JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan keadaan pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026). Setelah sempat bergerak di zona merah pada sesi kedua, indeks akhirnya ditutup menguat dan mengakhiri pekan dengan sentimen positif di tengah dinamika pasar global yang masih penuh ketidakpastian.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 11,92 poin atau 0,20 persen dan berakhir di level 5.924,36. Penguatan tersebut menjadi penutup yang cukup optimistis setelah sepanjang hari indeks bergerak fluktuatif mengikuti tekanan dari sentimen eksternal.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di posisi 5.935,03. Indeks sempat mencapai level tertinggi 5.949,90, namun kemudian tertekan hingga menyentuh level terendah 5.887,80 sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan sesi kedua.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik ke Level 5.924, Saham Perbankan dan Energi Jadi Penopang Utama
Aktivitas Transaksi Masih Moderat
Nilai transaksi di pasar reguler tercatat sekitar Rp8,86 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 18,51 miliar saham yang diperdagangkan melalui sekitar 1,92 juta kali transaksi.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 364 saham ditutup menguat, 241 saham melemah, sedangkan 185 saham bergerak stagnan.
Komposisi tersebut menunjukkan minat beli investor masih mampu mendominasi pasar meskipun tekanan jual sempat meningkat pada pertengahan perdagangan.
Kinerja Mingguan Berakhir Positif
Tidak hanya mencatat kenaikan harian, IHSG juga membukukan performa yang solid dalam sepekan terakhir.
Secara mingguan, indeks menguat sekitar 3,13 persen, mencerminkan adanya perbaikan sentimen pasar setelah beberapa pekan sebelumnya bergerak volatil.
Sementara secara bulanan, IHSG masih mencatat kenaikan sekitar 0,37 persen.
Meski demikian, jika dilihat dalam jangka lebih panjang, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan. Dalam periode tiga bulan terakhir, IHSG masih terkoreksi sekitar 16,46 persen, sedangkan dalam enam bulan terakhir pelemahannya mencapai 31,28 persen.
Data tersebut menunjukkan proses pemulihan pasar masih berlangsung dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun domestik.
Sentimen Global Masih Membayangi Pasar
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan dipengaruhi oleh sejumlah perkembangan ekonomi internasional.
Investor masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan global dan harga komoditas energi.
Selain itu, ekspektasi bahwa suku bunga acuan di Amerika Serikat akan bertahan pada level tinggi juga membuat pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Di sisi lain, pelemahan indeks dolar AS memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah, sehingga turut membantu menjaga sentimen positif di pasar domestik.
Saham Perbankan dan Komoditas Beri Dukungan
Sejumlah saham berkapitalisasi besar dari sektor perbankan, energi, dan pertambangan menjadi penopang utama penguatan IHSG.
Minat investor terhadap saham-saham unggulan menunjukkan kepercayaan pasar terhadap fundamental emiten besar masih cukup kuat di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
Analis menilai rotasi dana ke sektor-sektor defensif dan berbasis komoditas menjadi salah satu faktor yang menjaga indeks tetap berada di jalur positif hingga penutupan perdagangan.
Peluang Pekan Depan Masih Terbuka
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri, yang diperkirakan akan memengaruhi arah IHSG pada pekan depan.
Perhatian investor akan tertuju pada perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral global, data inflasi, arus investasi asing, serta pergerakan harga komoditas dunia.
Jika tekanan eksternal mulai mereda dan nilai tukar rupiah tetap stabil, peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan masih terbuka. Namun, volatilitas diperkirakan tetap tinggi sehingga investor disarankan mempertimbangkan strategi investasi secara cermat dengan memperhatikan kondisi fundamental emiten dan perkembangan ekonomi global.
Editor : Mahendra Aditya