Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Proyeksi Inflasi Meningkat Akibat Rupiah Loyo, Menkeu Purbaya: "Jangan Takut, Ini Saatnya Serok Bawah"

Ghina Nailal Husna • Senin, 18 Mei 2026 | 22:07 WIB
Menkeu Purbaya: "Jangan Takut, Ini Saatnya Serok Bawah"
Menkeu Purbaya: "Jangan Takut, Ini Saatnya Serok Bawah"

 

RADAR KUDUS – Pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi tekanan ganda setelah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak mengalami koreksi dalam.

Situasi ini diperparah dengan peringatan dari Bank Indonesia (BI) mengenai potensi lonjakan inflasi dalam enam bulan ke depan yang diprediksi akan mengerek harga berbagai bahan pokok.

Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi situasi ini dengan sikap yang sangat optimistis, bahkan cenderung santai.

Baca Juga: Rupiah Terperosok ke Level Terendah, Primus Yustisio Desak Gubernur BI Mundur: "Ambillah Sikap Gentleman"

Ia meyakini bahwa gejolak yang terjadi saat ini hanyalah riak kecil yang tidak akan meruntuhkan struktur ekonomi nasional.

Peringatan Bank Indonesia: Badai Inflasi di Depan Mata

Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru yang dirilis Bank Indonesia, terdapat indikasi kuat adanya peningkatan tekanan inflasi di tingkat konsumen, terutama untuk periode Juni hingga September 2026.

Lonjakan ini terekam dalam angka Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang menunjukkan tren kenaikan signifikan.

Bank sentral mencatat bahwa pemicu utama dari ekspektasi ini adalah:

  • Melonjaknya Harga Bahan Baku: Depresiasi rupiah membuat biaya impor bahan baku industri menjadi lebih mahal.

  • Beban Biaya Produksi: Sektor manufaktur mulai merasakan tekanan biaya yang harus diteruskan ke harga jual final.

  • Harga Eceran: Pedagang diprediksi akan melakukan penyesuaian harga barang pokok dalam 3-6 bulan ke depan untuk menjaga margin keuntungan.

Menyikapi data dari BI, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak terjebak dalam kekhawatiran yang berlebihan.

Menurutnya, pondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih sehat dibandingkan periode krisis masa lalu.

"Tidak apa-apa, nanti kita perbaiki. Pondasi ekonomi kita bagus, pelemahan IHSG itu hanya masalah sentimen negatif jangka pendek saja," tutur Purbaya dalam pernyataannya, Senin (18/5/2026).

Purbaya juga kembali menegaskan bahwa membandingkan situasi saat ini dengan krisis 1998 adalah langkah yang tidak tepat secara historis maupun teknis. 

"Kalau rupiah melemah, seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. 

Beda. 1998 itu kebijakannya yang salah dan kita sudah resesi duluan. Sekarang pembangunan ekonomi tetap jalan dan tidak terganggu," tambahnya.

Menariknya, di tengah kepanikan pasar, Purbaya justru memberikan instruksi yang berani bagi para investor.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600, Menkeu Purbaya: Kondisi Ekonomi Saat Ini Jauh Berbeda dengan Krisis 1998

Ia memandang anjloknya harga saham sebagai kesempatan langka untuk membeli aset-aset berkualitas dengan harga diskon.

"Jangan takut atau khawatir. Justru kita serok bawah sekarang. Saat harga turun karena sentimen, itulah momentumnya. Kita perbaiki lagi pelan-pelan karena kekuatan ekonomi riil kita masih sangat mendukung," jelasnya.

Menkeu berkomitmen untuk tetap fokus menjaga agar program pembangunan strategis tetap berjalan guna memastikan mesin ekonomi terus berputar, sehingga tekanan inflasi yang diproyeksikan BI dapat diredam melalui penguatan sisi pasokan dan distribusi domestik. (*)

 

 

Editor : Ghina Nailal Husna
#Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa #Inflasi Indonesia 2026 #Survei Penjualan Eceran #Strategi Serok Bawah #kurs rupiah