RADAR KUDUS – Influencer sekaligus figur publik, Na Daehoon, akhirnya mengambil langkah tegas terkait polemik hak asuh dan akses pertemuan anak dengan mantan pasangannya, Jule.
Demi menjamin keamanan serta stabilitas emosional sang buah hati, Daehoon secara resmi mengumumkan pembatasan akses komunikasi maupun pertemuan fisik.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan hukum yang kuat. Daehoon menegaskan bahwa berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkrah), hak asuh penuh atas anak-anak mereka berada sepenuhnya di bawah pengawasannya.
Baca Juga: Dongkrak Pariwisata Jateng, Taj Yasin Atraksi Paralayang di Curug Sewu Kendal
Sebelum keputusan ini ditetapkan, Daehoon mengaku masih memiliki iktikad baik dengan memberikan ruang bagi ibu kandung untuk tetap menjalin hubungan dengan anak-anak.
Namun, ia menyayangkan adanya rentetan peristiwa belakangan ini yang dinilai telah melampaui batas kewajaran.
"Sebagai seorang ayah, kewajiban utama saya adalah menjadi benteng pelindung bagi anak-anak.
Saya melihat ada tindakan yang tidak pantas dilakukan di hadapan anak, serta adanya keterlibatan pihak-pihak luar yang justru memperkeruh konflik pribadi kami," ungkap Daehoon dalam keterangannya.
Keputusan untuk membatasi akses ini disebut sebagai upaya preventif agar anak-anak tidak terpapar pada situasi yang toksik.
Menurut Daehoon, stabilitas psikologis anak adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Ia mengkhawatirkan dampak jangka panjang jika anak-anak terus berada di tengah pusaran konflik yang melibatkan banyak pihak.
Selain fokus pada internal keluarga, Daehoon juga tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terhadap oknum-oknum yang dianggap telah menyerang nama baiknya serta menyebarkan narasi yang tidak benar di ruang publik.
Daehoon menekankan bahwa segala keputusan yang diambilnya telah melalui pertimbangan matang dan konsultasi hukum.
Baca Juga: Hardiknas di Jateng, Ahmad Luthfi Angkat Sekolah Tani Jadi Motor Ketahanan Pangan
Ia berharap semua pihak dapat menghormati privasi anak-anak dan memahami bahwa langkah ini murni diambil demi kepentingan terbaik (best interests of the child).
"Tujuan saya satu: memastikan mereka tumbuh di lingkungan yang aman, tenang, dan sehat secara mental.
Saya tidak akan membiarkan kepentingan pribadi atau ego pihak lain merusak masa depan anak-anak saya," pungkasnya. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna