Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru bernama IDX Commodity 20 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Indeks ini memuat 20 saham perusahaan yang bergerak di sektor penghasil komoditas maupun rantai pasok industrinya, dengan mempertimbangkan kapitalisasi pasar dan likuiditas transaksi.
Kehadiran indeks tersebut memberikan acuan baru bagi investor untuk memantau pergerakan saham-saham terkait komoditas di pasar modal Indonesia.
Dalam daftar konstituen awal, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) memiliki bobot terbesar, yakni 15 persen, sesuai batas maksimum yang ditetapkan BEI. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dengan bobot 11,35 persen dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) sebesar 10,88 persen.
Ketiga saham tersebut memiliki porsi cukup besar dalam komposisi awal indeks. Meski demikian, bobot indeks tidak secara langsung menunjukkan bahwa suatu saham lebih menguntungkan dibandingkan saham lainnya. Angka tersebut mencerminkan besarnya kontribusi masing-masing saham dalam penghitungan indeks berdasarkan metodologi yang digunakan bursa.
Baca Juga: Bukan Sekadar Status MSCI, Transparansi dan Likuiditas Jadi Ujian Pasar Modal Indonesia hingga 2027
BEI menetapkan IDX Commodity 20 sebagai indeks yang mengukur kinerja harga 20 saham perusahaan penghasil komoditas serta perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok industri komoditas. Pemilihan konstituen mempertimbangkan kapitalisasi pasar yang tinggi dan likuiditas transaksi yang baik.
Peluncuran indeks ini memberikan sarana bagi investor untuk mengamati pergerakan kelompok saham yang berkaitan dengan industri komoditas secara lebih terstruktur. Dibandingkan hanya memantau saham satu per satu, indeks sektoral seperti ini dapat membantu memberikan gambaran mengenai perkembangan harga saham dalam kelompok industri yang memiliki keterkaitan bisnis.
Namun, kinerja IDX Commodity 20 tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh industri komoditas Indonesia. Indeks tersebut hanya mencakup 20 saham yang masuk dalam daftar konstituen berdasarkan ketentuan dan metodologi BEI. Pergerakannya juga dipengaruhi oleh bobot setiap saham, sehingga emiten dengan porsi lebih besar berpotensi memberikan pengaruh lebih kuat terhadap perubahan indeks.
Dalam penghitungan IDX Commodity 20, BEI menggunakan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted. Metode ini memperhitungkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan porsi saham beredar yang tersedia untuk publik atau free float, kemudian menerapkan pembatasan bobot saham.
Batas maksimum bobot setiap saham ditetapkan sebesar 15 persen dan disesuaikan pada saat evaluasi indeks. Pembatasan ini membuat kontribusi satu saham terhadap indeks tidak dapat melampaui batas yang ditentukan, meskipun kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float berpotensi menghasilkan bobot lebih besar.
Penerapan pembatasan bobot juga perlu dipahami ketika investor membandingkan kinerja indeks dengan pergerakan saham individual. Saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar belum tentu mendapatkan bobot tanpa batas. Hasil akhirnya tetap bergantung pada metode penghitungan dan penyesuaian yang berlaku.
BEI menetapkan 1 September 2021 sebagai tanggal dasar penghitungan IDX Commodity 20, dengan nilai dasar 100. Artinya, indeks memiliki titik acuan historis yang memungkinkan perkembangan nilainya dibandingkan dari waktu ke waktu berdasarkan metodologi yang digunakan.
Meskipun baru diluncurkan pada 30 Oktober 2026, penghitungan indeks tersebut menggunakan tanggal dasar yang lebih awal. Dengan demikian, tanggal peluncuran dan tanggal dasar penghitungan merupakan dua hal berbeda. Tanggal dasar digunakan sebagai titik awal pengukuran kinerja indeks, sedangkan tanggal peluncuran menandai pengumuman dan penerapannya sebagai indeks baru di BEI.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, periode efektif konstituen awal IDX Commodity 20 berlangsung mulai 30 Oktober 2026 hingga 26 Februari 2027. Sementara itu, periode efektif jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks berlaku mulai 30 Oktober hingga 30 November 2026.
Perbedaan periode tersebut berkaitan dengan jadwal peninjauan komposisi dan jumlah saham yang menjadi dasar penghitungan. Karena itu, daftar konstituen dan jumlah saham yang digunakan untuk menghitung indeks tidak selalu memiliki periode penyesuaian yang sama.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi ke Level 5.066 pada Akhir Oktober 2026, Ini 7 Sentimen yang Membayangi Pasar
BEI juga menetapkan dua jenis evaluasi untuk IDX Commodity 20, yaitu evaluasi mayor dan evaluasi minor. Evaluasi mayor mencakup pemilihan konstituen sekaligus penyesuaian bobot saham. Proses ini dijadwalkan pada Februari dan Agustus, dengan hasil yang berlaku efektif pada hari bursa pertama Maret dan September.
Adapun evaluasi minor hanya mencakup penyesuaian bobot. Evaluasi tersebut dilakukan pada Mei dan November, kemudian berlaku efektif pada hari bursa pertama Juni dan Desember.
Jadwal evaluasi ini memungkinkan komposisi dan bobot indeks disesuaikan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Bagi investor, informasi mengenai periode evaluasi penting untuk memahami bahwa komposisi indeks tidak harus tetap sama sepanjang waktu.
BEI menyatakan bahwa konstituen awal beserta jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks telah ditetapkan. Informasi lebih lanjut mengenai IDX Commodity 20, termasuk panduan dan metodologinya, disediakan melalui situs resmi BEI.
