RADAR KUDUS — Pemerintah pusat mengambil langkah proaktif guna membentengi daya beli masyarakat dari imbas gejolak nilai tukar rupiah yang kian tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, menginstruksikan kepada seluruh gubernur, bupati, dan wali kota di Indonesia untuk turun langsung ke lapangan memantau pergerakan harga barang pokok, tarif jasa, hingga biaya sektor transportasi.
Arahan tegas tersebut disampaikan Mendagri dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara hibrida dari Jakarta.
Tito menekankan bahwa penguatan mata uang dolar AS yang terjadi secara global akibat eskalasi geopolitik berpotensi memicu inflasi dari barang impor (imported inflation), yang lambat laun bisa merembet ke pasar domestik.
"Kondisi inflasi nasional yang saat ini relatif masih terkendali tidak boleh membuat para kepala daerah lengah.
Semua harus waspada, cek langsung ke pasar-pasar, dan pastikan tidak ada lonjakan harga yang membebani masyarakat akibat dampak pelemahan rupiah ini," tegas Tito Karnavian.
Warning Sektor Transportasi dan Energi
Kendati mencatatkan performa yang cukup baik dengan angka inflasi bulanan (April) yang terjaga rendah di level 0,13 persen, Mendagri memberikan catatan khusus pada beberapa sektor yang sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar.
Sektor transportasi diidentifikasi sebagai penyumbang andil kenaikan terbesar dalam struktur inflasi berkala.
Tingginya andil inflasi di sektor ini dipicu oleh dua faktor utama:
-
Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-Subsidi: Harga minyak mentah dunia yang merangkak naik memaksa penyesuaian harga BBM di dalam negeri.
-
Tarif Angkutan Udara: Komponen biaya operasional penerbangan, seperti avtur dan suku cadang pesawat, sangat bergantung pada transaksi mata uang dolar AS.
Mendagri mengingatkan bahwa kenaikan biaya transportasi memiliki efek domino yang cepat karena akan langsung mengerek biaya logistik distribusi barang ke berbagai wilayah.
Berkah Koreksi Harga Pangan Pasca-Lebaran
Di sisi lain, tren positif datang dari sektor pangan domestik. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, yang turut hadir dalam rapat tersebut menjelaskan bahwa tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan pokok pasca-berakhirnya momentum Hari Raya Idulfitri.
"Masuknya masa panen di beberapa wilayah serta normalisasinya permintaan masyarakat setelah puncak Lebaran membuat harga pangan bergerak turun (deflasi).
Hal inilah yang menjadi faktor penyelamat utama sehingga laju inflasi April tetap berada di level yang aman," urai Amalia.
Bayang-Bayang Geopolitik Global
Meski pasokan pangan domestik relatif aman, pemerintah meminta jajaran daerah tidak menutup mata terhadap faktor eksternal.
Konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah—melibatkan ketegangan antara blok AS-Israel melawan Iran—menjadi katalis utama yang mendorong meroketnya harga minyak dunia ke level tertinggi.
Kombinasi antara mahalnya harga energi global dan keperkasaan dolar AS menjadi tantangan ganda yang harus diwaspadai oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, BPS, dan pelaku usaha sangat dibutuhkan untuk melakukan intervensi pasar secara cepat melalui operasi pasar murah atau subsidi ongkos angkut apabila ditemukan komoditas yang harganya mulai bergerak liar. (*)