RADAR KUDUS - Di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan sebuah sinyal penting: pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia belum kembali pulih sepenuhnya.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam rapat kerja bersama DPD RI dan Gubernur Bank Indonesia pada 17 November 2025.
Konsumsi masyarakat selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, data dan kondisi terbaru menunjukkan bahwa dorongan pemulihan belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan global yang menekan arah ekonomi nasional.
Stabilitas Keuangan Tetap Kuat Meski Konsumsi Lemah
Mahendra menegaskan bahwa meski konsumsi masih tertahan, stabilitas sektor jasa keuangan justru tetap solid. Sistem perbankan berada dalam kondisi yang sehat, dengan modal kuat dan likuiditas yang lebih dari memadai.
Ia menyebutkan bahwa hingga September 2025:
-
Rasio kecukupan modal (CAR) berada di posisi sangat tinggi: 26,15%
-
Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 205,94%, jauh di atas batas regulasi
-
Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,16% YoY menjadi Rp 9.694 triliun
Dengan angka tersebut, perbankan Indonesia berada di posisi nyaman untuk menyerap guncangan eksternal dan tetap mampu menyalurkan kredit.
Tekanan Global Jadi Biang Keterbatasan Konsumsi
Menurut Mahendra, perjalanan pemulihan ekonomi Indonesia masih menghadapi hambatan besar dari kondisi global. Ketidakpastian dunia—mulai dari perlambatan ekonomi negara besar, pengetatan finansial, hingga tensi geopolitik—menghambat laju permintaan domestik.
Rebound konsumsi yang diharapkan sejak pertengahan tahun justru tidak sekuat perkiraan semula. Mahendra menegaskan bahwa situasi ini bukan akibat lemahnya perbankan, melainkan faktor eksternal yang memperlambat reaksi belanja masyarakat.
Pada sisi lain, penyaluran kredit tetap tumbuh, meskipun kecepatannya masih terpengaruh tekanan global. Total kredit per September tercatat Rp 8.163 triliun, naik 7,7% YoY, lebih tinggi dibanding Agustus yang hanya tumbuh 7,56%.
Risiko Kredit Tetap Terkendali
Di tengah tren konsumsi yang belum pulih, risiko kredit justru termasuk dalam kategori aman. Rasio NPL Gross 2,24% dan NPL Net 0,86% menunjukkan bahwa kualitas kredit tidak memperlihatkan tanda-tanda krisis.
Dengan NPL yang stabil, perbankan memiliki ruang lebih besar untuk tetap menyalurkan kredit tanpa harus memperketat standar secara ekstrem.
Optimisme Masih Ada: Perbaikan Konsumsi Diprediksi Bertahap
Walaupun sinyal konsumsi belum menunjukkan percepatan, Mahendra optimis bahwa tren positif akan terbentuk. Alasannya jelas: perbankan Indonesia memiliki fundamental yang kuat. Modal tebal, DPK yang terus tumbuh, dan likuiditas yang sangat longgar menjadi modal utama untuk menopang pemulihan konsumsi.
Likuiditas yang melimpah memungkinkan perbankan menyediakan kredit konsumsi, kredit UMKM, hingga kredit produktif secara agresif namun tetap terukur. Kombinasi faktor-faktor ini membuat peluang percepatan konsumsi tetap terbuka dalam beberapa kuartal ke depan.
Mengapa Konsumsi Tidak Langsung Melonjak?
Sejumlah analis menilai bahwa masyarakat masih berhati-hati karena beberapa faktor:
-
Harga barang kebutuhan yang belum stabil
-
Efek rambatan perlambatan global terhadap pendapatan sektor-sektor tertentu
-
Perilaku berhemat di tengah ketidakpastian
-
Belum optimalnya penyerapan stimulus konsumsi pada beberapa wilayah
Faktor-faktor inilah yang membuat belanja rumah tangga tidak melonjak seperti yang diharapkan.
Momentum Penting bagi Arah Kebijakan 2026
Pernyataan OJK menjadi alarm penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan fiskal dan moneter memasuki 2026. Konsumsi yang tertahan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi jika tidak mendapat dorongan kebijakan yang kuat.
BI dan pemerintah pusat kemungkinan akan memperkuat sinergi dalam:
-
Insentif konsumsi rumah tangga
-
Relaksasi kredit produktif
-
Stimulus sektor UMKM
-
Program penguatan daya beli langsung
Dengan perbankan yang sedang dalam kondisi “super sehat”, eksekusi kebijakan dinilai bisa berjalan lebih efektif.
Konsumsi Lemah, Tapi Fondasi Ekonomi Tetap Kuat
OJK menegaskan dua hal penting:
-
Konsumsi masyarakat memang belum pulih secara maksimal.
-
Namun, sistem keuangan Indonesia sangat kuat untuk menopang pemulihan.
Meski situasi global masih membayangi, Indonesia berada pada posisi yang jauh lebih stabil dibanding banyak negara lain. Dengan perbankan yang solid, risiko kredit rendah, dan likuiditas melimpah, peluang rebound konsumsi dalam waktu dekat sangat terbuka.
Editor : Mahendra Aditya