batik, namun dibuat dengan teknik yang berbeda.
Rasa ingin tahunya membawanya mengikuti pelatihan daring bersama mentor dari Jakarta, karena kondisi pandemi belum memungkinkan pembelajaran secara tatap muka.
Menurut Helma, ecoprint memiliki daya tarik tersendiri karena seluruh proses produksinya memanfaatkan bahan-bahan alami.
Berbagai media dapat digunakan, mulai dari kain, kulit, kayu hingga kertas.
Sementara pewarna diperoleh dari bahan alam seperti kayu secang, kayu tegeran, maupun rebusan daun.
"Yang membuat saya tertarik karena sumber daya alam di sekitar kita sangat melimpah. Daun ada di mana-mana, limbahnya juga tidak mencemari lingkungan sehingga bisa dikerjakan dari rumah," ujarnya.
Produk yang dihasilkan Godong Salam Ecoprint pun cukup beragam, di antaranya sepatu kulit, tas, mukena, pakaian, kain, topi hingga berbagai aksesori lainnya.
Setiap produk memiliki motif yang unik karena tidak ada susunan daun yang benar-benar sama.
Dalam memilih daun, Helma menjelaskan tidak ada aturan yang terlalu kaku.
Hampir semua daun dapat dicoba selama memiliki kandungan tanin yang mampu menghasilkan warna alami.
Selain itu, bentuk daun yang unik maupun siluetnya juga menjadi pertimbangan artistik dalam proses ecoprint.
Beberapa daun favorit yang sering digunakannya antara lain pucuk daun mangga, daun lanang, tanaman teh-tehan serta bunga kenikir yang mampu menghasilkan warna menarik pada kain.
Proses pembuatan ecoprint, khususnya pada media kain, membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup panjang.
Dimulai dari proses scouring untuk membersihkan sisa bahan kimia pada kain.
Dilanjutkan mordanting agar serat kain mampu menyerap warna, penataan daun, pengukusan, pengeringan, hingga fiksasi sebagai pengunci warna.
Keseluruhan proses dapat memakan waktu sekitar enam hingga tujuh hari.
Sementara itu, media kulit memiliki tahapan yang lebih singkat meski membutuhkan teknik pengukusan yang lebih rumit.
Untuk bahan kulit, Helma memilih kulit domba yang didatangkan dari Yogyakarta karena dinilai lebih lentur dan cocok dijadikan sepatu maupun tas.
Pemasaran produknya dilakukan melalui berbagai platform digital seperti TikTok, Instagram, WhatsApp, serta galeri Dekranasda Kudus dan Kirana.
Selain menjual produk, Helma juga rutin menerima kunjungan edukasi dari sekolah-sekolah yang ingin mengenalkan ecoprint kepada para siswa.
Dukungan pemerintah daerah juga dirasakan cukup besar.
Selain bergabung dalam Dekranasda Kudus, Helma yang kini menjabat sebagai Ketua Komunitas Ecoprint Kudus turut menjadi bagian dari Komunitas Fashion Kudus bersama pelaku batik, bordir, dan konveksi.
Tak hanya itu, Helma juga telah mengantongi sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai mentor ecoprint.
Baca Juga: Mengenal Ecoprint, Seni Mencetak Daun di Atas Kain yang Ramah Lingkungan dan Bernilai Tinggi
Sertifikasi tersebut menjadi bukti kompetensinya dalam mendampingi masyarakat maupun pelaku UMKM yang ingin mempelajari teknik ecoprint secara profesional.
Ke depan, Helma berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan ecoprint sebagai peluang usaha kreatif berbasis lingkungan.
Ia juga bercita-cita memiliki galeri khusus ecoprint agar masyarakat semakin mengenal produk ramah lingkungan karya anak bangsa.
Menurutnya, ecoprint bukan sekadar menghasilkan karya seni, tetapi juga menjadi cara memanfaatkan kekayaan alam secara bijak sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.(Sakdiyah)
Editor : Ali Mustofa