RADAR KUDUS - Nama Sengkuni selama ini lekat dengan citra licik, penuh tipu daya, dan simbol kejahatan dalam kisah Mahabharata.
Tapi Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) mengajak publik melihatnya dari sudut pandang lain — bahwa di balik setiap tindakan jahat, selalu ada luka yang membentuknya.
Dalam salah satu refleksinya, Mbah Nun pernah menyinggung: “Memangnya penderitaanmu sebesar Sengkuni, sampai bisa sejahat itu?”
Kalimat keras itu bukan untuk membenarkan kejahatan, melainkan untuk mengajak para pemimpin dan rakyat memahami akar perilaku manusia. Karena tanpa memahami sebab, kita hanya menghukum tanpa belajar.
Sengkuni: Dari Saudara Seratus, Jadi Satu yang Tersisa
Kisah Sengkuni bermula dari kerajaan Gandhara, tanah kelahiran Gandari — perempuan yang kemudian menjadi istri Raja Dretarastra dari Hastinapura. Gandari memiliki 99 saudara laki-laki, dan Sengkuni adalah salah satunya.
Suatu hari, kerajaan Kuru (Hastinapura) melamar Gandari untuk menikah dengan sang raja yang buta. Namun, pernikahan ini membawa aib dan penghinaan bagi keluarga Gandari.
Mereka merasa diperlakukan tak hormat karena perjodohan dilakukan lewat tipu muslihat yang merendahkan martabat keluarga Gandhara.
Akibatnya, ayah Gandari murka dan menghukum seluruh anggota keluarga dengan cara kejam: mereka dikurung dalam ruangan sempit tanpa makanan cukup — hanya satu butir beras per orang per hari.
Luka yang Tak Terlupakan: Hidup dari Daging Saudara Sendiri
Dalam situasi putus asa itu, satu keputusan gila diambil. Ayah mereka berkata:
“Lebih baik satu yang hidup daripada semua mati.”
Lalu seluruh jatah beras keluarga diberikan kepada Sengkuni, anak yang dianggap paling cerdas dan licik.
Namun seiring waktu, para saudaranya tewas kelaparan satu per satu — dan menurut beberapa versi Mahabharata — Sengkuni dipaksa memakan daging saudaranya sendiri demi bertahan hidup.
Bayangkan trauma dan kebencian yang tertanam dari pengalaman itu. Sebelum meninggal, sang ayah berpesan:
“Balaslah penderitaan ini. Hancurkan keluarga Kuru yang telah mempermalukan kita.”
Untuk mengingat luka itu, ayahnya memukul kaki Sengkuni hingga pincang seumur hidup — simbol beban dendam yang harus ia bawa.
Tulang paha sang ayah bahkan diubah menjadi dadu mistis yang selalu berpihak pada Sengkuni, senjata yang kelak menghancurkan Pandawa.
Dari Luka Jadi Dendam, Dari Dendam Jadi Kejahatan
Setelah tragedi itu, Sengkuni dibawa ke Hastinapura sebagai paman dan penasihat istana bagi para Kurawa.
Di situlah wajah jahatnya mulai dikenal dunia. Ia menabur siasat, memprovokasi perang, dan menipu Pandawa lewat permainan dadu.
Namun, jika ditelusuri ke belakang, semua kelicikan itu tak lahir dari ruang kosong. Ia adalah produk dari luka masa lalu, korban yang berubah jadi pelaku.
Mbah Nun menyoroti hal ini bukan untuk memutihkan dosa Sengkuni, tapi untuk menegaskan bahwa setiap kejahatan pasti punya konteks dan alasan.
“Orang tidak tiba-tiba menjadi jahat,” kata Mbah Nun. “Ada penderitaan, ada trauma, ada sejarah yang membentuknya.”
Sentilan untuk Para Pemimpin: “Pernahkah Kau Menderita Sebesar Itu?”
Dalam konteks sosial-politik hari ini, Mbah Nun mengaitkan kisah Sengkuni dengan perilaku para elite yang sering mengorbankan rakyat demi kekuasaan.
Melalui kisah itu, beliau seolah berkata:
“Wahai para wakil rakyat, sejahat apa pun tindakanmu terhadap bangsa ini, apakah penderitaanmu pernah sebesar Sengkuni? Jika tidak, maka kejahatanmu murni karena nafsu.”
Kalimat itu mengguncang — karena ia bukan sekadar kritik, melainkan cermin moral. Sengkuni punya alasan kelam untuk jahat, tapi banyak pemimpin hari ini melakukan keburukan tanpa sebab yang pantas.
