Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Daya Beli Masyarakat Jadi Tameng Kokoh Terhadap Gejolak Global

Ghina Nailal Husna • Jumat, 15 Mei 2026 | 18:48 WIB
Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Daya Beli Masyarakat Jadi Tameng Kokoh Terhadap Gejolak Global
Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Daya Beli Masyarakat Jadi Tameng Kokoh Terhadap Gejolak Global

 

RADAR KUDUS – Di tengah riuh rendah kekhawatiran publik mengenai fluktuasi nilai tukar rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar optimistis.

Menkeu menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi yang sangat stabil.

Buktinya, ekonomi Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada triwulan pertama (Q1) tahun 2026.

Baca Juga: Rupiah Terperosok ke Level Rp17.600, Alarm Kenaikan Harga Tahu, Tempe, dan Mi Instan Berbunyi

Menurut Purbaya, angka pertumbuhan ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari kekuatan rill di masyarakat yang menjadi mesin penggerak utama ekonomi nasional.

Berbeda dengan anggapan bahwa pertumbuhan didorong oleh proyek pemerintah, Menkeu mengungkapkan bahwa konsumsi rumah tangga justru memberikan kontribusi paling signifikan.

Dari total pertumbuhan 5,61 persen tersebut, konsumsi rumah tangga menyumbang sebesar 2,94 persen.

"Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan, meskipun ada tekanan global," ujar Purbaya dalam siaran pers resminya.

Data ini mengindikasikan bahwa aktivitas pasar, perputaran uang di tingkat akar rumput, dan kepercayaan konsumen untuk berbelanja masih terjaga dengan sangat baik.

Menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat memicu trauma kolektif terhadap krisis moneter masa lalu, Purbaya meminta masyarakat untuk tetap tenang.

Ia menjamin bahwa kondisi fundamental ekonomi saat ini jauh berbeda dan jauh lebih kuat dibandingkan krisis 1998.

Saat ditemui awak media di Gedung Kejaksaan Agung, Purbaya memberikan jaminan bahwa pemerintah telah memetakan titik-titik lemah ekonomi dan siap melakukan intervensi yang diperlukan.

"Masyarakat tidak perlu panik karena fondasi ekonomi kita bagus. Kita tahu betul kelemahan di mana dan bisa kita perbaiki.

Kita tidak akan mengalami situasi sejelek tahun '98 lagi, bahkan tidak akan jelek sama sekali," tegas Purbaya dengan nada optimis.

Pemerintah bersama Bank Indonesia terus berkoordinasi untuk memperbaiki posisi mata uang Garuda di pasar internasional. Fokus utama pemerintah saat ini adalah:

Baca Juga: Rupiah Terperosok ke Rp17.600: Ancaman Inflasi Pangan Menghantui, Harga Mie Instan hingga Tempe Siap Melonjak

  • Menjaga Stabilitas Harga: Memastikan inflasi tetap terkendali agar daya beli tidak tergerus.

  • Optimalisasi Sektor Riil: Mendorong produktivitas industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.

  • Intervensi Terukur: Melakukan kebijakan fiskal dan moneter yang sinergis guna menstabilkan nilai tukar tanpa menghambat pertumbuhan.

Dengan capaian pertumbuhan yang melampaui ekspektasi di awal tahun ini, Menkeu yakin bahwa Indonesia memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global hingga akhir tahun 2026. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Konsumsi Rumah Tangga #Stabilitas Ekonomi 2026 #daya beli masyarakat #pertumbuhan ekonomi RI #Purbaya Yudhi Sadewa