RADAR KUDUS - Amanda Manopo, seorang aktris terkenal di Indonesia, baru-baru ini menyatakan rasa sedihnya setelah calon bayinya yang belum lahir disebut "anak haram" oleh pengguna media sosial.
Tuduhan ini muncul karena spekulasi mengenai waktu pernikahan dan kehamilannya dengan suaminya, Kenny Austin.
Aktris Amanda Manopo mengungkapkan kesedihan yang mendalam ketika mengunggah perutnya yang hamil di Instagram.
Karena bayi dalam kandungannya menjadi sasaran bullying online, termasuk tuduhan hamil di luar nikah meskipun dia sudah menikah secara sah.
Mereka menikah pada 10 Oktober 2025 dan mengumumkan kehamilannya pada akhir November, tetapi ukuran perutnya yang terlihat besar memicu banyak kontroversi.
Spekulasi dimulai dari pandangan berbeda netizen tentang ukuran perut hamil Amanda di trimester pertama, yang dianggap terlalu besar dan menciptakan asumsi bahwa dia hamil sebelum menikah.
Di bulan Desember 2025, Amanda menyampaikan pendapatnya, menegaskan bahwa kehamilan merupakan berkah dari Tuhan yang memerlukan waktu sembilan bulan, bukan sesuatu yang dapat "diunduh" atau diprediksi sembarangan.
Baru-baru ini, di akhir Januari 2026, ia kembali berbagi cerita di Instagram saat acara gala premier seri Pay Later Caper.
Mengatakan bahwa bayinya "tidak tahu apa-apa" namun harus menghadapi kritik seperti "anak haram" atau bahkan desas-desus akan lahir bulan ini.
Kenny Austin memberikan dukungan penuh, berkomitmen untuk melindungi istri dan anaknya "dengan segala cara".
Meskipun banyak netizen memberikan dukungan dengan alasan bahwa setiap ibu hamil memiliki variasi fisik, isu ini tetap hangat dan menunjukkan dampak bullying digital terhadap publik figur.
Kasus Amanda Manopo menjadi pengingat akan pentingnya empati di era media sosial, di mana spekulasi yang tidak berdasar dapat melukai nyawa yang belum lahir.
Dia tetap bersyukur atas kehadiran bayi yang membawa rezeki dan membentuknya menjadi calon ibu, sambil berharap publik berhenti menyebarkan rumor yang tidak berdasar.
Dukungan dari penggemar dan suami menjadi motivasi di tengah cobaan ini. (Anita F)
Editor : Ali Mustofa