Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Greenflation Tantangan Indonesia di Masa Depan

Abdul Rokhim • Rabu, 13 Maret 2024 | 20:39 WIB
Illustrasi Greenflation.
Illustrasi Greenflation.

SEMARANG - Ketika dunia berupaya menuju masa depan yang lebih hijau, tren ekonomi yang tidak terduga pun muncul inflasi hijau.

Istilah ini mengacu pada fenomena dimana harga barang dan jasa berkelanjutan melebihi biaya barang dan jasa tradisional.

Mulai dari kendaraan listrik hingga produk organik, sehingga konsumen dapat melihat kenaikan harga yang terus-menerus disebabkan oleh kesadaran lingkungan.

Salah satu pendorong signifikan inflasi hijau adalah meningkatnya permintaan akan produk-produk ramah lingkungan.

Hal ini di dukung pernyataan dosen ekonomi pembangunan unnes yang menyatakan bahwa “Isu greenflation terjadi akibat kenaikan harga barang-barang ramah lingkungan, yang realitanya hal ini sudah mulai terjadi pada harga plastik berbahan dasar mudah terurai oleh bumi lebih mahal daripada plastik biasa” jelas Amelia Choya.

Selain itu, perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah yang bertujuan memerangi perubahan iklim berkontribusi terhadap inflasi hijau.

Standar emisi yang lebih ketat, pajak karbon, dan subsidi energi terbarukan mendorong dunia usaha untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan.

Namun, kepatuhan terhadap peraturan tersebut dapat menyebabkan peningkatan biaya produksi yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Lebih lanjut hal ini juga disampaikan Amelia pada wawancaranya yang menyampaikan bahwa “Tantangan greenflation ini jelas ada di depan mata kita, yaitu bagaimana cara kita meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mau ikut andil dalam pengelolaan lingkungan dan penggunaan barang-barang ramah lingkungan serta peran pihak-pihak terkait dalam memberikan contoh pola hidup berkelanjutan ke masyarakat.”

Tak sampai di situ, Amelia juga menegaskan bahwa “Greenflation ini sudah menjadi tuntutan zaman yang mau tidak mau negara harus menyesuaikan dan menjaga kehidupan yang layak untuk anak cucu kita nantinya."

Ketika kesadaran terhadap masalah lingkungan meningkat, keinginan untuk mengurangi jejak karbon pun meningkat.

Akibatnya, perusahaan lebih banyak berinvestasi pada praktik berkelanjutan, seperti penggunaan bahan daur ulang atau penerapan sumber energi terbarukan. Meskipun upaya ini patut dipuji, namun sering kali biayanya lebih mahal, yang mencerminkan biaya tambahan dari metode produksi yang ramah lingkungan.

Terlepas dari tantangan yang ditimbulkan oleh inflasi hijau, investasi pada keberlanjutan tetap penting bagi masa depan bumi.

Pemerintah, dunia usaha, dan konsumen harus bekerja sama untuk menemukan solusi yang menjadikan alternatif ramah lingkungan lebih mudah diakses dan terjangkau.

Hal ini dapat mencakup pemberian insentif terhadap inovasi ramah lingkungan, peningkatan infrastruktur daur ulang dan energi terbarukan, serta pengembangan kerja sama internasional untuk mengatasi masalah rantai pasokan.

Kesimpulannya, meskipun inflasi hijau menghadirkan tantangan ekonomi, hal ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan keberlanjutan.

Dengan mengenali faktor-faktor yang mendorong fenomena ini dan mengambil tindakan bersama untuk mengatasinya, kita dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih adil dan sadar lingkungan. 

*Artikel ini ditulis oleh Agil Bima Ardiansyah, Lutfia Tsalisati, dan Yanuar Zerina N.I Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang.

Editor : Abdul Rokhim
#Inflasi hijau #Tren ekonomi #ekonomi hijau #Unnes #Greenflation