Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

BI Pangkas Batas Beli Dolar Jadi US$25 Ribu, Rupiah Terpuruk di Level Terendah

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 19 Mei 2026 | 16:50 WIB
Rupiah Tembus Rp17.508 per Dolar AS, Rekor Terlemah dalam Sejarah Indonesia
Rupiah Tembus Rp17.508 per Dolar AS, Rekor Terlemah dalam Sejarah Indonesia

RADAR KUDUS - Bank Indonesia resmi memangkas batas maksimal pembelian dolar Amerika Serikat tanpa transaksi pendukung menjadi hanya US$25.000 mulai Juni 2026. Kebijakan ini diambil sebagai langkah terbaru untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa batas baru tersebut hanya setengah dari ketentuan sebelumnya yang dipatok di level US$50.000 pada April 2026.

Sebelum itu, batas pembelian dolar tanpa underlying transaction bahkan masih berada di angka US$100.000. BI kini memperketat aturan secara bertahap untuk mengurangi spekulasi dan menekan permintaan dolar di pasar domestik.

Langkah tersebut diumumkan Perry Warjiyo dalam rapat bersama DPR pada Senin (18/5/2026). Menurutnya, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya agresif bank sentral dalam mempertahankan kestabilan rupiah di tengah tekanan global yang semakin berat.

Hingga Selasa sore, nilai tukar rupiah dilaporkan sudah melemah melewati level Rp17.700 per dolar AS. Angka tersebut menjadi titik terendah baru sepanjang sejarah dan jauh di atas asumsi kurs Rp16.500 yang digunakan pemerintah dalam APBN 2026.

Bank Indonesia mencatat pembatasan sebelumnya sudah mulai menunjukkan dampak terhadap transaksi valas domestik. Setelah limit US$50.000 diterapkan, porsi pembelian dolar tanpa transaksi pendukung turun menjadi 6,5 persen.

Sebelumnya, pada periode Januari hingga Maret 2026, transaksi jenis tersebut masih mencapai 10,8 persen dari total pembelian dolar di pasar.

Dengan aturan baru sebesar US$25.000, Bank Indonesia memperkirakan porsinya bisa kembali turun hingga sekitar 3,5 persen. Hal itu diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga kestabilan pasar keuangan nasional.

Perry menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan permintaan aset safe haven seperti dolar AS.

Selain membatasi pembelian dolar, BI juga menjalankan sejumlah strategi lain untuk menopang mata uang Garuda. Salah satunya mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen sejak Januari 2025.

Bank sentral juga meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI tenor 12 bulan menjadi 6,41 persen guna menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik.

Langkah kombinasi tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mengurangi tekanan terhadap kurs rupiah yang belakangan terus bergejolak.

Pelaku pasar kini menantikan efektivitas kebijakan terbaru BI dalam menahan laju pelemahan rupiah di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Editor : Mahendra Aditya
#kurs rupiah hari ini #Perry Warjiyo #pembelian dolar AS #bank indonesia #rupiah melemah