Mereka bukan korban sejarah, melainkan pelaku keserakahan yang sadar dan terencana.
Dari Husnudzon ke Hikmah: Memahami Bukan Berarti Membenarkan
Mbah Nun menekankan pentingnya husnudzon — berprasangka baik — bahkan kepada orang jahat.
Tapi bukan berarti menutup mata terhadap keburukan.
Memahami seseorang bukan untuk membenarkan perbuatannya, melainkan untuk memahami akar masalah manusia.
Ketika kita tahu latar belakang Sengkuni, kita bisa berkata:
“Ya, aku mengerti kenapa dia seperti itu.”
Namun kita tetap sadar bahwa tindakannya salah.
Kita belajar bahwa memahami bukan berarti memaafkan, tapi menjadi dasar agar kita tidak mengulangi siklus kebencian yang sama.
Antara Trauma dan Tanggung Jawab: Pelajaran untuk Zaman Kini
Dari kisah ini, muncul refleksi mendalam bagi zaman modern.
Berapa banyak dari kita yang menghukum tanpa tahu sebab?
Berapa banyak pemimpin yang memutuskan tanpa empati, tapi ingin dimengerti oleh rakyatnya?
Sengkuni adalah simbol dari trauma yang tak terselesaikan, dan dalam dunia nyata, trauma sosial bisa melahirkan kekacauan politik dan moral.
Seseorang yang pernah ditindas, jika tak memulihkan luka batinnya, bisa menjadi penindas baru.
Dan bangsa yang tak belajar dari penderitaan masa lalu, akan terus melahirkan “Sengkuni-Sengkuni” baru — yang bersembunyi di balik jabatan dan kekuasaan.
Tidak Ada Tokoh yang Sempurna: Pelajaran dari Mahabharata
Mahabharata mengajarkan bahwa tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau jahat.
Pandawa yang dikenal bijak pun punya dosa.
Yudistira, misalnya, kalah karena kecanduan judi — kelemahan manusiawi yang berakibat fatal.
Bahkan Kresna, titisan dewa, pernah melakukan tipu daya demi kebaikan yang lebih besar.
Artinya, kebenaran dan kejahatan bukan warna hitam-putih. Ia selalu datang dalam gradasi abu-abu — tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Inilah mengapa Mbah Nun selalu menolak untuk menilai seseorang dari satu peristiwa saja.
Membaca Mbah Nun: Bukan Marah, Tapi Menyadarkan
Kata-kata Mbah Nun yang terdengar keras bukan luapan emosi, tapi bentuk keputusasaan spiritual.
Ketika beliau bertanya:
“Kamu pernah menderita apa sampai tega begitu kepada rakyat?”
Itu adalah seruan untuk menyadarkan hati nurani, bukan sekadar menyalahkan.
Sebab kejahatan tanpa sebab adalah bentuk kesombongan tertinggi manusia — ketika seseorang merasa berhak menyakiti tanpa alasan selain keinginan pribadi.
Dari Daging Saudara ke Rakyat Sendiri: Cermin yang Menyakitkan
Jika Sengkuni dipaksa memakan saudaranya demi bertahan hidup, hari ini kita menyaksikan sebagian pemimpin “memakan” rakyatnya sendiri — bukan secara harfiah, tapi lewat kebijakan yang menindas dan korupsi yang menguras hak publik.
Mbah Nun seolah ingin berkata:
“Kalau Sengkuni punya trauma, lalu kamu apa? Apa alasanmu merampas kesejahteraan rakyat?”
Pertanyaan itu menggema di ruang batin setiap orang yang masih memiliki nurani.
Antara Dendam, Maaf, dan Kesadaran
Kisah Sengkuni bukan sekadar legenda. Ia adalah cermin abadi tentang manusia — tentang bagaimana penderitaan bisa melahirkan keburukan, dan keburukan bisa diwariskan jika tidak disadari.
Pesan Mbah Nun sederhana namun menggigit:
Jika engkau berbuat jahat tanpa sebab penderitaan, mungkin engkau sedang menabung penderitaan untuk masa depanmu.
Karena sejarah, sebagaimana Mahabharata mengajarkan, selalu berputar. Yang menindas hari ini, suatu saat akan ditindas oleh zaman. Dan satu-satunya cara memutus siklus itu adalah dengan memahami, memaafkan, dan memperbaiki diri — sebelum dunia kembali melahirkan Sengkuni-Sengkuni baru dalam wujud yang berbeda.
Editor : Mahendra Aditya