Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Melemah Lagi! Dolar AS Naik ke Rp17.640 Meski BI Sudah Bertindak

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 21 Mei 2026 | 17:08 WIB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Setelah sempat menguat sehari sebelumnya, mata uang Garuda kini kembali tertekan di tengah penguatan dolar AS global dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve.

Berdasarkan data perdagangan Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.640 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23 persen dibanding penutupan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu, rupiah sempat menguat 0,54 persen dan berada di posisi Rp17.600 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sepanjang hari terbilang cukup fluktuatif. Mata uang Indonesia itu membuka perdagangan di level Rp17.600 per dolar AS sebelum akhirnya melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.685 per dolar AS. Menjelang penutupan pasar, tekanan mulai mereda meski rupiah tetap berada di zona merah.

Baca Juga: Rupiah Melemah Lagi Usai BI Rate Naik, Dolar AS Hampir Sentuh Rp 17.700

Di saat yang sama, indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) terpantau menguat. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tersebut naik sekitar 0,22 persen ke level 99,308.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani rupiah. Investor global kembali memburu aset berbasis dolar setelah muncul sinyal kuat bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed, masih membuka peluang kenaikan suku bunga.

Risalah rapat terbaru The Fed menunjukkan sebagian besar pejabat mendukung kebijakan suku bunga lebih tinggi apabila inflasi tetap bertahan di atas target 2 persen. Kondisi itu membuat pasar mulai memperkirakan adanya kenaikan suku bunga tambahan dalam beberapa waktu mendatang.

Data pasar bahkan menunjukkan peluang sekitar 70 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Pelaku pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan paling lambat pada Maret 2027.

Sentimen global lainnya datang dari perkembangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, menyebut negosiasi kedua negara memasuki tahap akhir. Namun ia juga mengingatkan kemungkinan langkah lebih keras jika kesepakatan gagal tercapai.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia sebelumnya telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada Rabu lalu.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keputusan BI tersebut sudah tepat karena menunjukkan otoritas moneter bergerak cepat menghadapi tekanan pasar.

Menurutnya, kenaikan suku bunga bukan sekadar langkah teknis, tetapi juga sinyal bahwa Indonesia tetap menjaga arah kebijakan moneternya di tengah gejolak global. Ia menilai keterlambatan respons justru bisa membuat biaya stabilisasi rupiah menjadi jauh lebih besar.

Fakhrul juga memperkirakan tekanan terhadap rupiah mulai mereda secara bertahap. Ia memproyeksikan rupiah berpeluang kembali menguat menuju kisaran Rp17.300 per dolar AS sebelum perlahan bergerak ke level keseimbangan baru di sekitar Rp16.800 per dolar AS.

Editor : Mahendra Aditya
#dolar AS naik #kurs rupiah 2026 #BI Rate 5 #Rupiah hari ini #the fed