RADAR KUDUS - Perdagangan saham pada Rabu (25/3/2026) memperlihatkan pergeseran arah investasi yang cukup jelas.
Saat sebagian sektor lain bergerak terbatas, saham-saham berbasis komoditas—khususnya batu bara dan emas—justru mencuri perhatian pelaku pasar.
Sejumlah emiten energi seperti PT Bumi Resources Tbk, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk kompak menguat tajam hingga akhir sesi pertama di Bursa Efek Indonesia.
Saham BUMI memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 8,7% ke level Rp 224.
Disusul PTBA yang naik 6,5%, ITMG menguat 6,6%, serta AADI yang bertambah lebih dari 4%. Lonjakan ini menandai kembalinya minat investor ke sektor energi berbasis batu bara.
Energi dan CPO Jadi “Safe Haven” Sementara
Menurut pelaku pasar, penguatan saham batu bara tidak terjadi secara kebetulan.
Di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi harga minyak, sektor energi dan komoditas seperti crude palm oil (CPO) mulai dipandang sebagai instrumen lindung nilai (hedging).
Secara historis, saham-saham ini cenderung menguat ketika harga energi global tinggi atau saat pasar menghadapi tekanan eksternal.
Kondisi tersebut mendorong investor melakukan rotasi dana dari sektor yang lebih sensitif terhadap suku bunga dan ekonomi global.
Saham Emas Ikut Terdorong, Tapi Masih Rentan
Selain batu bara, saham berbasis emas seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk juga mengalami lonjakan signifikan, dengan kenaikan lebih dari 7% ke level Rp 730.
Namun, analis mengingatkan bahwa pergerakan saham emas masih sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni arah harga emas global dan aliran dana asing terkait penyesuaian indeks seperti GDX dan GDXJ. Artinya, volatilitas masih berpotensi tinggi.
Faktor Global Masih Jadi Penentu Arah Pasar
Di sisi lain, investor juga mencermati perkembangan global, termasuk dinamika harga minyak serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Penurunan harga minyak pasca-Lebaran dan sinyal meredanya konflik menjadi variabel penting yang bisa memengaruhi saham energi ke depan.
Selain itu, isu makro domestik seperti potensi pelebaran defisit fiskal, tekanan inflasi, serta pergerakan nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian pasar dalam menentukan strategi investasi.
Sinyal Rotasi Sektor Semakin Kuat
Penguatan serentak saham batu bara dan emas mengindikasikan adanya pergeseran strategi investor.
Dari sebelumnya fokus pada sektor pertumbuhan, kini dana mulai mengalir ke sektor berbasis komoditas yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak global.
Fenomena ini bisa menjadi sinyal awal rotasi sektor yang lebih luas, terutama jika ketidakpastian global masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Editor : Mahendra Aditya