JAKARTA – Setelah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Mata uang Garuda ditutup menguat ke level Rp17.860 per dolar AS pada perdagangan Jumat (12/6/2026), didorong derasnya arus modal asing serta respons positif pasar terhadap serangkaian kebijakan Bank Indonesia (BI).
Penguatan ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan eksternal, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga energi, hingga menguatnya dolar AS dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan bahwa stabilitas rupiah tetap membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten dan koordinasi erat antara otoritas moneter dan pemerintah.
Baca Juga: 7 Rekomendasi HP Terbaik 2026 untuk Semua Budget, Baterai Jumbo hingga Layar 144Hz
Rupiah Rebound, Tinggalkan Level Rp18.000
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 128,5 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp17.860 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat.
Sepekan sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga berada di kisaran Rp18.010–Rp18.020 per dolar AS, bahkan mencatat level psikologis terlemah sepanjang sejarah dengan menembus Rp18.000 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan perbaikan nilai tukar mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kebijakan yang ditempuh bank sentral.
"Nilai tukar rupiah pada Jumat ditutup pada level Rp17.865/Rp17.875 per dolar AS atau menguat 0,84 persen dibandingkan posisi pada 5 Juni 2026. Perkembangan ini menunjukkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," ujar Destry dalam keterangan resminya.
Kenaikan BI Rate Jadi Penopang Utama
Salah satu faktor utama yang menopang penguatan rupiah adalah keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga daya tarik aset domestik sekaligus meredam tekanan terhadap nilai tukar.
Selain kenaikan BI Rate, BI juga memperkuat sejumlah instrumen pendukung, antara lain:
-
Penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
-
Pemberian insentif hedging swap bagi investor asing.
-
Pembukaan akses repo guna menjaga likuiditas perbankan.
-
Intensifikasi operasi moneter di pasar rupiah dan valuta asing.
Kombinasi kebijakan tersebut dinilai efektif dalam menarik kembali minat investor global terhadap instrumen keuangan Indonesia.
Baca Juga: Harga Pertamax Melonjak, Ekonom Ingatkan Bahaya Migrasi ke Pertalite: APBN Bisa Kian Tertekan
Aliran Modal Asing Kembali Deras
Bank Indonesia mencatat peningkatan signifikan aliran dana asing pasca-kenaikan suku bunga.
Dalam dua hari perdagangan, yakni 10–11 Juni 2026, investor asing membukukan pembelian bersih pada sejumlah instrumen domestik.
Rinciannya:
-
Inflow SRBI nonresiden mencapai Rp15,11 triliun.
-
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp3,91 triliun.
-
Penjualan perdana obligasi internasional Danantara menembus Rp26,9 triliun.
Menurut Destry, angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga.
"Tingginya minat investor menunjukkan bahwa aset domestik tetap menarik meskipun tantangan global masih berlangsung," ujarnya.
Danantara Jadi Sinyal Positif
Keberhasilan penerbitan obligasi internasional Danantara menjadi salah satu sentimen positif tambahan.
Nilai penjualan perdana yang mencapai hampir Rp27 triliun memperlihatkan adanya keyakinan investor internasional terhadap prospek ekonomi nasional.
Di tengah kondisi pasar global yang cenderung berhati-hati, capaian tersebut dinilai memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi di kawasan berkembang.
Kerja Sama Regional Perkuat Ketahanan Rupiah
Selain mengandalkan instrumen domestik, BI juga memperkuat fondasi eksternal melalui kerja sama dengan bank sentral mitra strategis di Asia.
Bank Indonesia menjalin penguatan kerja sama dengan:
-
People's Bank of China (PBOC)
-
Hong Kong Monetary Authority (HKMA)
Terdapat tiga poin utama dalam kesepakatan tersebut, yakni:
1. Memperkuat Stabilitas Keuangan Regional
Sinergi antarotoritas moneter dilakukan untuk meningkatkan ketahanan sistem keuangan di masing-masing negara sekaligus kawasan.
2. Penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA)
Fasilitas pertukaran mata uang diperluas guna memperkuat cadangan likuiditas jika terjadi tekanan pasar.
3. Perluasan Local Currency Transaction (LCT)
Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral diperkuat agar ketergantungan terhadap dolar AS semakin berkurang.
"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," kata Destry.
Baca Juga: Hari Kedua Piala Dunia 2026: AS dan Kanada Siap Beraksi, Drama di Luar Lapangan Ikut Memanas
Masih Jauh dari Nilai Fundamental
Meski rupiah mulai pulih, BI menilai posisi saat ini belum mencerminkan nilai fundamental sebenarnya.
Bank Indonesia memperkirakan nilai tukar fundamental rupiah berada pada kisaran:
-
Rata-rata: Rp16.500 per dolar AS
-
Batas bawah: Rp16.200 per dolar AS
-
Batas atas: Rp16.800 per dolar AS
Dengan kata lain, kurs rupiah saat ini masih lebih lemah dibanding nilai intrinsik yang dihitung berdasarkan indikator ekonomi domestik.
Hal itu membuka ruang penguatan lebih lanjut apabila sentimen pasar tetap kondusif.
Tantangan Global Masih Membayangi
Di balik tren positif tersebut, sejumlah risiko eksternal masih perlu diwaspadai.
Di antaranya:
-
Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
-
Gejolak geopolitik yang dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.
-
Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global.
-
Fluktuasi arus modal asing di pasar negara berkembang.
Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Karena itu, Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara terukur.
Optimisme yang Tetap Dijaga
Penguatan rupiah menuju level Rp17.860 per dolar AS menjadi sinyal bahwa respons kebijakan Bank Indonesia mulai membuahkan hasil.
Arus modal asing kembali mengalir, minat investor terhadap instrumen domestik meningkat, dan koordinasi lintas otoritas terus diperkuat.
Namun, pekerjaan belum selesai.
Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, menjaga stabilitas nilai tukar tetap menjadi tantangan besar. Jika konsistensi kebijakan mampu dipertahankan dan kepercayaan pasar terus terjaga, rupiah berpeluang melanjutkan tren penguatan menuju kisaran fundamentalnya.
Bagi pemerintah dan pelaku ekonomi, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus membangun optimisme bahwa rupiah mampu bangkit dari tekanan yang sempat membawanya ke titik terlemah sepanjang sejarah.
Editor : Mahendra Aditya