Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kebaya Warisan Eyang, Klasik yang Kembali Hidup di Tangan Sang Cucu

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 18 Juli 2025 | 16:58 WIB

 

VINTAGE: Kebaya eyang yang masih anggun dipakai di tiga dakade ini.
VINTAGE: Kebaya eyang yang masih anggun dipakai di tiga dakade ini.

DI TENGAH gempuran mode instan dan kebaya pabrikan massal, justru di balik lemari tua kayu jati milik eyang tersimpan puluhan kebaya.

Kainnya sudah tak muda lagi, namun masih tampak anggun dan terawat. Kebaya itu kini dikenakan, bukan oleh Eyang tapi oleh cucunya.

Hal itu dilakukan perias muda sekaligus pengamat fashion di Grobogan, Ulfa Soepoedjo.

Justru menemukan identitas modenya dari satu lemari tua milik sang eyang.

Di dalamnya tersimpan puluhan kebaya kutu baru klasik, yang usianya bahkan ada yang lebih tua dari dirinya.

“Ini bukan sekadar koleksi, ini bagian dari jati diri,” tutur Ulfa.

Kebaya itu bukan sembarang pakaian. Sebagian besar masih dijahit dengan tangan, bukan mesin.

Detailnya rapi, ronceannya halus, dan setiap potongan menyimpan kisah.

“Kalau dilihat dari jenis jahitannya, jelas ini kebaya era dulu, belum industrial. Rasanya lebih personal,” ujarnya.

Ia tak ragu memodifikasi jahitan agar pas di tubuhnya, atau memadukan kebaya lawas dengan alas kaki modern dan tas rajut.

Kadang, ia menambahkan aksesori etnik seperti bros besar atau selendang tenun, menciptakan tampilan yang klasik sekaligus edgy.

Bahan kebaya warisan sang eyang pun bervariasi, mulai dari sutra, sifon bermotif, hingga brokat buklat yang kini jarang ditemukan.

Warnanya lembut, cenderung natural—mewakili selera perempuan Jawa tempo dulu yang anggun tapi tak mencolok.

"Aku belum nemu lagi toko yang jual bahan senyaman ini. Dingin, jatuh, dan gak gerah," ucapnya.

Meski tergolong pakaian formal, bagi Ulfa, kebaya lungsuran ini tak hanya dipakai untuk acara adat.

Kadang saat sedang rindu sang eyang, ia mengenakannya hanya untuk jalan sore atau menikmati teh di teras.

Dalam beberapa kesempatan, seperti saat menjadi juri lomba fashion.

Atau memimpin prosesi budaya, kebaya itu menjelma sebagai simbol keanggunan dan pengalaman personal.

Perawatan koleksi ini juga tak main-main.

Ia masih mengikuti cara sang eyang: mencuci dengan lerak, sabun tradisional dari tumbuhan tropis, dan menjemurnya di tempat teduh agar warna dan serat kain tetap terjaga.

Ulfa mengaku kini memiliki satu lemari khusus untuk kebaya lungsuran, lengkap dengan penataan khusus agar kain tidak cepat rusak.

“Eyangku orangnya primpen banget. Jadi aku merasa punya tanggung jawab untuk menjaga semua ini dengan cara yang sama,” katanya.

Kebaya lungsuran Eyang Ulfa tak hanya berbicara soal kain dan jahitan.

Ia bercerita tentang kontinuitas, karakter, dan cara mencintai budaya lewat tubuh sendiri.

Dalam dunia fashion yang cepat berubah, Ulfa menunjukkan bahwa fashion paling kuat justru lahir dari akar yang paling dalam dan kadang, dari lemari nenek kita sendiri. (int)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #fashion #kebaya #lemari #warisan