JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau meski pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian akibat meningkatnya tensi geopolitik dan kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga dunia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada perdagangan Jumat (10/7/2026) ditutup naik 11,92 poin atau 0,20 persen ke level 5.924,36. Penguatan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar saham domestik masih mampu bertahan di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan indeks didukung oleh 364 saham yang menguat, sementara 241 saham melemah dan 185 saham lainnya bergerak mendatar.
Meski IHSG berakhir positif, aktivitas transaksi masih tergolong moderat. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp8,86 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 18,51 miliar saham yang berpindah tangan melalui sekitar 1,91 juta transaksi.
Saham Perbankan dan Komoditas Jadi Penopang
Penguatan IHSG terutama ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar dari sektor perbankan, pertambangan, dan bahan baku.
Beberapa emiten yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan indeks antara lain BMRI, CASA, AMMN, BRMS, dan ADRO.
Kinerja positif saham-saham tersebut mampu mengimbangi tekanan yang masih terjadi pada beberapa sektor lain, terutama teknologi dan infrastruktur.
Data perdagangan menunjukkan sektor barang baku, properti, energi, dan keuangan menjadi motor utama penguatan IHSG sepanjang sesi perdagangan.
Sebaliknya, sektor teknologi dan infrastruktur masih berada di bawah tekanan akibat aksi ambil untung serta sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif.
Investor Masih Waspadai Risiko Global
Pergerakan pasar saham Indonesia masih dipengaruhi berbagai perkembangan ekonomi dan geopolitik internasional.
Salah satu perhatian utama investor adalah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga energi dan arus investasi global.
Selain itu, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali mengingatkan bahwa risiko perlambatan ekonomi global masih tinggi, terutama jika inflasi bertahan dan suku bunga di negara-negara maju tetap berada pada level tinggi lebih lama dari perkiraan.
Di Amerika Serikat, investor juga mencermati data terbaru yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif kuat. Klaim pengangguran tetap berada di level rendah, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuannya.
The Fed juga dikabarkan terus melakukan evaluasi terhadap arah kebijakan moneternya melalui sejumlah kelompok kerja internal, sehingga pasar masih menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai langkah bank sentral AS dalam beberapa bulan mendatang.
Rupiah Dapat Dukungan dari Pelemahan Dolar AS
Di tengah ketidakpastian global, pelemahan indeks dolar Amerika Serikat menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
Nilai tukar rupiah memperoleh ruang penguatan karena tekanan dari mata uang dolar mulai berkurang, sehingga turut membantu menjaga sentimen investor terhadap aset-aset di Indonesia.
Pergerakan kurs yang lebih stabil juga memberikan optimisme terhadap arus masuk modal asing apabila kondisi global semakin kondusif.
Sentimen Domestik Masih Beragam
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati sejumlah perkembangan ekonomi.
Salah satunya adalah peluncuran kebijakan mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto, yang dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Sementara itu, laporan Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan ritel masih mengalami kontraksi secara bulanan. Meski demikian, laju penurunannya dinilai mulai membaik dibanding periode sebelumnya, sehingga memberikan sinyal bahwa konsumsi masyarakat berpotensi pulih secara bertahap.
Bursa Asia Mayoritas Menghijau
Optimisme juga terlihat di sebagian besar bursa saham Asia.
Indeks Kospi Korea Selatan mencatat kenaikan tertinggi, diikuti oleh Nikkei 225 Jepang, Shenzhen Composite, Hang Seng Hong Kong, ASX 200 Australia, FTSE Bursa Malaysia, serta Shanghai Composite yang sama-sama ditutup di zona positif.
Di sisi lain, hanya beberapa indeks regional seperti Straits Times Singapura dan Taiex Taiwan yang berakhir melemah.
Penguatan mayoritas bursa Asia dipicu meredanya kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia, meskipun investor tetap memantau perkembangan konflik geopolitik dan prospek kebijakan suku bunga global.
Peluang IHSG Pekan Depan
Analis menilai pergerakan IHSG pada pekan mendatang masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Fokus investor diperkirakan tertuju pada perkembangan kebijakan bank sentral utama dunia, data inflasi internasional, pergerakan harga komoditas, serta arus dana asing di pasar modal Indonesia.
Jika tekanan eksternal mulai mereda dan nilai tukar rupiah tetap stabil, IHSG dinilai memiliki peluang melanjutkan tren penguatan. Namun, volatilitas masih berpotensi tinggi sehingga investor disarankan tetap mencermati perkembangan ekonomi global sebelum mengambil keputusan investasi.
Editor : Mahendra Aditya