Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098, Asing Justru Borong BBCA hingga BBRI

M

Advertisement

 

Menakar Dampak Potensi Penurunan Status Pasar Saham RI oleh MSCI Menuju Standalone Market
Menakar Dampak Potensi Penurunan Status Pasar Saham RI oleh MSCI Menuju Standalone Market

RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu merosot 184,26 poin atau 3,49 persen hingga berakhir di level 5.098,06.

Advertisement

Di tengah pelemahan pasar, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih pada sejumlah saham, terutama saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Data perdagangan menunjukkan, aktivitas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari tersebut mencapai 217,69 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp10,13 triliun. Namun, tingginya aktivitas perdagangan itu berlangsung di tengah tekanan jual yang membuat IHSG berakhir jauh di zona merah.

Berdasarkan data yang dikutip dari Stockbit, investor asing membukukan penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp1,08 triliun di seluruh pasar. Tekanan jual tersebut bahkan mencapai Rp1,52 triliun di pasar reguler. Sementara itu, di pasar negosiasi dan tunai, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp406,50 miliar.

Advertisement

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa transaksi investor asing tidak sepenuhnya bergerak ke satu arah. Di tengah aksi pelepasan saham secara agregat, masih terdapat sejumlah emiten yang mencatatkan pembelian bersih asing dalam jumlah relatif besar.

Dari sepuluh saham dengan nilai net foreign buy terbesar pada perdagangan Kamis, BBCA menempati posisi teratas dengan pembelian bersih mencapai Rp503,49 miliar. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebesar Rp164,50 miliar dan BMRI sebesar Rp155,86 miliar.

Daftar saham yang mencatatkan pembelian bersih asing tersebut juga mencakup emiten dari sektor pertambangan, telekomunikasi, dan alat berat. Di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Timah Tbk (TINS), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Data ini memberikan gambaran menarik mengenai pergerakan modal di pasar saham. Ketika IHSG melemah tajam, pembelian bersih asing pada saham tertentu tetap berlangsung. Meski demikian, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa investor asing secara keseluruhan kembali mengakumulasi saham di Bursa Efek Indonesia.

Perbedaan antara transaksi bersih di seluruh pasar, pasar reguler, serta pasar negosiasi dan tunai perlu diperhatikan agar pergerakan dana asing tidak disalahartikan. Selain itu, nilai pembelian bersih suatu saham juga tidak secara otomatis menunjukkan bahwa harga saham tersebut naik pada hari yang sama.

Angka pembelian bersih tersebut menempatkan saham perbankan sebagai kelompok yang paling menonjol dalam daftar akumulasi asing pada perdagangan kali ini. Jika nilai transaksi BBCA, BBRI, dan BMRI dijumlahkan, total pembelian bersih ketiga saham itu mencapai Rp823,85 miliar. Nilai tersebut menunjukkan besarnya kontribusi tiga emiten perbankan terhadap daftar saham yang dibeli bersih oleh investor asing.

BBCA sendiri mencatatkan pembelian bersih lebih dari tiga kali lipat nilai yang dibukukan BBRI. Selisih antara keduanya mencapai Rp338,99 miliar. Sementara itu, nilai pembelian bersih BMRI berada di bawah BBRI dengan perbedaan sebesar Rp8,64 miliar.

Jika dibandingkan dengan total pembelian bersih pada sepuluh saham yang masuk daftar tersebut, posisi BBCA terlihat semakin dominan. Sepuluh emiten itu secara keseluruhan mencatatkan nilai pembelian bersih asing sebesar Rp1.239,68 miliar atau sekitar Rp1,24 triliun. Dengan demikian, pembelian bersih BBCA menyumbang sekitar 40,6 persen dari total nilai net foreign buy sepuluh saham tersebut.

