Afgan Rilis Lagu Berjudul Kacamata: Lagu Galau Elegan yang Jadi Cermin Perjalanan Diri dan Cinta yang Salah Arah
Mahendra Aditya Restiawan• Sabtu, 11 Oktober 2025 | 01:40 WIB
Afgan - Kacamata
RADAR KUDUS - Setelah tujuh tahun bereksperimen dengan musik berbahasa Inggris, Afgan akhirnya kembali ke ranah yang membesarkan namanya: pop Indonesia.
Melalui single Kacamata, ia membuka lembar baru sekaligus menandai kembalinya dirinya lewat album ketujuh bertajuk Retrospektif.
Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan perjalanan pulang menuju akar musikalitas Afgan.
Jika dalam dua album sebelumnya ia berkelana mencari bentuk baru dalam bahasa global, kini Retrospektif hadir sebagai refleksi mendalam—sebuah penegasan bahwa jati diri seorang musisi sejati selalu tahu ke mana harus kembali.
“Album ini gue bikin untuk balik ke roots gue,” ujar Afgan dalam sebuah wawancara. “Pop Indonesia itu DNA gue. Dan Kacamata gue pilih sebagai pembuka karena lagu ini paling mewakili perjalanan panjang itu.”
“Kacamata”: Tentang Cinta yang Membutakan
Secara musikal, Kacamata membawa nuansa pop yang khas Afgan—melodi lembut, aransemen RnB halus, dan lirik yang menggugah emosi. Namun di balik musik yang ringan, tersimpan makna yang cukup dalam.
Lagu ini berkisah tentang seseorang yang rela berubah demi cinta, bahkan sampai kehilangan jati dirinya sendiri. Sebuah metafora tentang bagaimana cinta bisa jadi cermin yang menipu, membuat seseorang berkompromi dengan nilai-nilai dirinya hanya agar diterima dan dicintai.
Afgan menjelaskan, “Kadang kita berusaha terlalu keras untuk disukai seseorang sampai lupa siapa diri kita sebenarnya.
Kacamata itu simbol—kadang kita perlu ‘melepaskan kacamata’ supaya bisa melihat semuanya lebih jernih.”
Lewat lagu ini, Afgan mengajak pendengarnya merenung. Ia tidak sekadar membicarakan cinta yang gagal, melainkan menguliti proses kehilangan diri di tengah hubungan yang tidak sehat.
Perpaduan Pop dan RnB yang Lebih Matang
Dari sisi musikal, Kacamata adalah evolusi. Lagu ini tetap mempertahankan karakter pop Afgan yang lembut, tapi dengan sentuhan modern—perpaduan groove RnB dan produksi yang lebih matang.
Afgan berkolaborasi dengan tiga musisi muda yang sedang naik daun: Iqbal Siregar, Petra Sihombing, dan Kamga Mohammed.
Iqbal memunculkan ide awal berupa melodi reff yang catchy, Petra menata seluruh produksi musik, sementara Kamga bertugas sebagai vocal director yang memastikan emosi Afgan terekam dengan sempurna.
Prosesnya pun mengalir cepat. Lagu ini rampung dalam waktu hanya dua jam di sesi awal, dan rekaman vokalnya selesai dalam setengah hari.
Total produksi, termasuk mixing dan mastering, diselesaikan dalam dua bulan—namun hasil akhirnya terasa sangat matang.
Afgan mengakui, Kacamata adalah lagu yang sangat personal baginya. Ia bahkan menganggapnya sebagai “refleksi jujur” atas perjalanan karier dan kehidupan pribadinya.
“Kalau dulu gue nyanyi buat orang lain, sekarang gue nyanyi untuk diri sendiri,” ungkapnya.
Afgan - Kacamata
Video Musik Bernuansa Nostalgia dan Elegan
Sama seperti lagunya, video musik Kacamata juga penuh simbol. Disutradarai oleh Shadtoto Prasetio, video ini mengusung konsep visual bernuansa 90-an yang minimalis tapi modern.
Dalam video itu, Afgan beradu akting dengan aktris Yuki Kato dalam adegan permainan catur.
Permainan catur menjadi metafora kuat: ada langkah maju, mundur, strategi, dan pengorbanan—semua menggambarkan dinamika cinta yang tak selalu bisa ditebak.
