Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sentuh Level Psikologis Baru: Rupiah Melemah Tajam terhadap Ringgit Malaysia hingga Tembus Rp4.506

Ghina Nailal Husna • Sabtu, 30 Mei 2026 | 22:42 WIB
 Rupiah Melemah Tajam terhadap Ringgit Malaysia hingga Tembus Rp4.506
Rupiah Melemah Tajam terhadap Ringgit Malaysia hingga Tembus Rp4.506

 

RADAR KUDUS – Tren pelemahan nilai tukar rupiah Indonesia (IDR) tampaknya masih terus berlanjut di pasar valuta asing regional.

Dalam pergerakan pasar keuangan terbaru, mata uang Garuda tercatat kembali mengalami depresiasi yang signifikan dan resmi menembus level psikologis baru terhadap mata uang ringgit Malaysia (MYR).

Berdasarkan data pasar spot valuta asing yang dipantau pada pukul 16.11 waktu setempat di Kuala Lumpur, nilai tukar rupiah terperosok hingga menyentuh posisi Rp4.506,62 per ringgit Malaysia.

Baca Juga: Kritik Keras DPRD Samarinda Terkait Syarat Masuk SD: TK Dilarang Calistung, tapi Masuk SD Wajib Bisa Membaca

Jika dikalkulasikan secara tahunan (year-on-year), performa mata uang Indonesia ini telah mengalami penyusutan nilai atau depresiasi yang cukup mendalam, yakni sekitar 9,56 persen terhadap ringgit.

Defisit Ganda dan Ketergantungan Impor Jadi Pemicu Utama

Para analis ekonomi menilai bahwa rapuhnya posisi rupiah di hadapan mata uang negara tetangga ini tidak lepas dari kondisi fundamental ekonomi domestik Indonesia yang masih didera tekanan berat.

Faktor utama yang menjadi sorotan para pelaku pasar adalah hantuan risiko twin deficit atau defisit ganda, yang meliputi defisit pada postur anggaran fiskal negara sekaligus defisit pada transaksi berjalan (current account deficit).

Kondisi makroekonomi tersebut kian diperparah oleh faktor operasional riil di lapangan.

Tingginya ketergantungan dan kebutuhan domestik terhadap impor komoditas energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), menjadi beban berat yang secara konstan menguras devisa negara dan memberikan tekanan yang sangat besar pada neraca perdagangan Indonesia.

Resiliensi Ringgit Didukung Fondasi Ekonomi yang Solid

Kondisi sebaliknya justru dipertontonkan oleh perekonomian Malaysia yang menunjukkan tingkat resiliensi dan stabilitas yang jauh lebih kokoh di tengah ketidakpastian global.

Ketahanan ringgit ditopang kuat oleh pencapaian surplus pada neraca transaksi berjalan serta kepemilikan cadangan devisa (foreign exchange reserves) yang sangat tebal.

Ketua Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd menjelaskan bahwa performa impresif ringgit dalam beberapa waktu terakhir merupakan buah manis dari kombinasi kebijakan ekonomi makro yang terukur.

"Apresiasi nilai tukar ringgit ini didorong secara langsung oleh fundamental ekonomi domestik Malaysia yang solid serta adanya implementasi serangkaian kebijakan pemerintah yang dinilai sangat ramah dan pro terhadap iklim investasi asing," ungkapnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh rilis data resmi dari Bank Negara Malaysia (BNM) yang mencatat adanya arus masuk modal asing (capital inflow) secara masif, baik di pasar portofolio maupun investasi langsung.

Aliran modal inilah yang menjadi mesin utama penggerak performa ringgit di pasar regional.

Perbedaan Struktur Ekonomi dan Relevansinya Terhadap SDGs

Secara garis besar, perbedaan performa kedua mata uang ini mencerminkan adanya ketimpangan struktural ekonomi yang cukup kontras antara kedua negara.

Di satu sisi, Malaysia berhasil mempertahankan posisinya sebagai negara eksportir bersih yang menikmati surplus perdagangan secara konsisten. 

Baca Juga: Raih Emas di Korea Selatan, Mahasiswa UNPAD Ciptakan Inovasi Susu Penenang Stres dari Ekstrak Kemangi

Di sisi lain, Indonesia masih terus berjuang keras menyeimbangkan tingginya pembiayaan fiskal dan ketergantungan impor.

Dari kacamata pembangunan makro jangka panjang, gejolak stabilitas nilai tukar ini memiliki korelasi erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Poin 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth).

Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi otoritas moneter bahwa penguatan fundamental ekonomi secara struktural—bukan sekadar intervensi pasar jangka pendek—merupakan harga mati yang harus dipenuhi demi menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menciptakan stabilitas finansial nasional, serta mempertahankan daya saing komoditas negara di panggung perdagangan global. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#ringgit Malaysia Rp4.500 #defisit ganda Indonesia #Bank Negara Malaysia #SDGs pertumbuhan ekonomi #rupiah melemah