Jakarta — Kasus yang menimpa konten kreator Nessie Judge baru-baru ini kembali membuka percakapan lama tentang hubungan emosional antara Indonesia dan Jepang.
Dalam video spesial Halloween yang sempat diunggah di kanal YouTube-nya yanh berkolaborasi dengan grup K-Pop NCT Dream. Nessie menampilkan foto Junko Furuta, korban pembunuhan sadis di Jepang pada akhir 1980-an.
Meski niatnya sekadar untuk kebutuhan visual cerita, hal itu justru memicu reaksi keras dari sebagian warga Jepang. Mereka menilai tindakan tersebut tidak menghormati para korban.
Akibatnya, Nessie pun langsung menghapus video tersebut dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Namun, kontroversi tak berhenti di situ. Setelah video permintaan maafnya diunggah, muncul komentar dari seorang warganet asal Jepang yang menulis panjang di kolom komentar:
"Belumkah kalian tau bahwa Indonesia merdeka berkat perang Jepang melawan Belanda? Belumkah kalian tau bahwa orang Indonesia yang berjuang dalam perang kemerdekaan, termasuk Sukarno dan jenderal Sudirman, semuanya berterimakasih pada militer Jepang? Tidak seperti para pendahulu mereka, mereka telah melupakan rasa terima kasih kepada jepang, sehingga mereka dapat menggunakan korban Jepang sebagai materi untuk mengunggah video, dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa di maafkan oleh kami, orang Jepang."
Komentar itu pun menyebar luas dan menimbulkan perdebatan baru.
Banyak warga Indonesia menilai pernyataan tersebut tidak relevan dan mengabaikan luka sejarah lain yang juga dialami masyarakat Indonesia akibat penjajahan Jepang.
Salah satu warganet, dengan akun @barlyow, menuliskan komentarnya di Twitter:
"Sakit hati si gua. Apa lagi setelah tau apa yang mereka lakuin ke perempuan muda yang mereka tipu buat berangkat pendidikan ke luar negeri malah dibawa ke pulau buru untuk dijadiin jugun ianfu. Setelah perang selesai pun mereka yang terjebak di pulau buru gak bisa pulang."
Luka Lama yang Kembali Terangkat
Istilah jugun ianfu merujuk pada perempuan muda dari berbagai negara Asia, termasuk Indonesia, yang dipaksa menjadi pekerja seksual bagi tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.
Meskipun perang telah lama berakhir, banyak korban dan keturunannya yang masih menyimpan trauma mendalam.
Isu ini menjadi sangat sensitif karena menyangkut kemanusiaan dan kehormatan yang terenggut.
Ketika konten hiburan tanpa sengaja menyentuh luka tersebut, wajar bila muncul emosi dari kedua belah pihak baik warga Jepang yang merasa dihina, maupun masyarakat Indonesia yang mengingat penderitaan masa lalu.
Saat Internet Jadi Ruang yang Tak Pernah Lupa
Fenomena ini menunjukkan bahwa internet bukan hanya ruang untuk hiburan, tapi juga tempat di mana memori kolektif hidup dan saling bertemu.
Apa yang tampak sebagai kesalahan kecil di satu sisi bisa memantik perasaan besar di sisi lain.
Dalam kasus Nessie Judge, kita bisa belajar bahwa setiap konten yang menyangkut simbol, korban, atau sejarah tertentu, perlu disertai empati dan pemahaman lintas budaya.
Begitu pula, masyarakat dunia maya juga perlu belajar untuk berdialog dengan konteks, bukan hanya reaksi emosional semata.
Refleksi: Luka yang Belum Sembuh Sepenuhnya
Konten Nessie mungkin sudah dihapus, permintaan maaf pun sudah diucapkan, tapi percakapan tentang luka sejarah tampaknya belum selesai.
Di antara barisan komentar dan tanggapan, ada pelajaran penting bahwa masa lalu bukan untuk disalahkan, tapi untuk dipahami dan diingat agar tidak terulang lagi.
Mungkin inilah momen bagi kita untuk kembali belajar bahwa berpikir positif dan sensitif terhadap sejarah bisa berjalan berdampingan.
Mengingat bukan berarti membuka luka, melainkan menghormati mereka yang pernah terluka.
Editor : Mahendra Aditya