KUDUS – Aplikasi Mobile JKN merupakan inovasi dari BPJS Kesehatan sebagai opsi kanal layanan non tatap muka untuk membantu memudahkan Peserta JKN ketika hendak mengakses layanan di fasilitas kesehatan.
Salah satu Peserta JKN, Nuriza Chusna (40) yang berprofesi sebagai guru terdaftar Program JKN sejak tahun 2014 pada segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) mengaku sudah sering memanfaatkan Program JKN untuk berobat di fasilitas kesehatan mulai berkeinginan untuk memanfaatkan Aplikasi Mobile JKN.
“Saya sudah lama terdaftar BPJS Kesehatan, menurut saya dengan adanya Program JKN ini sangat membantu bagi keluarga saya, termasuk untuk saya sendiri yang menderita alergi udara dingin,” ujar Chusna.
Chusna yang beralamat di Desa Karang Ampel rutin melakukan kontrol di Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus karena penyakit alergi udara yang menyebabkan kulitnya gatal-gatal.
Ia yang dari kecil memang sudah alergi udara awalnya berobat dulu di FKTP sebelum akhirnya di rujuk ke rumah sakit.
“Awalnya memang saya berobat dulu di Klinik Masyithoh Kudus, tapi karena belum ada perubahan, maka dokter memberikan rujukan ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di rumah sakit setiap dua minggu sekali dan rata-rata pasien yang berobat disini sudah mendaftar secara online lewat Aplikasi Mobile JKN,” kata Chusna.
Hal tersebut yang membuat Ibu dua anak itu memutuskan untuk datang ke Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kudus karena akun Aplikasi Mobile JKN-nya bermasalah untuk masuk.
Dirinya sudah pernah mendaftar sebelumnya, tapi karena kapasitas HP-nya penuh, maka ia menghapus aplikasi tersebut.
Sering kali kontrol di rumah sakit, dirinya tersadar bahwa Aplikasi tersebut sangat penting dan bermanfaat, khususnya fitur antrean online.
“Saya sudah lama ingin menggunakan antrean online, tapi karena sudah beberapa kali mencoba dan gagal masuk aplikasinya, akhirnya saya memutuskan ke Kantor BPJS Kesehatan saja, tadi dibantu satpam langsung bisa. Saya kira harus antre seharian ternyata tidak ada lima menit aplikasi saya bisa di buka lagi,” ujar Chusna.
Meskipun dari pihak rumah sakit sudah mendaftarkan secara online, sesampainya di rumah sakit, Peserta hanya tinggal check in dengan cara meng-scan barcode untuk mencetak antrean pengecekan tensi.
Selain itu, pada fitur ini disediakan informasi jumlah pasien yang sudah dilayani, sehingga peserta dapat mengira-ngira jam berapa harus ke rumah sakit tanpa menunggu lama.
Selain dirinya yang mengakses layanan kesehatan, anaknya yang masih SD juga rutin melakukan pemeriksaan mata minus dan juga klaim alat bantu kacamata.
“Awalnya anak saya di cek dulu di Dokter Spesialisa Mata di Rumah Sakit Mardi Rahayu, setelah itu dari Dokter memberikan resep untuk kacamata. Setiap dua tahun sekali saya klaimkan resepnya di Optik yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Tapi kalau sebelum waktunya itu ya saya beli sendiri, yang penting sudah difasilitasi pemeriksaan mata di rumah sakit, karena takutnya kalau mengecek di Optik kurang akurat,” jelas Chusna.
Selain pengecekan mata dan klaim kacamata, anak Chusna juga pernah menderita mata ikan dan diperiksa serta dilakukan tindakan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
“Anak saya itu juga pernah di operasi di Klinik Masyithoh, karena memang kalau di situ bisa menangani maka ditangani di situ, kalau tidak bisa ya pasti di rujuk ke rumah sakit,” tambah Chusna paham.
Di akhir, Chusna menyampaikan rasa bersyukurnya dengan adanya Program JKN yang membantu keluarganya yang mengakses layanan kesehatan.
“Jika gak ada BPJS Kesehatan mungkin akan menghabiskan banyak dana. Untungnya sakit saya dan keluarga masih tergolong ringan. Saya rela rutin membayar iuran tiap bulannya untuk membantu Peserta lain yang memang membutuhkan pelayanan kesehatan. Uang iuran tiap bulannya juga tidak memberatkan dan jelas penyalurannya untuk membantu yang sakit,” ujar Chusna. (*)
Editor : Ali Mustofa