Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Net Sell Asing Tembus Rp 42,34 Triliun, Ini Arah Baru Pasar Saham Indonesia di 2026

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 1 Januari 2026 | 17:43 WIB
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

RADAR KUDUS - Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang tidak ringan. Di tengah fluktuasi global dan pelemahan nilai tukar rupiah, investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran. Angkanya tidak main-main.

Dana asing yang keluar dari pasar reguler mencapai Rp 42,34 triliun sepanjang tahun, sebuah sinyal kuat bahwa sentimen global masih membayangi bursa domestik.

Meski demikian, cerita pasar modal tidak pernah satu arah. Di balik angka net sell yang mencolok, mulai terlihat celah pemulihan yang berpotensi membuka babak baru di 2026.

Rekap Aliran Dana Asing di Akhir 2025

Pada hari perdagangan terakhir 2025, Selasa (30/12), aliran dana asing kembali mencatatkan arus keluar. Total dana yang hengkang dari seluruh pasar mencapai Rp 937,79 miliar, dengan Rp 888,53 miliar di antaranya berasal dari pasar reguler.

Jika ditarik sejak awal tahun, angka tersebut mengakumulasi tekanan yang cukup dalam. Secara year to date, dana asing keluar Rp 17,34 triliun dari seluruh pasar dan melonjak hingga Rp 42,34 triliun di pasar reguler.

Angka ini menegaskan bahwa 2025 menjadi tahun yang menantang bagi pasar saham Indonesia dari sisi kepemilikan asing.

Rupiah Jadi Faktor Penekan Utama

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi pemicu utama hengkangnya dana asing.

Ketika nilai tukar tertekan, investor global menghadapi risiko ganda: volatilitas harga saham dan potensi kerugian kurs.

Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga saham domestik belum tentu cukup menarik bagi investor asing. Keuntungan di pasar saham bisa tergerus oleh pelemahan nilai tukar, sehingga strategi keluar dianggap lebih aman.

Namun, Teguh melihat kondisi tidak sepenuhnya gelap. Dalam tiga bulan terakhir 2025, justru tercatat arus masuk dana asing yang cukup signifikan.

Net buy mencapai Rp 37,13 triliun di seluruh pasar dan Rp 3,55 triliun di pasar reguler. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa sentimen bisa berubah.

Dampak Kebijakan Global Mulai Terasa

Perubahan arah aliran dana tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Penurunan suku bunga acuan The Fed serta dinamika quantitative tightening membuat likuiditas dolar AS di pasar global meningkat.

Kondisi ini mendorong investor global kembali melirik aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.

Bursa besar seperti Jepang dan China menjadi tujuan utama aliran dana. Indonesia pun ikut kebagian, meski porsinya belum sebesar dua negara tersebut.

Menurut Teguh, Indonesia masih dipandang sebagai opsi diversifikasi portofolio, bukan tujuan utama investasi asing.

Mengapa Asing Banyak Melepas Saham di 2025

Dari sisi analis, David Kurniawan dari Indo Premier Sekuritas memaparkan beberapa faktor yang menjelaskan derasnya aksi jual asing sepanjang 2025.

Pertama, suku bunga global yang masih berada di level tinggi membuat aset aman seperti obligasi AS dan dolar menjadi pilihan utama.

Kedua, sentimen risk-off akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi global turut menekan minat terhadap pasar saham.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian, investor cenderung menahan risiko dan memindahkan dana ke instrumen yang lebih stabil.

Selain itu, terjadi rotasi dana ke obligasi pemerintah Indonesia, baik SBN maupun SRBI, yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko relatif lebih terkendali.

Saham Blue Chip Jadi Korban Aksi Jual

Aksi jual asing paling banyak menyasar saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Nama-nama seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM menjadi daftar emiten yang paling sering dilepas. Beberapa saham komoditas juga ikut terdampak, terutama ketika harga komoditas global mengalami pelemahan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa investor asing tidak ragu melepas saham unggulan ketika sentimen global memburuk, meskipun fundamental perusahaan relatif solid.

Proyeksi 2026, Ada Harapan Net Buy?

Memasuki 2026, ekspektasi mulai bergeser. Dengan potensi pelonggaran kebijakan moneter global dan stabilisasi nilai tukar, peluang kembalinya aliran dana asing terbuka lebar.

Jika rupiah mampu bertahan dan tekanan global mereda, pasar saham Indonesia berpeluang mencatatkan net buy asing.

Selain faktor global, daya tarik valuasi saham domestik juga menjadi modal penting. Setelah ditekan cukup lama, banyak saham berkualitas kini berada di level harga yang lebih menarik bagi investor jangka panjang.

Tahun Penentuan bagi Pasar Saham

Tahun 2025 mungkin akan dikenang sebagai periode penuh tekanan bagi pasar saham Indonesia. Namun, dinamika pasar selalu bergerak siklikal. Ketika tekanan mereda dan sentimen membaik, arah aliran dana bisa berbalik dengan cepat.

Bagi pelaku pasar, 2026 berpotensi menjadi tahun penentuan. Apakah dana asing benar-benar kembali deras, atau justru masih memilih sikap wait and see.

Satu hal yang pasti, pergerakan asing akan tetap menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar saham Indonesia ke depan.

Editor : Mahendra Aditya
#Saham #pasar saham #Net sell asing #investor asing #Proyeksi saham 2026 #saham blue chip #pasar saham anjlok