RADAR KUDUS — Sarwendah Tan diduga memanfaatkan buzzer untuk memenuhi video permintaan maafnya di media sosial dengan komentar positif, guna menjaga citranya di tengah perdebatan dengan Ruben Onsu.
Isu ini menjadi viral setelah akun Threads mengungkap tangkapan layar yang menunjukkan instruksi berbayar, yang langsung memicu reaksi sedih dan sindiran dari netizen.
Berdasarkan informasi yang bocor ke media sosial, Sarwendah diketahui membayar Rp350 untuk setiap komentar positif mengenai video permintaan maafnya di akun TikTok pribadinya.
Dalam tangkapan layar yang menunjukkan tugas para buzzer yang beredar, mereka diminta untuk menulis kalimat yang memberikan semangat dan dukungan untuk Sarwendah dengan narasi yang dikembangkan agar tidak sama dengan komentar lainnya.
Baca Juga: Viral! Tiktoker Akui Salah dan Minta Maaf Usai Konten Menirukan ABK
Beberapa contoh narasi yang ditampilkan antara lain, "Semoga jadi pembelajaran yang baik ke depannya. Tetap semangat ya" hingga "Mengakui kesalahan dan meminta maaf itu tidak mudah. Salut atas keberaniannya".
Instruksi tersebut tertulis jelas dengan keterangan "Like+Komen Positif" dengan imbalan Rp350 per komentar, yang bahkan tidak sampai seribu rupiah.
Usaha Sarwendah untuk mendapatkan simpati publik dengan merilis video permintaan maaf justru berujung pada polemik baru karena dituduh menggunakan buzzer.
Dugaan tersebut mencuat ketika rate card dan contoh narasi komentar positif yang harus ditulis oleh para buzzer bocor ke publik, yang kemudian menjadi viral di Threads.
Baca Juga: Kabar Bahagia, Hassan Alaydrus Resmi Menikahi Audrey Jesslyn di KUA
Netizen memberikan respons yang menyedihkan dan menyindir dugaan penggunaan buzzer tersebut karena besarnya bayaran yang bahkan tidak sampai seribu rupiah.
Isu ini viral setelah akun Threads mengungkap tangkapan layar instruksi berbayar, yang memicu kontroversi baru mengenai etika pemanfaatan jasa online untuk mempertahankan citra positif di media sosial.
Tidak hanya karena tidak mau meminta maaf kepada Ruben Onsu, tetapi ibu dua anak ini juga dituduh menggunakan buzzer, yang isu tersebut muncul ketika rate card bocor.
Beberapa contoh narasi yang disiapkan menegaskan upaya terencana untuk menciptakan komentar positif yang terlihat alami tetapi sebenarnya dibayar.
Baca Juga: Jelang Pernikahan dengan Justin Hubner, Jennifer Coppen Gelar Bridal Shower
Respon netizen yang miris terhadap besaran bayaran Rp350 per komentar menunjukkan bahwa masyarakat semakin kritis terhadap praktik menjaga citra positif melalui jasa online yang dianggap tidak etis.
Isu buzzer yang melibatkan Sarwendah menjadi perbincangan hangat di media sosial pada Juni 2026, dengan tangkapan layar instruksi bayaran yang viral di Threads memicu perdebatan tentang batasan etika dalam mempertahankan citra seorang artis di platform digital. (*)
Editor : Anita Fitriani