GROBOGAN – UMKM batik baru asal Grobogan, Setiti, kembali menunjukkan konsistensinya dalam menghidupkan tradisi lewat wastra nusantara.
Meski sempat gagal tampil di ajang Grobogan Expo 2025 karena acara terpaksa dibubarkan pada 30 Agustus akibat adanya aksi demo, Setiti tak kehilangan semangat.
Rencana awal, Setiti akan memamerkan koleksi busana batik kekinian pada 31 Agustus sore.
Baca Juga: Pemkab Grobogan Alokasikan Rp 3,5 Miliar di APBD-Perubahan untuk Perbaikan Sekolah Rusak
Show ini seharusnya menghadirkan belasan model, baik model profesional yang kerap menjadi muse, maupun masyarakat umum yang direkrut lewat seleksi terbuka.
Saat itu konsepnya sederhana, siapa saja yang membeli produk Setiti, berhak tampil memeragakan koleksi dengan sentuhan styling khas Setiti.
“Dari sana kita bisa membantu mereka menemukan personal style-nya, tapi tetap sesuai dengan signature Setiti. Mereka kita latih catwalk, kita siapkan styling rambut, aksesori, hingga koreografi,” ungkap founder Setiti, Ulfa Soepoedjo.
Karena batal tampil di expo, Setiti menyulap kekecewaan menjadi pengalaman berkesan. Pada 31 Agustus sore, para model dikumpulkan di offline store Setiti.
Di sana, mereka menjalani make up, mix and match kostum, hingga sesi photoshoot.
Lebih serunya lagi, mereka berjalan kaki bersama dari store menuju Taman Kota Purwodadi sambil melakukan catwalk.
Fotografer turut mendokumentasikan momen ini, membuat jalan santai berubah menjadi mini fashion parade yang penuh warna.
Baca Juga: Aparat Gabungan Gelar Patroli Skala Besar di Grobogan Pasca Unjuk Rasa
“Banyak yang bukan pure model, tapi justru semangat mereka luar biasa. Selain jadi obat kecewa karena batal tampil, kegiatan ini membuat pecinta kain bisa menemukan personal style-nya sendiri. Dari sini lahirlah komunitas baru yang kami sebut Sanak Kadang Setiti,” imbuhnya.
Komunitas ini beranggotakan orang-orang yang tidak sekadar memakai kain batik, tetapi juga merasakan maknanya.
“Mereka tidak hanya mengenakan pakaian, tapi sejarah. Membawa tradisi, sekaligus membangun masa depan melalui kain,” tegasnya.
Tak disangka, langkah alternatif ini justru membuka peluang lebih besar. Setiti resmi diundang untuk tampil di ajang bergengsi Festival Payung Surakarta 2025 pada 7 September mendatang.
Festival ini merupakan agenda tahunan berskala nasional yang sudah lebih dari satu dekade konsisten digelar di Kota Batik, Surakarta.
“Ini kehormatan bagi Setiti. Kami masih UMKM baru, bahkan belum genap satu tahun di industri fashion etnik. Tapi sudah dipercaya tampil di festival sebesar ini. Jujur ada rasa insecure, tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali,” ujarnya.
Capaian ini makin menguatkan harapan agar Setiti bisa membawa nama baik UMKM Grobogan, bahkan hingga tingkat internasional. Apalagi, baru-baru ini produk Setiti sudah terbang ke Belanda.
Salah satu mahasiswa KKN UNNES yang pernah belajar batik di Setiti, kini tengah menempuh studi S2 di Belanda, turut mengenalkan batik Setiti ke Eropa.
Dari berbagai koleksi, ada yang cukup mencuri perhatian.
Misalnya motif batik Tapak Bimo khas Grobogan yang dipadukan dengan bawahan dan aksesori berbahan perca untuk mengurangi limbah tekstil.
Ada pula sarung lilin motif Setiti Mono yang dipadukan dengan atasan kuning cerah serta twilly sebagai ikat rambut.
Kombinasi itu memperlihatkan bagaimana batik bisa tampil kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Setiti pun semakin mantap dengan misinya yakni menghidupkan tradisi melalui kain, menghadirkan batik bukan hanya sebagai busana, tapi juga identitas budaya. (int)
Editor : Ali Mustofa