Dalam daftar awal tersebut, sektor pertambangan mineral, batu bara, energi, minyak dan gas, serta industri yang berkaitan dengan pengolahan dan rantai pasok komoditas terwakili melalui sejumlah emiten. Daftar ini mencakup perusahaan dengan karakteristik bisnis, struktur kepemilikan, dan tingkat free float yang berbeda.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) masuk dalam indeks dengan rasio free float 18,17 persen. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan mencapai 1.414.878.233 lembar, dengan bobot indeks sebesar 3,21 persen.
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) memiliki rasio free float 11,89 persen. Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks mencapai 4.860.909.215 lembar, dengan bobot sebesar 1,88 persen.
Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) tercatat memiliki free float 26,79 persen. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan sebanyak 7.715.652.396 lembar, dengan bobot 4,52 persen.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098, Asing Justru Borong BBCA hingga BBRI
PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menjadi saham dengan bobot terbesar dalam daftar awal IDX Commodity 20. Emiten ini memiliki rasio free float 22,75 persen, dengan jumlah saham untuk penghitungan indeks mencapai 14.653.415.210 lembar dan bobot sebesar 15 persen.
Di sektor pertambangan mineral, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga masuk dalam daftar. Perusahaan ini memiliki rasio free float 34,84 persen, dengan jumlah saham untuk penghitungan indeks sebanyak 8.372.318.430 lembar. Bobot ANTM dalam indeks ditetapkan sebesar 6,02 persen.
Selanjutnya, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) memiliki rasio free float 15,81 persen. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan mencapai 3.989.653.500 lembar, dengan bobot 1,25 persen.
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) tercatat memiliki free float 44,75 persen. Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks mencapai 28.510.313.120 lembar, sedangkan bobotnya sebesar 0,99 persen.
PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) memiliki rasio free float 51,03 persen, tertinggi di antara emiten dalam daftar awal tersebut. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan mencapai 72.352.395.784 lembar, dengan bobot indeks sebesar 11,35 persen.
PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga memiliki porsi besar dalam komposisi indeks. Emiten ini tercatat memiliki rasio free float 26,96 persen, dengan jumlah saham untuk penghitungan sebanyak 25.274.249.985 lembar dan bobot 10,88 persen.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) memiliki rasio free float 43,28 persen. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks mencapai 160.713.957.687 lembar, dengan bobot sebesar 6,99 persen.
PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) masuk dengan rasio free float 49,70 persen. Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks sebanyak 20.221.654.819 lembar, dengan bobot 2,11 persen.
Di sektor energi, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) memiliki rasio free float 41,17 persen. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks mencapai 10.936.622.662 lembar, dengan bobot 3,28 persen.
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga tercatat sebagai konstituen IDX Commodity 20. Rasio free float perusahaan ini sebesar 20,38 persen, dengan jumlah saham penghitungan indeks sebanyak 2.148.008.088 lembar. Bobotnya ditetapkan sebesar 2,58 persen.
Berikutnya, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) memiliki rasio free float 26,80 persen. Jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan mencapai 28.942.772.533 lembar, dengan bobot indeks sebesar 3,74 persen.
PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) tercatat memiliki free float 47,72 persen. Jumlah saham untuk penghitungan indeks mencapai 11.678.507.856 lembar, sedangkan bobotnya sebesar 7,86 persen.
PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) juga masuk dalam daftar dengan rasio free float 21,86 persen. Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks mencapai 5.494.780.152 lembar, dengan bobot sebesar 1,79 persen.
Selanjutnya, PT Petrosea Tbk. (PTRO) memiliki rasio free float 27,71 persen. Jumlah saham untuk penghitungan indeks tercatat sebanyak 2.794.844.455 lembar, dengan bobot 3,36 persen.
PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) masuk dengan rasio free float 22,79 persen. Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks mencapai 4.816.760.509 lembar, sedangkan bobotnya sebesar 0,91 persen.
PT Timah Tbk. (TINS) juga menjadi bagian dari konstituen awal. Emiten ini memiliki rasio free float 34,96 persen, dengan jumlah saham penghitungan indeks sebanyak 2.603.734.608 lembar dan bobot 2,38 persen.
Saham terakhir dalam daftar adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA). Dalam informasi yang dikutip, BEI mencantumkan jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks sebanyak 21.956.630.144 lembar dan rasio free float sebesar 25,38 persen. Namun, data sumber yang tersedia tidak mencantumkan bobot TPIA, sehingga angka tersebut tidak dapat dipastikan dari informasi tersebut.
Kehadiran IDX Commodity 20 memberikan pilihan indikator baru bagi pelaku pasar yang ingin mengikuti pergerakan saham berbasis komoditas. Indeks ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi untuk mengamati tren kelompok saham yang memiliki keterkaitan dengan industri sumber daya alam dan rantai pasoknya.
Meski demikian, indeks bukan pengganti analisis fundamental terhadap masing-masing perusahaan. Perubahan harga komoditas, biaya produksi, kebutuhan investasi, kondisi keuangan, serta kebijakan perusahaan dapat memengaruhi kinerja setiap emiten secara berbeda.
Investor juga perlu memahami bahwa bobot indeks, rasio free float, dan jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan memiliki fungsi yang berbeda. Bobot menunjukkan kontribusi relatif suatu saham dalam indeks, free float menggambarkan porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik sesuai definisi yang berlaku, sedangkan jumlah saham penghitungan merupakan bagian dari dasar perhitungan indeks.
Dengan memahami ketiga unsur tersebut, investor dapat membaca komposisi IDX Commodity 20 secara lebih tepat. Indeks ini menjadi alat pemantauan baru di BEI, sementara keputusan investasi tetap memerlukan pertimbangan atas profil risiko, valuasi, prospek bisnis, dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Editor : Mahendra Aditya