Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dusun Mayit: Pendakian yang Berubah Menjadi Teror Tanpa Jalan Pulang

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 24 Desember 2025 | 22:40 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Film “Dusun Mayit” mengangkat kisah pendakian yang awalnya dimaknai sebagai cara sederhana untuk melepaskan diri dari kejenuhan, namun perlahan menjelma menjadi pengalaman mencekam tanpa kepastian untuk kembali.

Cerita mengikuti empat sahabat—Raka, Aryo, Nita, dan Yuni—yang sepakat mendaki Gunung Welirang demi mencari jeda dari persoalan hidup masing-masing.

Perjalanan yang diniatkan sebagai liburan singkat itu justru membawa mereka ke situasi yang jauh dari kata menenangkan.

Baca Juga: Comic 8 Revolution Hadirkan Satir Kekuasaan Lewat Parodi Santet

Raka (Randy Martin) menjadi penggerak utama pendakian.

Ia meyakini alam selalu menghadirkan keteduhan dan kedamaian, sebuah keyakinan yang membuatnya terus melangkah meski berbagai pertanda bahaya mulai bermunculan.

Optimismenya yang berlebihan perlahan berubah menjadi sumber masalah, terutama ketika insting kewaspadaan kerap diabaikan.

Bagi Nita dan Yuni—diperankan oleh Ersya Aurelia dan Amanda Manopo—pendakian ini merupakan pengalaman pertama.

Mereka memulai perjalanan dengan semangat tinggi, menikmati pemandangan dan kebersamaan, seolah lelah hanyalah bagian kecil dari petualangan.

Pada fase awal ini, suasana masih hangat dan penuh canda, sebelum perlahan berubah menjadi ketegangan yang sulit dihindari.

Baca Juga: Pendakian Berujung Mistik: Kisah Mencekam Film Dusun Mayit

 

Situasi mulai memburuk saat mereka tersesat di hamparan padang rumput luas yang dikelilingi ilalang.

Di tengah kebingungan, muncul sebuah pasar yang tampak ramai dan normal. Tanpa rasa curiga, keempat sahabat itu memutuskan singgah.

Pilihan singkat tersebut ternyata membawa mereka melewati batas yang tidak pernah tercatat di peta mana pun.

Gunung Welirang seakan membuka pintu menuju dunia lain—sebuah dusun asing yang dipenuhi kejanggalan.

Teror supranatural, sosok-sosok tak dikenal, dan suasana yang menekan mulai mengurung mereka.

 

Baca Juga: Sinopsis Janur Ireng: Misteri Keluarga Kuncoro & Awal Mula Santet Mematikan

Dusun tersebut bukan hanya sunyi, tetapi menyimpan ancaman dari makhluk yang keberadaannya melampaui logika manusia.

Pertanyaan pun terus menggantung: masih adakah jalan untuk pulang?

Keempat karakter utama menampilkan dinamika persahabatan yang berkembang seiring tekanan.

Yuni, yang awalnya tampil rasional, justru menjadi paling rapuh saat logika tak lagi mampu menjelaskan situasi.

Nita digambarkan percaya diri dan dominan, namun keberanian itu perlahan luruh, digantikan ketakutan dan rasa tak berdaya.

Aryo (Fahad Haydra) berperan sebagai figur paling realistis, berusaha tetap berpijak pada nalar di tengah situasi yang kian kacau.

Baca Juga: Minat Baca Siswa Semakin Menurun, Perpustakaan Sepi di Tengah Tantangan Literasi Anak Muda

Sementara Raka terus berpegang pada optimisme, meski sikap cerobohnya justru menyeret kelompok semakin jauh dari keselamatan, menegaskan bahwa niat baik tak selalu berakhir dengan hasil yang baik.

Produser Rocky Soraya mengungkapkan para pemeran dipilih secara langsung tanpa proses casting konvensional.

Menurutnya, para aktor tersebut sudah lama ia kenal dan dinilai paling sesuai menghidupkan karakter dalam cerita.

Interaksi antarkarakter terasa alami, terutama ketika rasa takut mulai menggerus kepercayaan satu sama lain.

Ketegangan tidak hanya bersumber dari teror gaib, tetapi juga dari konflik batin, rasa bersalah, dan kecenderungan saling menyalahkan.

Secara visual, Dusun Mayit memaksimalkan latar alam pegunungan dan hutan untuk menciptakan atmosfer yang realistis dan melelahkan, sejalan dengan kondisi fisik para tokohnya.

Baca Juga: Puluhan Tahun Berlalu, Home Alone Tetap Ikonik sebagai Film Natal Sepanjang Masa

Penggunaan CGI dipadukan dengan efek praktikal untuk menampilkan sosok penguasa gaib yang tidak digambarkan secara klise, sehingga ancaman terasa lebih besar dan menekan.

Sutradara Rizal Mantovani menyebut tantangan terbesarnya adalah menghadirkan bentuk horor yang terasa baru.

Ia dan tim berusaha mengeksplorasi konsep kesurupan dan teror dengan pendekatan berbeda langsung di lokasi syuting.

Proses produksi pun menyimpan cerita tersendiri. Ersya Aurelia mengaku adegan bawah air menjadi pengalaman paling berat, sementara Randy Martin dan kru lainnya mengalami kejadian-kejadian tak biasa selama menginap di lokasi syuting, yang semakin memperkuat nuansa mistis di balik layar.

Lebih dari sekadar film horor tentang makhluk halus, Dusun Mayit menyoroti tema kesesatan, kesiapan mental, serta konsekuensi dari meremehkan alam.

Dengan atmosfer pekat, visual yang digarap serius, dan karakter yang cukup kuat, film ini menawarkan pengalaman horor yang intens sekaligus menguras emosi.

Diproduseri Rocky Soraya dan disutradarai Rizal Mantovani, Dusun Mayit dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 31 Desember 2025, terinspirasi dari kisah pendaki di Gunung Welirang, Jawa Timur.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Dusun Mayit #film horor indonesia #Gunung Welirang #Film horor Gunung #31 Desember 2025