Tiga saham perbankan besar itu secara bersama-sama menyumbang sekitar dua pertiga dari total pembelian bersih dalam daftar. Perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas beli asing pada hari itu terkonsentrasi pada beberapa emiten, meskipun daftar saham yang dibeli mencakup sektor bisnis yang berbeda.

Kendati demikian, konsentrasi transaksi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing sedang mengalihkan seluruh portofolionya ke saham perbankan. Data satu hari perdagangan hanya menunjukkan posisi transaksi bersih pada periode tertentu. Untuk memahami arah investasi secara lebih menyeluruh, diperlukan pembandingan dengan transaksi pada hari-hari sebelumnya serta perkembangan kepemilikan saham dalam periode yang lebih panjang.

BBCA, BBRI, dan BMRI merupakan tiga emiten perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Ketiganya memiliki karakteristik bisnis, basis nasabah, serta komposisi pendapatan yang tidak sepenuhnya sama. Karena itu, pembelian bersih asing pada ketiga saham tersebut tidak serta-merta memiliki alasan investasi yang identik.

Dalam membaca pergerakan saham perbankan, investor juga perlu memperhatikan faktor fundamental perusahaan, termasuk pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya dana, margin bunga bersih, serta kemampuan menjaga profitabilitas. Namun, data yang tersedia dalam laporan transaksi Kamis tersebut tidak menjelaskan alasan investor asing membeli ketiga saham itu. Oleh sebab itu, faktor-faktor fundamental tersebut lebih tepat digunakan sebagai aspek evaluasi lanjutan, bukan sebagai penjelasan pasti atas keputusan transaksi asing.

Di luar sektor perbankan, ANTM mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp103,27 miliar. Emiten pertambangan yang dikenal sebagai bagian dari industri mineral ini menjadi saham dengan nilai net foreign buy terbesar keempat dalam daftar.

Posisi ANTM menunjukkan bahwa pembelian bersih asing tidak hanya terkonsentrasi pada saham keuangan. Akan tetapi, angka tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa investor asing secara luas sedang meningkatkan eksposur pada sektor pertambangan. Kesimpulan seperti itu memerlukan data transaksi yang lebih lengkap, termasuk pergerakan saham pertambangan lain dan perubahan transaksi dari waktu ke waktu.

Pada sektor telekomunikasi, TLKM membukukan pembelian bersih asing sebesar Rp76,53 miliar. Sementara itu, ISAT mencatatkan nilai sebesar Rp59,13 miliar. Kedua emiten tersebut masuk dalam daftar sepuluh saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada perdagangan Kamis.

Advertisement

Artikel Terkait

IHSG Anjlok 1,93 Persen, Ini 5 Saham Incaran dan Buangan Investor Asing

IHSG Anjlok 1,93 Persen, Ini 5 Saham Incaran dan Buangan Investor Asing

IHSG anjlok 1,93 persen ke level 5.975,78 dan menyentuh posisi intraday terendah tiga bulan. Asing mencatat net sell Rp166,22 miliar, tetapi masih memborong GOTO dan ASII.

IHSG Terkoreksi ke Level 5.066 pada Akhir Oktober 2026, Ini 7 Sentimen yang Membayangi Pasar

IHSG Terkoreksi ke Level 5.066 pada Akhir Oktober 2026, Ini 7 Sentimen yang Membayangi Pasar

IHSG dibuka melemah 0,61 persen ke level 5.066,94 pada 30 Oktober 2026. Inflasi AS, kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, dan keputusan bank sentral global menjadi sentimen yang dicermati investor.

IHSG Rebound di Akhir Perdagangan, OJK Soroti Tekanan Sentimen MSCI

IHSG Rebound di Akhir Perdagangan, OJK Soroti Tekanan Sentimen MSCI

IHSG mulai rebound menjelang penutupan perdagangan, tetapi tetap turun 3,64 persen ke 4.996,60. OJK menyoroti sentimen MSCI dan pertemuan BEI dengan penyedia indeks global tersebut.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer