RADAR KUDUS – Presiden Prabowo Subianto akan meresmikan layanan Bank Emas pertama di Indonesia pada Rabu, 26 Februari 2025.
Acara peresmian dijadwalkan berlangsung di The Gade Tower, Jakarta Pusat, pukul 14.00 WIB.
Kehadiran Bank Emas ini menjadi tonggak penting dalam penguatan ekosistem industri emas di tanah air, sejalan dengan strategi hilirisasi yang dicanangkan dalam Asta Cita Kabinet Merah Putih.
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Yusuf Permana, menegaskan bahwa peresmian Bank Emas merupakan langkah besar dalam industri keuangan dan investasi nasional.
"Siang ini, Bapak Presiden Prabowo dijadwalkan meresmikan layanan Bank Emas. Ini merupakan inisiatif pertama di Indonesia," ungkap Yusuf.
Peran Strategis BRI dalam Ekosistem Bank Emas
Peresmian Bank Emas tidak bisa dilepaskan dari peran Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai induk Holding Ultra Mikro (UMi), yang menaungi Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM).
Holding UMi dibentuk pada 13 September 2021 dengan tujuan memberikan layanan keuangan yang lengkap dan terintegrasi bagi pelaku usaha mikro dan masyarakat luas.
Dengan sinergi ini, BRI berperan sebagai sumber pertumbuhan baru dalam sektor keuangan berbasis emas.
Holding UMi telah mengembangkan berbagai jaringan layanan, termasuk Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum), agen BRILink, serta tenaga pemasar mikro.
Dengan dukungan ini, Pegadaian, sebagai bagian dari holding, menjadi pionir dalam penyelenggaraan Bank Emas setelah memperoleh izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Persetujuan Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion PT Pegadaian dengan nomor surat S-325/PL.02/2024.
Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, mengungkapkan bahwa Pegadaian telah menanti izin ini selama dua tahun terakhir.
"Selama 123 tahun, Pegadaian terus berinovasi. Saat ini, kami mendominasi pasar gadai emas dengan transaksi senilai Rp 230 triliun hingga November 2024.
Kami juga mencatatkan saldo Tabungan Emas sebesar 10,3 ton," ujar Damar.
Bank Emas: Solusi Hilirisasi dan Kemandirian Ekonomi
Keberadaan Bank Emas menjadi solusi strategis dalam menekan arus keluar emas Indonesia ke luar negeri.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyoroti bahwa Indonesia belum memiliki lembaga keuangan khusus untuk menyimpan emas, sehingga emas hasil tambang nasional cenderung dijual ke luar negeri tanpa optimalisasi nilai tambah.
"Kita akan bentuk Bank Emas karena selama ini kita tidak punya bank khusus untuk emas. Banyak emas kita yang ditambang, tetapi malah mengalir ke luar negeri.
Dengan bank ini, kita bisa menyimpannya di dalam negeri," jelas Prabowo dalam konferensi pers di Istana Merdeka pada 17 Februari 2025.
Selain meningkatkan ketahanan ekonomi nasional, Bank Emas juga memberikan keuntungan bagi masyarakat.
Nasabah dapat menyimpan, menabung, serta mengelola emas mereka dalam berbagai bentuk layanan, seperti:
-
Perdagangan Emas
-
Deposito Emas
-
Pinjaman Modal Kerja Berbasis Emas
-
Jasa Titipan Emas untuk Korporasi
Dukungan dari Kementerian BUMN dan Arah Masa Depan
Menteri BUMN, Erick Thohir, sebelumnya menyatakan pentingnya membentuk Bank Emas sebagai bagian dari hilirisasi sumber daya alam.
"Jika kita memiliki Bullion Bank, masyarakat akan lebih mengenal konsep tabungan emas.
Pegadaian dan bank syariah bisa mendorong lebih banyak masyarakat menabung emas sebagai aset investasi," ujar Erick.
Dengan dukungan penuh dari BRI sebagai induk Holding UMi dan pemerintah, Bank Emas diharapkan menjadi pilar baru dalam industri keuangan nasional, membuka peluang investasi lebih luas, serta memperkuat daya saing Indonesia di sektor emas global.(*)
Editor : Mahendra Aditya