RADAR KUDUS - Awan mendung kian tebal menyelimuti sektor finansial dalam negeri.
Tekanan hebat terhadap pasar keuangan Indonesia kembali memburuk secara signifikan pada pembukaan perdagangan hari Senin (8/6/2026).
Nilai tukar rupiah terpantau kembali terkoreksi tajam dan melorot ke posisi Rp18.137 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Garuda mencatatkan pelemahan sekitar 0,58 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pekan sebelumnya.
Posisi ini memperpanjang tren depresiasi yang mengkhawatirkan, setelah pada minggu lalu rupiah menembus level psikologis Rp18.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah ekonomi nasional.
IHSG Jatuh Terjerembap, Ratusan Saham Kompak Memerah
Sentimen negatif dari terpuruknya nilai tukar rupiah langsung menjalar kuat ke lantai bursa.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terperosok dalam hingga ke kisaran level 5.500, setelah pada sesi perdagangan sempat menyentuh titik terendah harian di level 5.395.
Ambrolnya indeks acuan ini dipicu oleh aksi jual massal yang melanda hampir seluruh sektor industri.
Derasnya aksi lepas portofolio oleh para investor tercermin jelas dari pergerakan emiten di papan perdagangan. Berdasarkan data bursa:
-
Saham Melemah: Sebanyak 497 saham kompak tumbang berada di zona merah.
-
Saham Menguat: Hanya ada 73 saham yang mampu bertahan dan menguat tipis.
-
Saham Stagnan: Sisanya bergerak mendatar di tengah minimnya sentimen positif.
Kondisi pasar yang timpang ini membuktikan bahwa para pelaku pasar tengah dilanda kepanikan dan memilih untuk mengamankan aset mereka ke dalam bentuk instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.
Kombinasi Sentimen Global dan Kekhawatiran Fiskal Internal
Sejumlah pengamat dan analis pasar modal menilai ambruknya rupiah dan IHSG kali ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang datang secara bersamaan (perfect storm).
Dari sisi global, keperkasaan indeks dolar AS dipicu oleh memanasnya kembali konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu stabilitas rantai pasok energi dunia.
Selain itu, adanya arus modal keluar (capital outflow) secara masif dari negara-negara berkembang (emerging markets) turut memperparah keringnya likuiditas valuta asing di dalam negeri.
Dari sisi internal, pelaku pasar masih dibayangi oleh kekhawatiran terkait kesinambungan kondisi fiskal Indonesia ke depan, terutama mengenai pembiayaan program-program berskala besar di tengah situasi makro yang tidak mendukung.
Pemerintah Imbau Tetap Tenang, Pasar Memilih Waspada
Merespons kepanikan pasar tersebut, otoritas fiskal mencoba meredam gejolak dengan memberikan pernyataan optimis.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa indikator fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam kondisi yang solid dan tangguh.
Menkeu juga memastikan bahwa pengelolaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dijaga secara ketat dan berada dalam batas koridor yang aman sesuai undang-undang.
Kendati pemerintah mengeluarkan imbauan agar pasar tidak panik, para pelaku pasar tampaknya memilih untuk bersikap jauh lebih hati-hati dan defensif.
Meningkatnya ketidakpastian global serta minimnya stimulus baru di pasar domestik membuat pergerakan rupiah dan IHSG diprediksi masih akan dibayangi oleh volatilitas tinggi dalam beberapa hari ke depan. (*)