RADAR KUDUS - ADA keresahan yang tidak selalu hadir dalam bentuk keluhan.
Ia bisa muncul dari percakapan guru, kegelisahan kepala sekolah, atau pertanyaan sederhana: bagaimana agar anak-anak Grobogan lebih siap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), sekaligus memiliki kemampuan belajar yang semakin kuat?
Keresahan itu perlu didengar, dan ketika keresahan pendidikan didengar, tugas berikutnya adalah bergerak.
Itulah yang kini terlihat dalam 'Gerak TKA 2027 Kabupaten Grobogan.'
Atas arahan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan, kesiapan TKA tidak dibiarkan menjadi pekerjaan masing-masing sekolah.
Kekuatan yang tersedia digerakkan dalam kerja bersama.
PMPTK menjadi mesin penggerak. Tim pengembang aplikasi mulai bekerja, tim penyusun dan penelaah soal dihimpun, sementara Bidang SD dan SMP mengawal sesuai karakteristik jenjang.
Kasi Kurikulum SD dan SMP menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam perspektif kurikulum, pembelajaran, dan asesmen.
Guru pun dilibatkan, bukan sekadar sebagai pengguna, tetapi sebagai sumber pengetahuan untuk membangun bank soal.
Tim yang Dipilih, Bukan Sekadar Dikumpulkan
Kekuatan Gerak TKA 2027 juga terletak pada bagaimana tim pengembang dibentuk.
Tim tidak sekadar diisi oleh guru yang dianggap cakap secara akademik, tetapi melalui pertimbangan kompetensi profesional, portofolio, prestasi, dan karakter secara komprehensif.
Guru-guru pilihan yang masuk dalam jajaran pengembang tidak hanya dituntut menguasai bidangnya, tetapi juga memiliki karakter kolaboratif dan kemampuan sosial yang kuat.
Sebab, gerakan sebesar ini tidak cukup dibangun oleh individu-individu hebat.
Ia membutuhkan teamwork yang solid, saling percaya, dan mampu bekerja dalam satu arah.
Di sisi lain, ruang kontribusi dibuka lebih luas melalui guru kontributor dari seluruh SD dan SMP di Kabupaten Grobogan. Guru dapat mengirimkan soal melalui website Gerak TKA.
Setiap kontribusi kemudian melalui proses validasi oleh Tim Verifikasi 1 dan Tim Verifikasi 2, sehingga soal yang masuk tidak berhenti sebagai kumpulan soal, tetapi benar-benar melalui proses penjaminan reliabilitas dan mutu.
Soal yang telah memenuhi standar selanjutnya ditangkap oleh sistem dan dihimpun menjadi bank soal dalam bentuk paket-paket siap uji.
Paket tersebut dapat dimanfaatkan peserta didik sebagai sarana latihan sekaligus referensi belajar yang berkualitas.
Di sinilah teknologi menemukan maknanya. Sistem menjadi pengelola, tetapi kualitas tetap berangkat dari kompetensi dan pengalaman guru.
Menyatukan Kekuatan yang Terpisah
Sebagai pengawas yang berinteraksi dengan sekolah dan guru, saya melihat tantangan pendidikan semakin kompleks.
Guru membutuhkan dukungan konkret, sekolah membutuhkan instrumen yang dapat digunakan, data membutuhkan tindak lanjut, dan teknologi harus hadir sebagai alat yang benar-benar membantu pembelajaran. Gerak TKA mencoba mempertemukan kebutuhan tersebut.
PMPTK menggerakkan, Bidang SD dan SMP mengawal substansi jenjang, Kasi Kurikulum menjaga keterkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran dengan mewujudkan secara apik. Bersama tim teknis untuk menerjemahkannya ke dalam aplikasi PINTAR TKA, sementara guru menghadirkan pengalaman nyata dari ruang kelas.
Kolaborasi menjadi kunci. Aplikasi yang baik membutuhkan pemahaman terhadap penggunanya.
Bank soal yang baik membutuhkan pemahaman terhadap peserta didik. Kebijakan yang baik membutuhkan pengalaman dari lapangan.
Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Gerak TKA jangan berhenti sebagai gerakan mengejar nilai. Capaian TKA memang penting, tetapi angka seharusnya menjadi pintu untuk melakukan refleksi: apa yang sudah dikuasai anak, apa yang masih menjadi kesulitan, dan apa yang harus diperbaiki dalam pembelajaran?
Dengan cara pandang tersebut, TKA tidak sekadar menjadi ujian, tetapi bagian dari budaya refleksi dan perbaikan pembelajaran.
Literasi, misalnya, tidak cukup disiapkan melalui latihan menjawab soal. Anak perlu memiliki pengalaman membaca, memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi.
Begitu pula numerasi. Anak tidak hanya membutuhkan kemampuan berhitung, tetapi pengalaman menggunakan pengetahuan matematika untuk memahami persoalan kehidupan.
Ketika TKA menuntut kemampuan berpikir, pembelajaran pun harus memberi ruang bagi anak untuk berpikir.
Kepemimpinan yang Mau Mendengar
Yang menarik dari Gerak TKA bukan hanya hasil teknologinya, tetapi proses yang melahirkannya.
Instruksi pimpinan akan tetap menjadi instruksi apabila tidak diterjemahkan menjadi kerja.
Sebaliknya, ketika pimpinan memberi arah, perangkat organisasi bergerak, bidang-bidang berkolaborasi, dan guru diberi ruang untuk berkontribusi, instruksi dapat berubah menjadi gerakan.
Dalam konteks ini, Kepala Dinas Pendidikan menjadi titik awal arah kebijakan. PMPTK menjadi mesin penggerak. Bidang SD dan SMP menghubungkan gerakan dengan kebutuhan jenjang.
Kasi Kurikulum SD dan SMP menjaga agar pengembangan tetap berpijak pada persoalan pembelajaran.
Tidak ada yang bekerja sendirian. Sengkuyung bareng. Memang demikian seharusnya gerakan pendidikan dibangun.
Dari Grobogan, Menjaga Harapan
Mutu pendidikan tidak meningkat dalam satu program. Ia tumbuh dari kebiasaan membaca data, memperbaiki pembelajaran, belajar dari pengalaman, dan bekerja bersama.
Karena itu, capaian TKA yang meningkat layak menjadi salah satu ukuran keberhasilan. Namun jauh di balik angka tersebut terdapat tujuan yang lebih besar: anak-anak yang semakin mampu membaca, bernalar, memecahkan masalah, dan belajar dengan lebih baik.
Gerak TKA 2027 pada akhirnya bukan hanya tentang aplikasi. Bukan hanya tentang bank soal. Bukan pula hanya tentang TKA.
Ia adalah tentang bagaimana Grobogan merespons keresahan pendidikan dengan kerja bersama: pimpinan memberi arah, birokrasi menggerakkan, bidang dan pengelola kurikulum mengawal, tim profesional bekerja, dan guru dari seluruh wilayah diberi ruang untuk berbagi pengetahuan.
Mutu pendidikan tidak dibangun oleh satu orang yang bekerja paling keras. Mutu pendidikan dibangun oleh banyak orang yang bergerak ke arah yang sama.
Mendengar keresahan, menguatkan kolaborasi. menjaga mutu, memperbaiki pembelajaran, terus bergerak untuk pendidikan Grobogan yang lebih baik.(*)
Editor : Mahendra Aditya