Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gubernur BI Sebut Rupiah "Undervalued": Masuk Jajaran Mata Uang Terlemah Dunia Namun Fundamental Tetap Kokoh

Ghina Nailal Husna • Sabtu, 2 Mei 2026 | 18:34 WIB
Gubernur BI Sebut Rupiah "Undervalued" (@brushcoo)
Gubernur BI Sebut Rupiah "Undervalued" (@brushcoo)

 

RADAR KUDUS – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan tanggapan strategis terkait posisi nilai tukar rupiah yang terus tertekan dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan analisis terbaru, otoritas moneter menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued, atau diperdagangkan jauh di bawah nilai fundamentalnya.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas laporan global yang menempatkan mata uang Garuda dalam daftar lima besar mata uang dengan nilai tukar terlemah di dunia terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Wacana Negara Menyeleksi Aktivis HAM Tuai Kritik Tajam, DPR: Cacat Logika dan Ancam Hak Sipil!

Data nilai tukar menunjukkan bahwa rupiah saat ini bersanding dengan deretan mata uang dari negara-negara yang mengalami tekanan ekonomi berat.

Rupiah menempati posisi lima terbawah bersama Rial Iran, Pound Lebanon, Dong Vietnam, dan Kip Laos.

Meskipun secara nominal angka nilai tukar rupiah terlihat besar, Bank Indonesia menggarisbawahi bahwa posisi ini tidak bisa serta-merta dijadikan indikator kegagalan ekonomi domestik.

Pelemahan ini dianggap sebagai distorsi yang dipicu oleh sentimen eksternal yang masif, bukan mencerminkan daya tahan ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Menurut Bank Indonesia, tren pelemahan ini didorong oleh dinamika pasar keuangan global yang sangat volatil. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi meliputi:

Keperkasaan Dolar AS (Greenback): Kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lama di Amerika Serikat membuat investor menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets).

Ketidakpastian Geopolitik: Konflik global yang terus berlanjut memicu sentimen risk-off, di mana investor lebih memilih aset aman (safe haven) seperti emas dan dolar.

"Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih sangat solid jika dibandingkan dengan negara-negara dalam daftar tersebut. 

Pertumbuhan ekonomi kita terjaga, inflasi terkendali, dan cadangan devisa masih mencukupi. Oleh karena itu, rupiah saat ini jelas berada di posisi undervalued," tegas pihak Bank Indonesia.

Baca Juga: Prioritaskan Kesejahteraan Mental Buah Hati, Na Daehoon Resmi Batasi Akses Pertemuan Jule

Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap berada di pasar melalui kebijakan Triple Intervention. Langkah ini mencakup intervensi di pasar Spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing.

Otoritas moneter meyakini bahwa dengan fundamental yang kuat, nilai tukar rupiah memiliki ruang yang lebar untuk kembali menguat (appreciation) di masa mendatang seiring dengan meredanya tekanan global.

BI juga mengimbau para pelaku pasar dan investor untuk tetap tenang, karena kebijakan stabilisasi terus dilakukan guna memitigasi risiko volatilitas yang berlebihan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Mata Uang Terlemah #Fundamental Ekonomi #nilai tukar #bank indonesia #kurs rupiah