Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

PGEO Melonjak 9%, Pasar Mulai Bertaruh pada Kebangkitan Energi Panas Bumi

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:36 WIB
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

Jakarta — Setelah berbulan-bulan terjebak dalam tekanan jual dan pergerakan lesu, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) akhirnya menunjukkan tanda kehidupan.

Lonjakan harga hampir 9 persen dalam sehari bukan sekadar pantulan teknikal biasa, melainkan sinyal bahwa pasar mulai melirik kembali potensi jangka panjang sektor panas bumi—energi hijau yang selama ini bergerak senyap.

Pada perdagangan Selasa (13/1/2026), PGEO melesat 9,01% ke level Rp1.270 per saham.

Penguatan ini menjadi yang paling agresif sejak awal tahun sekaligus menempatkan harga di posisi tertinggi sejak awal November 2025.

Bagi pelaku pasar, ini bukan angka sembarangan, melainkan indikasi awal pembalikan tren.

Baca Juga: Emas, Nikel, Tembaga Menggila: Sinyal Bahaya atau Peluang Emas?

Dari Tertekan ke Titik Balik

Selama beberapa bulan terakhir, PGEO berada dalam fase menurun yang membuat banyak investor bersikap wait and see.

Saham ini cenderung bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah, seiring minimnya katalis dan sentimen yang belum sepenuhnya pulih.

Namun lonjakan terbaru mematahkan pola tersebut. Secara teknikal, PGEO berhasil keluar dari fase sideways yang berkepanjangan.

Pola harga membentuk konfigurasi V-pattern, yang dalam analisis teknikal sering diartikan sebagai tanda pemulihan cepat setelah tekanan yang dalam.

Dengan struktur pergerakan seperti ini, PGEO memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju area Rp1.390. Dari posisi penutupan terakhir, peluang kenaikan tambahan masih terbuka di kisaran 9 persen.

Baca Juga: BUMI, DEWA, BRMS Terkoreksi Tajam: Pasar Panik atau Strategi Bandar?

Meski demikian, pasar tetap perlu mencermati risiko. Jika terjadi koreksi dan harga turun menembus area penopang Rp1.155, saham ini berpotensi kembali bergerak mendatar lebih lama sebelum menemukan arah baru.

Lonjakan Harga dan Psikologi Pasar

Lonjakan harga PGEO bukan hanya soal grafik. Lebih dari itu, penguatan ini mencerminkan pergeseran psikologi pasar.

Setelah lama berada di bawah bayang-bayang keraguan, investor mulai melihat potensi baru di saham berbasis energi terbarukan, terutama panas bumi yang relatif stabil dibanding EBT lain.

Di tengah ketidakpastian global, energi panas bumi memiliki karakter defensif: pasokan stabil, tidak tergantung cuaca, dan selaras dengan agenda transisi energi nasional. Faktor-faktor inilah yang membuat PGEO kembali masuk radar investor.

Baca Juga: Saham Tambang dan Properti Diprediksi Menguat Pekan Ini

Menanti Arah Baru dari RUPS

Selain faktor teknikal, pelaku pasar juga menaruh perhatian besar pada agenda korporasi PGEO yang akan datang.

Perusahaan dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Selasa, 20 Januari 2026.

RUPS ini menjadi krusial karena akan membahas perubahan susunan pengurus, baik Direksi maupun Dewan Komisaris.

Agenda tersebut dinilai penting untuk menentukan arah strategis PGEO ke depan, khususnya dalam memperkuat tata kelola dan ekspansi bisnis panas bumi.

Rapat akan digelar secara hybrid—fisik di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, serta secara elektronik melalui platform eASY.KSEI. Pemegang saham yang tercatat per 24 Desember 2025 berhak mengikuti rapat ini.

Batas waktu konfirmasi kehadiran dan pemberian suara ditetapkan satu hari kerja sebelum rapat, yakni 19 Januari 2026 pukul 12.00 WIB.

Baca Juga: Reli BUMI dan Efek Lo Kheng Hong: Pasar Mulai Berburu Saham Undervalued

Pergantian Dirut, Tantangan dan Harapan

Sorotan pasar juga tertuju pada dinamika manajemen PGEO. Sebelumnya, perusahaan mengumumkan pengunduran diri Direktur Utama Julfi Hadi, yang efektif sejak surat pengunduran dirinya diterima pada 25 November 2025.

Julfi Hadi bukan figur sembarangan. Ia dikenal sebagai profesional geothermal dengan pengalaman lebih dari 35 tahun di sektor panas bumi, baik di dalam maupun luar negeri.

Latar belakang akademiknya di bidang geologi dari University of Texas, El Paso, serta keterlibatannya dalam proyek besar seperti Wayang Windu dan Darajat, menjadi bagian penting dari perjalanan PGEO.

Kepergian figur sentral ini sempat menimbulkan ketidakpastian di pasar. Namun justru di sinilah momentum baru muncul.

Investor kini menanti sosok pengganti yang mampu membawa perspektif segar dan strategi agresif untuk mendorong pertumbuhan.

Energi Panas Bumi dan Cerita yang Terlupakan

Di balik pergerakan saham, PGEO sebenarnya berada di sektor yang memiliki cerita besar namun kerap luput dari sorotan.

Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal.

PGEO, sebagai pemain utama di sektor ini, memiliki posisi strategis untuk mengambil peran lebih besar dalam transisi energi nasional.

Ketika dunia mulai menekan emisi karbon dan mencari sumber energi bersih yang berkelanjutan, panas bumi menjadi aset jangka panjang yang nilainya sering kali belum sepenuhnya tercermin di harga saham.

Lonjakan 9 persen ini bisa dibaca sebagai awal perubahan narasi: dari saham EBT yang tertinggal, menjadi saham energi hijau yang kembali diperhitungkan.

Bukan Sekadar Rebound

Penting untuk dicatat, penguatan PGEO kali ini bukan hanya reaksi sesaat. Kombinasi sinyal teknikal, ekspektasi agenda RUPS, serta sentimen global terhadap energi bersih menciptakan fondasi yang lebih kokoh dibanding rebound biasa.

Jika manajemen baru mampu menyajikan arah bisnis yang jelas dan ekspansi yang terukur, PGEO berpeluang keluar dari bayang-bayang stagnasi dan memasuki fase pertumbuhan baru.

Editor : Mahendra Aditya
#breakout saham EBT #Saham #saham hari ini #PGEO #saham energi terbarukan #pertamina #saham pgeo