RADAR KUDUS - Aktor senior Lukman Sardi kembali menegaskan konsistensinya di dunia film horor religi dengan kembali berperan sebagai Romo Rendra dalam sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Lukman Sardi kembali menunjukkan komitmennya di genre film horor religi dengan memainkan kembali karakter Romo Rendra di sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.
Setelah sukses memerankan tokoh pastor eksorsisme Katolik di film pertama Kuasa Gelap (2024), Lukman kini kembali dipercaya sutradara Rizal Mantovani untuk melanjutkan kisah konflik spiritual antara iman dan kekuatan gelap yang jauh lebih dalam dan intens.
Setelah berhasil memerankan pastor yang melakukan eksorsisme Katolik di film pertamanya, Lukman kembali diberikan kesempatan oleh sutradara Rizal Mantovani untuk meneruskan narasi pertentangan antara keyakinan dan kuasa jahat.
Baca Juga: Jerome Kurnia Ungkap Peran Barunya sebagai Eksekutif Produser di Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Kembalinya Lukman Sardi membuat penonton tidak hanya dijanjikan teror, tetapi juga pemaknaan agama dan toleransi yang lebih matang, mengingat film ini mengambil latar agama Katolik dengan prosesi eksorsisme sebagai tulang punggung ceritanya.
Kehadiran Lukman Sardi menjanjikan kepada penonton pengalaman menakutkan dan pemahaman yang lebih dalam mengenai spiritualitas dan toleransi, karena film ini berfokus pada ajaran Katolik dengan ritual eksorsisme yang menjadi inti cerita.
Dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Lukman Sardi beradu akting dengan Jerome Kurnia yang kembali memerankan Romo Thomas, sosok rekan sejawat yang menjadi tonggak penguatan iman dan pertahanan melawan kekuatan jahat.
Di dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Lukman Sardi berbagi layar dengan Jerome Kurnia yang kembali memerankan Romo Thomas, karakter sahabat yang berfungsi sebagai pilar penguatan iman dan pertahanan dari kuasa jahat.
Baca Juga: Sekuel Lebih Gelap, Jerome Kurnia Kembali Perankan Romo Thomas di Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Kali ini, kisah diperluas dengan mengangkat tema praktik pesugihan dan perjanjian yang dilakukan manusia dengan kekuatan gelap, yang digambarkan dalam perspektif Katolik yang lebih tegas dan teologis.
Dalam sekuel ini, narasi diperluas dengan mengeksplorasi tema praktik pesugihan dan perjanjian antara manusia dan kekuatan gelap, yang disajikan dengan sudut pandang Katolik yang lebih jelas dan teologis.
Film ini menampilkan keluarga ternama yang terlibat dalam persoalan spiritual akibat pilihan kekuasaan dan kekayaan, dengan Lukman Sardi dan Jerome Kurnia berada di garda depan sebagai penjaga iman melalui ritual eksorsisme dan doa.
Cerita film ini menggambarkan sebuah keluarga terpandang yang terperangkap dalam masalah spiritual akibat keputusan berkaitan dengan kekuasaan dan harta, dengan Lukman Sardi dan Jerome Kurnia sebagai pengawal iman melalui ritual eksorsisme dan doa.
Lukman Sardi sendiri mengaku sempat khawatir ketika pertama kali terlibat dalam Kuasa Gelap karena mengangkat tema eksorsisme Katolik yang sensitif dan masih jarang diangkat di industri perfilman Indonesia.
Baca Juga: Feby Febiola Balik ke Bioskop Lewat Film Horor Religi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Lukman Sardi mengakui merasakan kekhawatiran ketika pertama kali berpartisipasi dalam Kuasa Gelap karena mengangkat topik eksorsisme Katolik yang sensitif dan tidak umum dalam perfilman Indonesia.
Namun respons penonton yang justru positif membuatnya melihat bahwa film ini bukan hanya sekadar hiburan menegangkan, tetapi juga sarana edukasi tentang perbedaan dan kesamaan keyakina dan membuka ruang dialog toleransi.
Namun, sambutan positif dari penonton membantunya menyadari bahwa film ini lebih dari sekadar tontonan yang menegangkan, melainkan juga sebagai alat pendidikan ringan mengenai perbedaan dan kesamaan dalam keyakinan, serta menciptakan ruang untuk dialog toleransi.
Ia berharap sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dapat kembali menjadi karya yang menghibur sekaligus memberi nilai dan pelajaran, terutama soal konsekuensi ketika manusia mengorbankan iman dan moral demi kekuasaan dan kekayaan.
Baca Juga: Sisca Saras Terjun ke Dunia Horor dalam Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Dia berharap sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah akan menjadi sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai dan pelajaran, khususnya mengenai konsekuensi ketika manusia mengorbankan keyakinan dan moral demi kekuasaan dan kekayaan.
Di sekuel ini, Lukman Sardi kembali bermain di tengah jajaran pemain lintas generasi, seperti Ferry Salim sebagai Halim, Feby Febiola sebagai Linda, serta Venly Arauna sebagai Daniel.
Keberadaan sosok Suster Aloysia yang diperankan Lydia Kandou dan Sisca Saras juga melihatkan spiritual dan psikologis pada konflik yang muncul di dalam keluarga, sehingga peran Lukman Sardi sebagai Romo Rendra tidak hanya menjadi penafsir ritual, tetapi juga penjaga ruang moral dan kepercayaan.
Keberadaan karakter Suster Aloysia yang dimainkan oleh Lydia Kandou dan Sisca Saras menambah elemen spiritual dan psikologis dalam konflik yang terjadi di dalam keluarga, sehingga peran Lukman Sardi sebagai Romo Rendra berfungsi tidak hanya sebagai penafsir ritual, tetapi juga sebagai pelindung moral dan keyakinan.
Kembalinya Lukman Sardi dalam sekuel ini juga disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang membuat penonton memiliki rasa familiar dan kepercayaan terhadap narasi horor yang diangkat dan menguatkan ekspektasi terhadap kualitas akting dan kedalaman karakter.
Baca Juga: Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Tayang 2026, Ini Daftar Pemain Film Sekuel Horor Religi
Kembali hadirnya Lukman Sardi dalam sekuel ini juga dianggap sebagai salah satu penyebab penonton merasa akrab dan percaya pada cerita horor yang diusung, sekaligus meningkatkan harapan terhadap kualitas akting dan kompleksitas karakter.
Dari aspek produksi, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tetap dibuat dengan bimbingan dari pihak Gereja Katolik, termasuk Romo Rocky Wowor, agar unsur religius dan upacara yang disajikan tetap sejalan dengan ajaran serta etika Katolik.
Ini menunjukkan bahwa Lukman Sardi bukan hanya berfungsi sebagai karakter fiksi, tetapi juga sebagai simbol representasi yang diharapkan dapat memperkuat penghormatan terhadap keyakinan tertentu, sembari mengurangi kemungkinan kesalahpahaman di kalangan masyarakat.
Pada film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Lukman Sardi menunjukkan lagi bahwa ia mampu menghubungkan unsur horor, spiritualitas, dan pesan moral dalam satu karya film yang mendebarkan, sekaligus mengajak penonton Indonesia untuk merenung lebih dalam. (An)
Editor : Anita Fitriani