JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Di pasar spot, kurs rupiah ditutup melemah tipis Rp 13 atau sekitar 0,07 persen ke level Rp 17.667 per dolar AS. Padahal sehari sebelumnya rupiah sempat menguat setelah sempat menyentuh posisi Rp 17.706 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) justru menunjukkan penguatan tipis. Rupiah tercatat naik Rp 12 atau 0,07 persen ke posisi Rp 17.673 per dolar AS.
Baca Juga: Dana Rp 4,2 Miliar Mengendap, Puluhan Nasabah BMT BUS Blora Tempuh Jalur Hukum
Pelaku pasar kini fokus mencermati dampak kebijakan Bank Indonesia yang secara agresif menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut diambil setelah mata uang Garuda beberapa kali mencetak level terlemah sepanjang bulan ini.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen dianggap sebagai upaya memperkuat daya tarik aset domestik sekaligus menahan tekanan dari penguatan dolar AS di pasar global.
Pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar setelah turun 0,45 persen.
Baht Thailand juga terkoreksi sekitar 0,13 persen. Dolar Singapura melemah 0,06 persen, sementara yen Jepang turun 0,04 persen terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong ikut tertekan meski dalam skala sangat kecil.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu bergerak positif. Rupee India menguat 0,47 persen dan peso Filipina naik 0,21 persen.
Ringgit Malaysia turut terapresiasi sekitar 0,18 persen. Dolar Taiwan naik 0,16 persen, sedangkan yuan China bergerak tipis menguat terhadap mata uang Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi pergerakan indeks dolar AS yang kembali menguat. Indeks dolar tercatat naik 0,07 persen ke level 99,16 setelah sehari sebelumnya sempat melemah.
Pasar global kini menyoroti arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed. Risalah rapat terbaru menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed mulai membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi AS tetap bertahan di atas target 2 persen.
Sejumlah pejabat bahkan memberi sinyal penghentian pelonggaran moneter dan mempertimbangkan langkah pengetatan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat dolar AS kembali menguat dan memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Editor : Mahendra Aditya