Katy Perry Kecam Penggunaan Firework dalam Video Serangan Iran, Tegaskan Musiknya Bukan untuk Perang

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:40 WIB
katy perry.
katy perry.

RADAR KUDUS - Penyanyi pop dunia Katy Perry menyampaikan keberatan keras setelah lagu hitnya, Firework, digunakan sebagai musik latar dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok resmi Gedung Putih dan berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Penyanyi asal Amerika Serikat itu menegaskan tidak pernah memberikan izin maupun persetujuan atas penggunaan lagunya dalam konteks tersebut.

Kontroversi bermula ketika akun TikTok Gedung Putih mengunggah video yang menampilkan rekaman serangan militer dengan iringan lagu Firework. Video itu disertai keterangan yang merujuk pada Iran telah menerima peringatan, sementara bagian lirik "boom, boom, boom" dari lagu tersebut dipakai sebagai latar suara.

Unggahan tersebut dengan cepat memicu perhatian publik dan memunculkan beragam reaksi di media sosial. Sebagian pengguna menilai penggunaan lagu populer dalam tayangan bernuansa militer tidak sesuai dengan pesan asli yang dibawa karya tersebut.

Dua hari setelah video tersebut beredar luas, Katy Perry akhirnya menyampaikan tanggapannya melalui akun X. Ia mengaku terkejut sekaligus kecewa karena lagunya digunakan tanpa sepengetahuan maupun persetujuannya.

Dalam pernyataannya, Perry menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah dimintai izin dan tidak mendukung penggunaan Firework untuk mengiringi konten yang berkaitan dengan kekerasan atau operasi militer.

Menurut pelantun Roar itu, Firework sejak awal diciptakan sebagai lagu yang membawa pesan harapan, keberanian, pemulihan, serta dorongan agar setiap orang mampu bangkit menghadapi masa-masa sulit. Karena itu, ia menilai penggunaan lagu tersebut dalam video yang menampilkan kehancuran akibat konflik bersenjata bertolak belakang dengan makna yang ingin disampaikan.

Katy Perry juga menegaskan bahwa seluruh karya musiknya dibuat untuk menyatukan orang, menginspirasi, dan memberikan semangat, bukan untuk merayakan peperangan ataupun dijadikan simbol dalam konflik bersenjata.

Pernyataan tersebut memicu diskusi luas di media sosial. Sebagian besar penggemarnya memberikan dukungan terhadap sikap Perry, sementara sebagian pengguna lain memunculkan pandangan berbeda mengenai penggunaan karya musik dalam konten politik maupun militer.

Respons juga datang dari Wakil Asisten Presiden Amerika Serikat, Kaelan Dorr. Melalui media sosial, ia membalas unggahan Perry dengan membagikan cuplikan video musik Part of Me yang dirilis pada 2012. Video tersebut memang menampilkan Katy Perry memerankan tokoh yang mengikuti pelatihan Korps Marinir Amerika Serikat sebagai bagian dari alur cerita musik video tersebut.

Unggahan tersebut kembali memicu perdebatan mengenai perbedaan antara karya fiksi bertema militer dengan penggunaan lagu dalam materi komunikasi resmi pemerintah yang berkaitan dengan operasi militer nyata.

Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) sebelumnya mengumumkan telah melaksanakan rangkaian operasi militer terhadap sasaran yang disebut berkaitan dengan ancaman terhadap keamanan pelayaran di kawasan Timur Tengah. Operasi tersebut diumumkan melalui saluran resmi pemerintah Amerika Serikat.

Peristiwa ini kembali mengangkat pembahasan mengenai penggunaan karya seni dalam konteks politik dan pemerintahan. Secara umum, penggunaan musik dalam unggahan pemerintah maupun kampanye politik sering memicu polemik ketika pencipta lagu merasa pesan karya mereka tidak sejalan dengan konteks penggunaannya. Sejumlah musisi internasional dalam beberapa tahun terakhir juga pernah menyatakan keberatan atas penggunaan lagu mereka dalam kegiatan politik atau komunikasi publik tanpa persetujuan langsung.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai perubahan atau penghapusan video yang menjadi sumber kontroversi tersebut. Sementara itu, pernyataan Katy Perry terus menjadi sorotan publik karena menegaskan kembali posisi sang penyanyi bahwa musik seharusnya menjadi medium yang membawa harapan, persatuan, dan kemanusiaan, bukan dikaitkan dengan konflik bersenjata.

Editor : Mahendra Aditya
Katy Perry Firework Gedung Putih TikTok donald trump iran