“Catur itu simbol relasi manusia,” ujar Shadtoto. “Kadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk menang, tapi dalam cinta, kemenangan itu sering kali semu.”
Visualnya dibuat elegan dengan tone warna lembut dan pencahayaan natural. Afgan tampil mengenakan kacamata rimless dari merek Austria, Silhouette, yang memperkuat kesan chic dan reflektif.
Pemilihan merek ini bukan kebetulan—“kacamata” bukan hanya aksesori, tapi bagian dari identitas Afgan yang melekat sejak awal kariernya.
Simbol Spiritual: Cinta, Kehilangan, dan Keikhlasan
Namun Kacamata tidak berhenti di level estetika atau nostalgia. Lagu ini juga memuat pesan spiritual yang halus. Afgan mengaku, inspirasi terbesar lagu ini datang dari pengalaman pribadi: kehilangan arah karena terlalu berharap pada manusia.
“Kadang kita butuh diingatkan, jangan terlalu menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Karena manusia bisa pergi, tapi Tuhan enggak,” tutur Afgan.
Pesan ini terasa dalam liriknya:
“Berharap pada manusia, kecewa akhirnya…”
Sebuah baris sederhana, tapi sarat makna. Ini bukan sekadar lagu galau, melainkan refleksi iman, bentuk penerimaan, dan cara Afgan menyampaikan kebijaksanaan emosional yang ia peroleh setelah perjalanan panjang dalam karier dan kehidupan pribadinya.
Afgan - Kacamata
Dari Galau ke Self-Healing
Berbeda dari lagu-lagu galau yang tenggelam dalam kesedihan, Kacamata justru punya efek terapeutik. Afgan menyebutnya sebagai feel-good heartbreak song.
“Gue pengin orang yang lagi patah hati bisa senyum setelah dengar lagu ini,” katanya.
Dengan ritme yang ringan dan lirik yang mudah diingat, lagu ini menjadi semacam pengingat bahwa kekecewaan adalah bagian dari hidup yang bisa disikapi dengan tenang. Bukan hanya soal kehilangan cinta, tapi tentang belajar tertawa di tengah luka.
Afgan menambahkan, “Hidup enggak selalu berat. Kadang kita cuma perlu ngelihat dari sudut pandang lain. Lepas ‘kacamata’, dan kamu bakal lihat semuanya lebih jernih.”
“Retrospektif”: Sebuah Catatan Perjalanan
Single Kacamata menjadi pembuka yang sempurna untuk album Retrospektif. Album ini dirancang sebagai perjalanan musikal dan emosional Afgan selama 15 tahun berkarya.
Ia merekam nostalgia, penyesalan, kedewasaan, dan kedamaian yang baru ia temukan setelah melalui pasang surut industri musik dan kehidupan pribadi.
Setiap lagu di album ini dikurasi dengan cermat agar menggambarkan babak kehidupan Afgan. Kacamata menempati posisi istimewa sebagai gerbang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini—pop klasik dan nuansa modern berpadu jadi satu.
Afgan dan Cinta yang Dewasa
Afgan kini bukan lagi sosok remaja yang identik dengan lagu Sadis atau Terima Kasih Cinta. Ia telah berevolusi menjadi penyanyi dewasa yang lebih reflektif.
Dalam Kacamata, ia menampilkan versi dirinya yang paling tulus—jujur, rapuh, tapi juga kuat dan berani berdamai dengan masa lalu.
Lagu ini adalah surat terbuka bagi siapa pun yang pernah merasa tersesat karena cinta. Sebuah pengingat bahwa kadang, kehilangan bukan akhir, melainkan awal dari menemukan diri sendiri.
“Kacamata”, Lagu yang Melihat Lebih Dalam
Melalui Kacamata, Afgan tidak hanya kembali ke akar pop-nya, tetapi juga memperlihatkan sisi terdalam dari perjalanan emosionalnya.
Lagu ini memadukan keindahan musikal dengan kedewasaan spiritual, menjadikannya salah satu karya paling jujur dan bermakna dalam kariernya.
Bukan hanya lagu tentang cinta yang kandas, tapi juga tentang keberanian melepas apa yang menutupi pandangan—baik itu cinta yang salah, ekspektasi, maupun topeng diri.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sebenarnya dari Kacamata: ia tidak hanya mengajak kita mendengarkan, tapi juga melihat—lebih dalam, lebih jujur, lebih manusiawi.