RADAR KUDUS — Selebgram kenamaan Emy Aghnia, atau yang akrab disapa Aghnia Punjabi, kini tengah menjadi pusat gelombang kritik pedas dari warganet.
Kecaman ini mencuat setelah ia mengunggah sebuah konten video di platform media sosialnya yang menggunakan potongan rekaman lama mendiang penyanyi Vidi Aldiano untuk keperluan promosi produk komersial.
Langkah tersebut dinilai sangat tidak etis dan tidak peka, mengingat publik dan industri hiburan tanah air masih dalam suasana duka yang mendalam atas kepergian sang musisi yang dikenal sebagai sosok penuh keceriaan tersebut.
Dalam unggahan yang memicu kontroversi tersebut, Aghnia menampilkan potongan video Vidi Aldiano saat sang penyanyi sedang membicarakan perjuangan beratnya melawan kanker ginjal.
Dalam rekaman itu, Vidi memberikan refleksi hidup yang menyentuh mengenai arti harta, kesehatan, dan makna kebahagiaan sejati di tengah ujian fisik yang ia alami.
Alih-alih sekadar memberikan penghormatan atau edukasi, Aghnia menyambungkan pesan mendalam dari Vidi tersebut dengan narasi pengalaman pribadinya.
Namun, yang membuat warganet geram adalah bagian akhir dari konten tersebut, di mana Aghnia secara langsung menyisipkan promosi buku miliknya sebagai solusi atau referensi dari narasi yang ia bangun.
Gelombang kritik segera membanjiri kolom komentar dan menyebar ke berbagai platform seperti X (sebelumnya Twitter) dan TikTok.
Banyak pengguna media sosial menilai tindakan Aghnia sebagai upaya memanfaatkan momentum sensitif dan "menjual" kesedihan orang lain demi keuntungan materi atau engagement semata.
"Sangat tidak berempati. Menggunakan kata-kata seseorang yang sudah tiada, yang sedang bicara soal nyawa, hanya untuk jualan buku? Di mana etika berinternetnya?" tulis salah satu warganet yang mendapat ribuan tanda suka.
Sebagian besar kritikan menyoroti bahwa promosi produk (hard selling ) dalam konteks duka nasional adalah bentuk kegagalan dalam membaca situasi (tone deaf).
Warganet menyayangkan mengapa seorang influencer besar dengan jutaan pengikut tidak mampu membedakan mana konten inspirasi yang tulus dan mana yang murni eksploitasi komersial.
Hingga saat ini, unggahan tersebut terus memicu perdebatan mengenai batasan moral bagi para pembuat konten di era digital. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna