KUDUS – Menjaga pola makan dan pola hidup sehat bukan hanya sekadar anjuran, tetapi investasi jangka panjang bagi kesehatan.
Terlalu sering mengonsumsi makanan pedas, apalagi dengan kondisi perut kosong, bisa berujung pada gangguan pencernaan yang cukup serius.
Itulah yang dialami oleh Azharun Naila Arofa (17), pelajar asal SMK Negeri 1 Kudus.
Pelajar yang akrab dipanggil Naila tinggal bersama orang tuanya di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Ia adalah anak tunggal dan sudah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak duduk di bangku sekolah dasar melalui segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) karena ayahnya bekerja di sebuah perusahaan.
Beberapa waktu lalu, Naila terpaksa absen sekolah selama satu minggu akibat sakit maag disertai diare dalam waktu yang bersamaan.
Penyebabnya sederhana, tapi berdampak besar.
“Gejala awalnya itu saya makan makanan instan yang pedas sekali. Waktu itu saya tidak sarapan dulu, langsung makan pedas. Perut saya langsung terasa sakit dan melilit. Sebelumnya saya tidak pernah terkena maag, tapi karena gejalanya mirip, ibu saya memberikan saya obat maag dari warung. Sayangnya perut saya masih terasa sakit dan tidak sembuh-sembuh,” cerita Naila.
Melihat kondisi yang tak kunjung membaik, ibu Naila memutuskan membawanya ke Puskesmas Kaliwungu, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat keluarganya terdaftar.
Dokter menyatakan ia mengalami maag dan diare sekaligus.
“Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Dokter memberikan obat dan meminta saya untuk istirahat di rumah terlebih dahulu dan makan makanan yang sehat. Butuh beberapa kali minum obat dan waktu istirahat supaya sembuh,” ujar Naila.
Setelah seminggu beristirahat, Naila memutuskan untuk kembali ke sekolah. Namun, di hari pertamanya, ia yang belum fit, langsung mengalami pingsan.
“Karena waktu itu ada acara sosialisasi yang harus naik ke lantai dua, saya memaksakan ikut meskipun badan saya belum kuat. Besoknya saya coba masuk lagi sampai akhirnya benar-benar pulih,” kata Naila.
Pengalaman sakit perut tersebut membuatnya kapok, ia memutuskan untuk sedikit demi sedikit menjaga pola makannya.
“Saya benar-benar tidak mau lagi makan pedas berlebihan, apalagi kalau belum makan apapun. Sakitnya bikin tidak bisa beraktivitas seperti biasa,” ungkap Naila sambil tersenyum tipis.
Bukan hanya dirinya, anggota keluarga Naila yang lain juga punya riwayat masalah pencernaan yang sama.
“Bapak pernah kena maag juga, gejalanya mirip. Waktu berobat ke puskesmas, diberikan obat langsung berangsur sembuh. Untung di faskes pertama nggak ada pembatasan, jadi kalau sakitnya kambuh bisa langsung berobat lagi,” kata Naila.
Ibu Naila juga mengalami hal yang sama, ibu Naila bahkan harus rutin berobat karena asam lambung yang awalnya dipicu maag.
“Kadang saya ikut mengantarkan kalau ibu lagi kambuh ke Puskesmas Kaliwungu. Pemicu asam lambungnya kadang tidak menentu, bisa tiba-tiba muncul,” jelas Naila.
Selain karena asam lambung yang di deritanya, sang ibu juga beberapa kali memanfaatkan layanan puskesmas untuk penyakit ringan seperti demam, batuk, atau pilek.
“Karena faskes saya dekat rumah, kalau ibu sakit ya langsung ke puskesmas. Praktis disana terus, karena dokternya juga mengetahui riwayat penyakit ibu saya,” ujar Naila.
Menurutnya dan keluarganya, menjadi peserta Program JKN segmen PPU sangat membantu untuk mengakses berbagai layanan kesehatan.
“Iurannya terjangkau dan bisa menanggung satu kartu keluarga. Lebih enak daripada harus bayar sendiri setiap kali berobat. Apalagi iurannya sudah dipotong dari gaji bapak, jadi nggak terasa berat,” katanya.
Di akhir ceritanya, Naila memberi pesan kepada teman-teman yang lainnya yang belum terdaftar Program JKN.
“Kalau belum punya JKN, mending segera daftar. Penting banget buat kesehatan kita dan keluarga. Selain itu, jaga pola makan, kurangi pedas berlebihan, dan rutin skrining riwayat kesehatan. Jangan menunggu sakit parah baru sadar pentingnya menjaga kesehatan tubuh,” tutupnya. (*)
Editor : Ali Mustofa