Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fenomena Drama China Booming, Apa yang Membuatnya Digandrungi?

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:41 WIB
Fenomena Mikrodrama China: Absurd, Singkat, tapi Menguntungkan
Fenomena Mikrodrama China: Absurd, Singkat, tapi Menguntungkan

RADAR KUDUS - Dalam beberapa waktu terakhir, pengguna media sosial semakin akrab dengan iklan drama pendek vertikal yang kerap muncul di TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts.

Konten tersebut umumnya menampilkan potongan cerita berbahasa Mandarin dengan alur yang terkesan berlebihan, absurd, dan penuh kejutan.

Meski sering kali dialihbahasakan ke bahasa Inggris atau Indonesia, ciri khas ceritanya tetap sama: sederhana, emosional, dan mudah dipahami tanpa perlu berpikir keras.

Fenomena ini dikenal dengan istilah mikrodrama Tiongkok (Chinese microdrama), sebuah format hiburan baru yang tengah mengalami ledakan popularitas secara global. Mikrodrama berbeda dari drama televisi konvensional.

Jika satu episode drama biasa dapat berdurasi hingga satu jam, mikrodrama justru hadir dalam episode-episode sangat singkat, namun jumlahnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan episode.

Seluruh cerita dapat ditamatkan hanya dalam waktu satu hingga dua jam.

Dari segi cerita, mikrodrama kerap mengusung tema-tema yang tidak masuk akal, seperti tokoh miskin yang ternyata pewaris konglomerat, pertukaran identitas, balas dendam instan, pernikahan kontrak, hingga kisah yang melampaui logika.

Judulnya pun sering kali panjang dan gamblang, seolah langsung merangkum seluruh konflik utama.

Alih-alih menyembunyikan kejutan, judul mikrodrama justru menjual inti cerita sejak awal.

Meski kualitas akting, sinematografi, dan penulisan naskah sering dianggap rendah oleh kritikus, mikrodrama justru meraih keuntungan luar biasa.

Berdasarkan laporan The Microdrama Economy 2025, industri mikrodrama diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar 9,4 miliar dolar AS pada 2025, meningkat drastis dibandingkan tahun 2021 yang hanya mencapai 500 juta dolar AS.

Pertumbuhan ini menjadikan Tiongkok sebagai produsen dan pasar mikrodrama terbesar di dunia.

Popularitas mikrodrama tidak hanya terbatas di dalam negeri. Sekitar 700 juta penonton di Tiongkok mengonsumsi konten ini, dengan mayoritas berusia di bawah 40 tahun.

Menariknya, hampir separuh penonton berasal dari kalangan berpendidikan tinggi.

Bahkan di pasar internasional, Amerika Serikat tercatat sebagai penyumbang penonton berbayar terbesar.

Para pengamat menyebut mikrodrama sebagai hiburan “brainless”, namun justru di situlah daya tariknya.

Alur cepat, konflik beruntun, dan cliffhanger di setiap episode dirancang untuk memicu kepuasan instan dan dorongan emosional penonton.

Format ini memanfaatkan psikologi manusia yang menyukai resolusi cepat dan balas dendam yang memuaskan, sehingga penonton terdorong untuk terus membeli episode berikutnya.

Dari sisi ekonomi kreatif, mikrodrama membuka peluang kerja baru bagi masyarakat Tiongkok.

Banyak individu beralih profesi menjadi aktor, sutradara, hingga kru produksi dengan modal terbatas.

Namun, di balik keuntungan besar industri ini, para kreator justru hanya menerima sebagian kecil pendapatan karena mayoritas keuntungan terserap oleh platform distribusi dan biaya promosi.

Seiring meningkatnya popularitas global, pemerintah Tiongkok mulai memperketat regulasi terhadap mikrodrama.

Ribuan judul telah dihapus karena dianggap melanggar norma, terlalu vulgar, atau tidak sejalan dengan nilai budaya.

Di sisi lain, masuknya sineas profesional dan penyelenggaraan ajang penghargaan menunjukkan bahwa mikrodrama perlahan bergerak menuju peningkatan kualitas.

Ke depan, mikrodrama diprediksi akan terus berkembang dan mungkin berevolusi menjadi format hiburan yang lebih matang.

Namun, muncul pula pertanyaan "apakah mikrodrama akan tetap diminati jika unsur absurditas dan kesederhanaannya dikurangi, atau justru kehilangan daya tarik utamanya?" (Ghina Nailal Husna)

Editor : Ali Mustofa
#drama china