Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Loyo Cetak Rekor Terburuk dalam Sejarah, Tembus Rp17.803 per Dolar AS pada Selasa Pagi

Ghina Nailal Husna • Selasa, 26 Mei 2026 | 23:22 WIB
Rupiah Loyo Cetak Rekor Terburuk dalam Sejarah
Rupiah Loyo Cetak Rekor Terburuk dalam Sejarah

 

RADAR KUDUS — Pasar keuangan domestik kembali dihantam gelombang tekanan hebat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam hingga mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah pada sesi perdagangan Selasa (26/5/2026) pagi.

Tekanan eksternal yang masif memaksa mata uang Garuda tunduk di bawah keperkasaan indeks dolar AS (greenback) hingga melewati level psikologis baru di angka Rp17.800.

Berdasarkan data real-time dari Bloomberg, pergerakan rupiah sudah menunjukkan indikasi pelemahan sejak pembukaan pasar, di mana nilai tukar dibuka lesu pada level Rp17.746 per dolar AS.

Baca Juga: Silang Pendapat Anggaran Makan Bergizi Gratis: Kemenkeu Sebut Efisiensi Rp67 Triliun, BGN Beri Bantahan Resmi

Arus penjualan aset domestik oleh investor asing memicu depresiasi yang kian mendalam, hingga pada pukul 09.34 WIB, rupiah terpantau ambles menyentuh titik terendahnya di level Rp17.803 per dolar AS. 

Sepanjang paruh pertama perdagangan pagi ini, rupiah berfluktuasi sangat tinggi di kisaran Rp17.745 hingga level terlemah Rp17.834 per dolar AS. 

Kinerja ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia sepanjang tahun berjalan.

Kontras Regional: Ringgit dan Yuan Justru Unjuk Gigi

Di tengah nestapa yang dialami rupiah, pemandangan kontras justru diperlihatkan oleh sejumlah mata uang utama di Asia tenggara dan Asia timur.

Yuan China (CNY) dan Ringgit Malaysia (MYR) justru tampil tangguh dan sukses membukukan penguatan signifikan terhadap dolar AS, didorong oleh fundamental ekonomi internal mereka yang solid.

Ringgit Malaysia, misalnya, berhasil menguat berkat derasnya arus modal asing (capital inflow) yang masuk secara masif ke pasar saham Kuala Lumpur.

Sementara itu, Yuan China terus mendapatkan sentimen positif seiring dengan meningkatnya volume penggunaan mata uang tersebut sebagai alat pembayaran alternatif dalam sistem perdagangan global (internasionalisasi yuan), serta meredanya tensi perdagangan antara AS dan China.

Ketangguhan ekonomi Negeri Tirai Bambu ini bahkan diamini oleh deretan lembaga keuangan raksasa dunia seperti HSBC, Deutsche Bank, hingga Goldman Sachs.

Dalam laporan riset global terbarunya, mereka memproyeksikan bahwa Yuan China masih memiliki ruang penguatan vertikal yang sangat lebar dalam beberapa tahun ke depan.

Alarm Keras Bagi Stabilitas Moneter Dalam Negeri

Tekanan yang dihadapi Indonesia terasa kian mengkhawatirkan jika melihat perbandingan performa antar-mata uang regional.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Hebat, Merosot hingga Level Rp17.800 per Dolar AS di Tengah Lonjakan Mata Uang Asia

Sepanjang tahun kalender 2026 ini, nilai tukar rupiah tercatat telah terdepresiasi atau melemah lebih dari 9% baik terhadap Yuan China maupun Ringgit Malaysia.

Data ini menjadi indikator kuat bahwa persoalan yang dihadapi rupiah tidak semata-mata karena faktor global (global shock), melainkan adanya faktor kerentanan domestik yang membuat nilai tukar Indonesia lebih sensitif terhadap gejolak ketidakpastian dunia.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter untuk segera merumuskan bauran strategi intervensi yang lebih agresif—baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar obligasi—guna menahan laju pelemahan agar tidak memicu pembengkakan biaya impor (imported inflation) yang berisiko mengganggu stabilitas ekonomi nasional secara makro. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Rupiah Anjlok Hari Ini #Rekor Terburuk Rupiah 2026 #Nilai Tukar Dolar Bloomberg #Penguatan Ringgit dan Yuan #Krisis Valuta Asing Indonesia