RADAR KUDUS - Pergerakan besar terjadi di balik layar Bursa Efek Indonesia. Tanpa hiruk-pikuk di pasar reguler, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) mencatat transaksi jumbo bernilai Rp2,92 triliun melalui pasar negosiasi pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026.
Transaksi ini langsung menyita perhatian pelaku pasar, bukan hanya karena nilainya yang masif, tetapi juga karena aktor di baliknya berasal dari lingkaran pemilik sendiri.
Sebanyak 464,17 juta saham berpindah tangan pada harga rata-rata Rp6.300 per saham. Nilai ini setara dengan hampir satu hari penuh transaksi saham lapis utama di BEI.
Menariknya, transaksi tersebut difasilitasi oleh Trimegah Sekuritas Indonesia, yang bertindak sebagai pihak pembeli sekaligus penjual—sebuah pola khas transaksi internal atau penataan ulang kepemilikan.
Baca Juga: Harga Emas Turun Tipis Usai Ketegangan Global Mereda, Pasar Beralih ke Saham
Peran Trimegah dan Jejak Boy Thohir
Trimegah Sekuritas Indonesia, yang menggunakan kode broker LG, bukan pemain sembarangan. Perusahaan ini berada di bawah kendali Garibaldi “Boy” Thohir, salah satu figur sentral dalam ekosistem bisnis Grup Merdeka.
Boy tercatat menggenggam 34,68% saham Trimegah, menjadikannya pengendali efektif.
Keterlibatan Trimegah sebagai fasilitator tunggal menegaskan bahwa transaksi ini bukan transaksi pasar biasa, melainkan kesepakatan yang telah dirancang sebelumnya oleh para pemilik manfaat.
Di pasar, pola seperti ini sering dibaca sebagai konsolidasi kepemilikan, penataan struktur grup, atau persiapan langkah korporasi lanjutan.
Pasar negosiasi sendiri lazim digunakan untuk transaksi bernilai besar agar tidak mengguncang harga saham di pasar reguler. Namun, meski dilakukan secara tertutup, dampaknya tetap terasa.
Baca Juga: BEI Ketatkan Pengawasan: Saham BIPI dan SOCI Masuk Radar Khusus Bursa
Harga Saham Terkoreksi, Tapi Tren Masih Panas
Menariknya, di hari yang sama saham MDKA justru ditutup melemah 6,3% ke level Rp5.950. Padahal, harga tertinggi intraday sempat menyentuh Rp6.300, sejajar dengan harga transaksi negosiasi.
Penurunan ini membuat harga penutupan berada di bawah level sehari sebelumnya yang berada di Rp6.350.
Koreksi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor ritel: apakah transaksi jumbo ini menjadi sinyal distribusi, atau sekadar penyesuaian teknis setelah reli panjang?
Jika ditarik lebih panjang, performa MDKA justru tergolong spektakuler. Sejak awal Desember 2025, saham ini telah melesat sekitar 59%, dari kisaran Rp3.740.
Artinya, koreksi harian yang terjadi lebih menyerupai profit taking alami ketimbang pembalikan tren.
Siapa Pengendali Sebenarnya Saham MDKA?
Untuk memahami konteks transaksi ini, struktur kepemilikan MDKA menjadi kunci. Hingga 31 Desember 2025, penerima manfaat akhir saham MDKA tercatat adalah Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono.
Keduanya mengendalikan MDKA melalui PT Merdeka Copper Gold Tbk, dengan kepemilikan efektif mencapai 57,66%.
Di sisi lain, Boy Thohir juga memiliki kepentingan tidak langsung di MDKA. Ia tercatat memiliki 7,46% saham MDKA, baik melalui kepemilikan langsung maupun lewat entitas investasi.
Keterkaitan ini semakin kompleks karena Boy, Edwin, dan Sandiaga Salahuddin Uno juga terhubung lewat Saratoga Investama Sedaya, kendaraan investasi yang selama ini aktif di berbagai aksi korporasi strategis.
Dengan konfigurasi seperti ini, transaksi jumbo senilai Rp2,9 triliun lebih tepat dibaca sebagai manuver internal antar-entitas dalam grup besar, bukan aksi keluar-masuk investor asing atau spekulan jangka pendek.
Baca Juga: Saham SOCI Terjun Bebas ke Rp635, Pasar Kirim Sinyal Keras ke Saham Pelayaran
Apa Pesan yang Dibaca Pasar?
Meski tidak disertai keterbukaan informasi rinci soal tujuan transaksi, pelaku pasar menilai ada beberapa kemungkinan makna strategis.
Pertama, reposisi kepemilikan. Transaksi ini bisa menjadi bagian dari penataan ulang porsi saham antar entitas yang masih berada dalam lingkaran pengendali, tanpa mengubah kendali akhir.
Kedua, persiapan korporasi lanjutan. Dalam banyak kasus, transaksi negosiasi jumbo kerap mendahului langkah besar seperti aksi pendanaan, spin-off, atau restrukturisasi bisnis.
Ketiga, penguatan likuiditas internal. Dengan harga saham yang sudah naik signifikan, transaksi ini juga bisa menjadi sarana realokasi aset tanpa menekan harga pasar secara berlebihan.
Yang jelas, tidak ada indikasi perubahan pengendali atau pelepasan kepemilikan ke pihak eksternal.
Respons Investor: Waspada Tapi Belum Panik
Koreksi harga pasca-transaksi memang memicu kehati-hatian investor ritel. Namun, minimnya volume jual di level bawah menunjukkan pasar belum membaca transaksi ini sebagai sinyal negatif jangka panjang.
Sebaliknya, sebagian analis melihat langkah ini sebagai validasi valuasi, mengingat transaksi dilakukan di harga Rp6.300—lebih tinggi dari harga penutupan.
Dalam perspektif teknikal, MDKA masih berada dalam fase konsolidasi sehat setelah reli tajam. Selama tidak terjadi penurunan volume ekstrem atau aksi jual beruntun, tren jangka menengah dinilai masih terjaga.
MDKA dan Magnet Saham Tambang Emas
Tidak bisa dilepaskan, minat besar terhadap MDKA juga sejalan dengan sentimen positif sektor emas global.
Dengan harga emas dunia yang terus mencetak rekor dan proyeksi analis global yang semakin agresif, emiten berbasis emas kembali menjadi primadona.
MDKA, dengan portofolio tambang dan prospek ekspansi yang solid, berada di posisi strategis untuk menikmati sentimen tersebut. Inilah yang membuat setiap pergerakan besar di saham ini langsung menjadi sorotan.
Transaksi Besar, Makna Lebih Besar
Transaksi jumbo Rp2,9 triliun di saham MDKA bukan sekadar angka fantastis. Ia mencerminkan dinamika internal grup besar, sekaligus memberi sinyal bahwa saham ini sedang berada dalam fase penting perjalanan korporasinya.
Bagi investor, pesan utamanya jelas: pergerakan harga jangka pendek boleh berfluktuasi, tetapi arus besar kepemilikan masih solid di tangan pemain lama. Selama fondasi itu tidak berubah, MDKA tetap menjadi saham yang patut diperhatikan—bukan dihindari.
Editor : Mahendra Aditya