RADAR KUDUS – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan sepanjang perdagangan 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Meski indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah, sejumlah saham justru mencatatkan lonjakan harga yang sangat signifikan dan menjadi perhatian pelaku pasar.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG turun 0,35 persen menjadi 5.875,78, dibandingkan posisi pekan sebelumnya di level 5.896,13. Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar BEI juga menyusut 0,14 persen, dari Rp10.302 triliun menjadi Rp10.287 triliun.
Walau pasar bergerak negatif, sejumlah emiten mampu mencatatkan performa impresif. Bahkan, saham PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS) memimpin daftar top gainers dengan lonjakan lebih dari 71 persen hanya dalam sepekan.
Tekanan Makro Masih Membayangi Pasar Saham
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari kombinasi sentimen domestik maupun global yang masih menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Dari dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali mengalami kontraksi. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat berada di level 46,9, atau masih berada di bawah ambang ekspansi 50.
Selain itu, laju inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34 persen (year on year), sementara neraca perdagangan Indonesia dilaporkan kembali mengalami defisit sehingga turut memengaruhi sentimen pasar.
Dari sisi global, perhatian investor masih tertuju pada kondisi ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan, namun inflasi yang masih relatif tinggi membuat pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) belum akan terburu-buru memangkas suku bunga acuannya.
Di sisi lain, kenaikan harga emas dunia justru menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten yang bergerak di sektor pertambangan logam mulia.
Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang menambah tekanan terhadap IHSG selama sepekan.
Aktivitas Perdagangan Turut Melambat
Tak hanya indeks yang melemah, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga mengalami penurunan.
Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 16,71 persen menjadi sekitar 1,44 juta transaksi, dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 1,73 juta transaksi.
Volume transaksi harian juga terkoreksi cukup dalam, yakni 30,35 persen, dari 25,18 miliar saham menjadi 17,54 miliar saham.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian merosot 35,90 persen, dari Rp17,58 triliun menjadi hanya Rp11,27 triliun.
Investor asing pun masih melanjutkan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai sekitar Rp2,7 triliun, meski tekanan jual tersebut dinilai mulai lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya.
Daftar 10 Saham Top Gainers Pekan Ini
Di tengah pelemahan IHSG, berikut daftar saham dengan kenaikan harga tertinggi selama periode perdagangan 29 Juni–3 Juli 2026 berdasarkan data Bursa Efek Indonesia.
1. PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS)
TRUS menjadi bintang pekan ini setelah harga sahamnya melonjak 71,43 persen, dari Rp350 menjadi Rp600 per saham.
2. PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO)
Emiten produsen bahan baku makanan dan minuman ini mencatat kenaikan 70,59 persen, dari Rp170 menjadi Rp290 per saham.
3. PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF)
Saham sektor pangan ini menguat 55,73 persen, dari Rp131 menjadi Rp204 per saham.
4. PT Koka Indonesia Tbk (KOKA)
KOKA membukukan kenaikan 51,69 persen, dari Rp89 menjadi Rp135 per saham.
5. PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI)
ASPI melonjak 43,75 persen, dari Rp288 menjadi Rp414 per saham.
Lima Saham Lain yang Ikut Bersinar
Selain lima besar tersebut, sejumlah emiten lain juga berhasil mencatatkan apresiasi harga yang cukup tinggi.
6. PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO)
Naik 39,29 persen, dari Rp280 menjadi Rp390 per saham.
7. PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI)
Menguat 39,06 persen, dari Rp64 menjadi Rp89 per saham.
8. PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE)
Naik 36 persen, dari Rp100 menjadi Rp136 per saham.
9. PT Arkayan Lestari Grup Tbk (AYLS)
Melesat 34,75 persen, dari Rp118 menjadi Rp159 per saham.
10. PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI)
Menguat 32,26 persen, dari Rp62 menjadi Rp82 per saham.
Investor Tetap Diminta Mencermati Fundamental
Kenaikan harga saham dalam waktu singkat memang dapat menarik perhatian investor. Namun, analis mengingatkan bahwa lonjakan harga tidak selalu mencerminkan peningkatan fundamental perusahaan.
Pergerakan saham berkapitalisasi kecil dan menengah sering kali dipengaruhi sentimen jangka pendek, likuiditas pasar, maupun aksi spekulatif. Karena itu, investor disarankan tetap memperhatikan laporan keuangan, prospek bisnis, valuasi, serta keterbukaan informasi dari masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Dengan kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian serta arah kebijakan suku bunga bank sentral yang belum jelas, volatilitas di pasar saham diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Namun, peluang meraih keuntungan tetap terbuka bagi investor yang mampu memilih saham dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan.
Editor : Mahendra Aditya