RADAR KUDUS - Jumat lalu, 6 Februari 2026, saya diminta memberikan sambutan pada sebuah buku.
Sudah ada kata pengantar penulis dan sambutan Bupati Blora Dr Arief Rohman SIp Msi. Saya menjadi pelengkap.
Buku setebal 122 halaman itu siap terbit. Sudah selesai 100 persen. Penulisnya sedang mengurus ISBN (International Standard Book Number). Yaitu kode unik pengidentifikasian buku yang terdiri atas 13 angka.
Setelah saya baca, isinya kumpulan tulisan di media massa. Termasuk diantaranya Jawa Pos Radar Kudus.
Tentu sudah tersaring oleh redaktur media itu. Saya tidak meragukan isinya.
Saya kenal penulisnya. Namanya Mahbub Junaidi. Seorang aparatur sipil negara (ASN).
Sampai sekarang masih aktif di lingkungan pemerintah Kabupaten Blora. Jabatannya Kepala Bapperinda (Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah).
Dalam benak saya terbesit, pada zaman seperti ini masih ada ASN yang mencintai media massa cetak. Bukan sekedar sebagai pembaca. Tetapi sekaligus sebagai penulis.
Materi tulisannya adalah pengalaman, pengamatan, serta olah pikir menghadapi persoalan di lingkungannya.
Kebetulan hari ini, 9 Februari 2026 adalah Hari Pers Nasional (HPN). Bapak Pers Indonesia Tirto Adhi Soerjo (Raden Mas Djokomono) berasal dari Blora, sedaerah dengan Mahbub Junaidi.
Ketika diminta untuk memberikan sambutan segera saya sanggupi. Tidak lain untuk memberi semangat.
Juga sekaligus menjadi bukti bahwa masih ada orang yang mencintai pers, menggeluti jurnalistik.
Kesimpulan saya, selama masih ada orang yang mencintai pers, maka pers itu akan tetap hidup.
Banyak orang yang tidak lagi percaya pada kesimpulan itu. Buktinya banyak pengusaha pers yang beralih ke bisnis lain.
Mereka menutup penerbitannya. Ada yang beralih ke online, reinkarnasi dari pers. Ada pula yang bermanuver ke bidang lain.
Bersamaan dengan itu banyak pekerja di bidang pers yang protol. Mereka harus rela beralih ke pekerjaan di luar pers meskipun sempat kesulitan.
Profesi wartawan yang dulu menjadi idaman kini tak lagi dilirik orang. Yang masih ada pun barangkali tak lagi bangga dengan profesi yang disandangnya.
Bahwa dunia pers sudah berubah itu tak bisa dipungkiri. Sejalan dengan menjamurnya media online, media massa cetak menyusut sampai titik terendah.
Media sosial yang didukung oleh berkembangnya teknologi digital menjadi biang kerok. Seiring dengan itu pula minat baca menurun drastis.
Medsos kini menjadi raja. Televisi yang berbasis teknologi elektronik pun ikut kelimpungan.
Apakah koran dan televisi akan benar-benar hilang dari peredaran. Wallahu alam.
Zaman yang akan menjawabnya. Tetapi mengacu pada pengalaman ketika radio terdesak telvisi ternyata sampai sekarang juga masih hidup. Bahkan radio sedikit demi sedikit mendapatkan jalan barunya.
Bisa jadi, pers juga tidak akan benar-benar mati (baca hilang). Suatu saat juga akan menemukan jalannya lagi.
Pers adalah karya seni. Ada keunikan tersendiri. Ada kenikmatan yang tak tergantikan.
Ada rasa yang ngangeni (membikin kangen). Semakin lama semakin bernilai.
Bahkan menjadi heritage. Tentu kalau karya seni itu tetap terjaga kualitasnya.
Banyak pers yang mati karena ulah sendiri. Mereka terlalu ketakutan. Takut teror media sosial.
Khawatir ketinggalan zaman. Takut mati sebelum benar-benar nafasnya berhenti.
Pers pun beramai-ramai menyeberang ke media online. Bahkan ikut-ikutan membaur ke media sosial. Pers bereinkarnasi yang tidak pada tempatnya. Akhirnya media onlie, televisi, dan radio minta disebut pers. Padahal sejatinya pers adalah media cetak.
Pers akan tetap hidup manakala bisa mempertahankan jati dirinya. Yaitu media yang di-create dengan rasa dan olah pikir.
Sejatinya pers memiliki standar jurnalistik yang tinggi. Tidak sekedar memuat 5W+1H (what, who, when, where, dan how).
Tetapi ditulis dengan susunan kata dan kalimat yang membuat pembacanya merasa keenakan. Itulah yang sekarang hilang.
Untuk tetap hidup, tidak ada jalan lain kecuali pers kembali kepada khittah. Menjaga marwah jurnalistik.
Tidak sekedar memberi informasi tetapi menjadi kontrol sosial, mengedukasi, dan menghibur. Pembuatannya melibatkan olah pikir dan daya seni tinggi.
Itulah yang kini diusahakan oleh media cetak di lingkungan Jawa Pos, termasuk Radar Kudus dan Radar Semarang.
Tentu harus didukung dengan upaya mendongkrak minat baca, khususnya di lingkungan pendidikan dan pemerintahan.
Selamat Hari Pers Nasional. Semoga tetap eksis.
Editor : Mahendra Aditya