Oleh: Mamdukh Budiman, (Mamdukh Budiman, PhD Cand. Studi Pemikiran Islam dan Peradaban Universiti Muhammadiyah Malaysia/Dosen Studi Islam UNIMUS)
Setiap kali musim penghujan tiba, warga Jawa Tengah seperti dipaksa mengulang cerita lama yang tak kunjung tamat: banjir datang, air meluap ke pemukiman, rumah terendam, dan aktivitas masyarakat terhenti. Kita menyebutnya musibah, padahal banjir hari ini lebih tepat disebut sebagai “tagihan” alam atas kelalaian kita selama ini. Langit kerap disalahkan, tetapi tangan manusialah yang saban hari merusak tatanan bumi.
Banjir tidak pernah lahir dari hujan semata. Ia merupakan akumulasi dari ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan. Ketika area resapan berubah menjadi hamparan beton, ketika hutan ditebang seolah tanpa dosa, ketika sungai dijadikan tempat pembuangan sampah sepanjang tahun—bagaimana mungkin air tidak memantul kembali dan menggulung kota? Hujan hanyalah pemicu; manusialah penyebab utamanya.
Ayat Tuhan telah mengingatkan hal ini sejak lama:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm [30]: 41)
Peringatan ini bukan sekadar pesan spiritual, tetapi pernyataan ekologis yang sangat relevan dengan kondisi Jawa Tengah hari ini. Alam tidak berubah karena ingin marah; ia hanya merespons tindakan manusia. Alam tidak pernah melampaui batas—kitalah yang melampauinya.
Dalam ajaran Islam, manusia diberi mandat sebagai khalifah—penjaga dan pemelihara bumi, bukan penguasa yang bebas bertindak semaunya. Namun dalam praktik sehari-hari, manusia kerap tampil layaknya penjajah alam: menaklukkan bukit demi properti, menyempitkan sungai demi proyek, meratakan hutan demi keuntungan jangka pendek. Ketika banjir terjadi, semua tiba-tiba terkejut, padahal manusialah yang menata panggung bencananya.
Spirit kemajuan dalam Islam bukan semata diukur dari tingginya teknologi atau megahnya pembangunan fisik. Kemajuan sejati adalah kemampuan menjaga harmoni kosmik: menyeimbangkan antara kemanfaatan dan keberlanjutan. Modernitas yang mengorbankan alam justru bukan kemajuan, melainkan kemunduran yang dibungkus beton.
Sayangnya, sebagian dari kita masih melempar sampah ke sungai sambil berkata, “Cuma sedikit.” Kita lupa bahwa banjir besar lahir dari jutaan “cuma sedikit” yang dibuang setiap hari. Ada yang merasa berhak menebang pohon tanpa menanam kembali, seolah bumi tidak memiliki hak untuk menagih. Ketika tanah longsor menimpa pemukiman, mereka kembali berseru meminta pertolongan.
Ada pula yang menutup aliran sungai kecil demi akses pembangunan, seakan-akan sungai tidak berhak tetap bernapas. Ketika genangan muncul, yang disalahkan adalah pemerintah, padahal mereka sendiri ikut menyumbat nadi alam.
Komunitas keagamaan, organisasi sosial, dan lembaga pendidikan sebenarnya memiliki posisi moral yang sangat strategis untuk mengubah kesadaran ekologis masyarakat. Melalui pendidikan, dakwah sosial, dan keteladanan, mereka dapat menjadi motor etika lingkungan. Islam sendiri kaya dengan prinsip-prinsip ekologis: penghormatan terhadap alam, larangan merusak, dan perintah menjaga keberlanjutan kehidupan.
Namun pesan-pesan luhur ini sering kalah oleh gaya hidup abai yang kita anggap “biasa.” Kita mudah mengumpulkan massa untuk konser, tetapi sulit menggerakkan sepuluh orang untuk menanam pohon. Kita bangga menambah bangunan baru, tetapi jarang merawat ruang hijau yang tersisa. Kita sibuk berbicara tentang visi besar, tetapi gagal membuang sampah pada tempatnya.
Banjir bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah cermin moralitas manusia yang mulai pudar. Kota yang sibuk membangun gedung namun menelantarkan pepohonan sedang menyiapkan kehancurannya sendiri. Masyarakat yang membiarkan sungainya mati pelan-pelan sedang menandatangani nasib buruknya sendiri.
Kini saatnya berhenti menyalahkan hujan. Kita harus bercermin: apa yang telah kita lakukan terhadap bumi? Setiap pohon yang ditebang, setiap sungai yang disempitkan, setiap sampah yang dibuang sembarangan—semuanya adalah undangan bagi bencana.
Islam mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah. Merusak alam adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Tuhan. Karena itu, jika kita benar-benar ingin menempuh jalan kemajuan, langkah pertama adalah berdamai dengan alam, bukan menantangnya.
Jika manusia ingin bumi memihaknya, maka manusia harus terlebih dahulu memihak kepada bumi. Sebab bumi tidak membutuhkan manusia untuk tetap hidup—tetapi manusia sangat bergantung pada bumi untuk bertahan. (*)
Editor : Zainal Abidin RK